Kepingan [17]

352 33 6
                                        

Sudah memasuki hari ketiga, cuaca dibuat tak menentu dengan datangnya hujan secara tiba-tiba. Entah kapan itu, kiranya setiap orang harus bersiap jika air langit turun membasahi tanah bumi. Seperti hari ini, siang tadi matahari terlihat gagah menetap tepat di atas kepala namun tak lama kemudian awan abu-abu kembali muncul menutupi.

Muriel baru saja menyelesaikan rapat osis-nya dan kini berkali-kali remaja itu menatap langit yang terlihat gelap sembari menghembuskan nafas sebab orang yang ia tunggu tak kunjung datang.

Astaga, Kemana pula si sulung Raja sekarang ini? Tadi pagi Iel diantar oleh Aray dan kakaknya itu bilang akan menjemput kembali nanti sore, tapi apa sekarang. Bahkan rintik hujan sudah mulai berjatuhan.

Disaat yang dibutuhkan, Danes juga menghilang tidak tau kemana. Hari ini Iel belum melihat presensi kakak nya itu di sekolah. Inginnya Iel mengubungi Danes karena Aray tak kunjung datang, namun sialnya baterai ponsel Iel juga habis.

Sudah sore, terjebak hujan di sekolah, ditambah ponselnya mati, Iel merutuki dirinya yang sial hari ini. Remaja itu melirik jam tangan yang melingkar di lengannya. Sudah hampir pukul lima sore. Iel ingat jika hari ini ada jadwal basket Danes.

Maka sekarang Iel memilih duduk di kursi yang disediakan di ujung ruangan lobi. Berharap penuh Danes tidak membolos ekskul basketnya. Demi tuhan, ini satu-satunya harapan Iel selain nekat menerobos hujan dan pulang menggunakan bus.

Sebelas menit berlalu, Iel masih belum melihat batang hidung Danes. Padahal jelas-jelas baru saja segerombolan kawan basket Danes melewati dan menyapa Iel. Sejujurnya Iel ingin bertanya pada mereka, tapi malu sebab mereka itu anak SMA jadi Iel sedikit ciut melihat badan-badan kekar dan wajah yang lebih dewasa daripadanya.

Iel kembali menghembuskan nafas gusarnya, tidak ada pilihan lain. Iel harus menerobos hujan sebelum malam lebih dulu tiba. Remaja itu bangkit dari duduknya, bersiap akan lari menuju halte bus di depan sekolah.

Tapi, kala kaki kanan remaja itu sudah sepenuhnya melangkah terkena tetesan hujan. Pandangan matanya tak sengaja menemukan presensi Danes yang berlari menuju motornya dari pintu belakang dekat kantin. Iel mengurungkan kembali langkahnya dan memilih memanggili kakaknya itu.

Berkali-kali diteriaki namun Danes tak kunjung menoleh. Remaja itu justru terlihat terburu-buru membuka bagasi motor dan memakai jas hujan serta helm kesayangan. Mungkin faktor hujan jadi Danes tidak bisa mendengar suara Iel yang teredam rintikan hujan.

Tapi bahkan Iel sudah melambaikan tangan sambil melompat-lompat agar kakaknya itu sadar. Ketika Danes sudah menaiki motor, menyalakan mesinnya dan bergerak akan meninggalkan parkiran. Iel memutuskan untuk mengambil langkah menghentikan laju motor Danes saat sampai di depan lobi.

Motor Danes hampir sampai melewati lobi, Iel dengan cepat melangkah keluar dari bangunan yang memayunginya dari hujan, namun langkan Iel kalah cepat dengan seseorang yang lebih dulu berdiri di hadapannya. Total membuat tubuh Iel yang lebih kecil dari orang itu tertutup hingga Danes tak sadar melewatinya.

Iel mendongak, menatap wajah orang didepannya itu. Terlihat ada bekas luka gores di sudut pelipisnya. Bohong jika Iel bilang ia tidak mengenal remaja laki-laki didepannya ini. Karena sungguh, Iel bahkan sulit menelan salivanya sebab merasa terintimidasi oleh tatapan keji dan senyum remeh milik remaja tersebut.

Kaki Iel memilih bergerak mundur dan dengan cepat tubuhnya berbalik, namun orang dihadapannya lebih dulu menangkap tas Iel sehingga anak itu ikut tertarik dengan keras dan tersungkur ke atas aspal penuh genangan.

OBLIVIONTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang