Kepingan [21]

311 28 15
                                        

Pintu putih berukuran besar itu terbuka, memunculkan kehadiran Haidar dari balik sana. Tangannya beralih membuka sepatu hitam lalu menarik dasinya lepas. Suara dentingan piring terdengar, langkahnya menghampiri dapur yang memiliki rupa design Eropa. Ada Hauri disana, si wanita cantik dan penuh kasih sayang.

Hauri menoleh pada presensi Haidar yang mendekat, tersenyum lebar lalu mempersilahkan kursi untuk di duduki suaminya itu.

"Udah pulang mas, mau langsung makan atau bersih-bersih dulu?" Haidar menaruh dasi dan tas kantornya pada salah satu kursi lalu merengkuh pinggang kecil Hauri yang tengah menuang air ke dalam gelas.

"Saya ganti baju dulu sebentar." Hauri mengadah, menatap sepasang netra tajam sang suami lalu ia mengangguk dan melerai rengkuhan Haidar untuk beralih membereskan dasi dan tas kantor suaminya.

Selagi Haidar pergi ke kamar berganti baju, Hauri memutuskan untuk mencuci buah apel dan anggur sebagai cemilan pencuci mulut. Air pada keran wastafel dibiarkan saja mengalir, sementara Hauri melamun dengan isi kepalanya.

Tadi siang, Heru atau supir pribadi Haidar menghubungi jika anak sulungnya sudah satu bulan menetap di rumah. Perasaan cemas dengan cepat menerjang perasaan seorang ibu milik Hauri. Ke tujuhnya sudah diberikan amanat untuk tinggal bersama sampai waktu yang tidak ditentukan sebab pekerjaan para orangtua.

Terlebih Hauri sudah memberikan Esa tanggung jawab penuh sebagai anak tertua kedua diantara ketujuh pemuda tersebut. Hauri sudah memberikan banyak nasihat agar anak sulungnya itu bisa menjaga dan mengawasi kedua adiknya. Jauh dari ketiga anaknya, Hauri benar-benar dilanda perasaan khawatir kala mendengar justru anak sulungnya tidak tinggal di satu atap yang sama dengan adik-adiknya.

Bagaimana Esa mengawasi Adma dan Bian jika pisah rumah seperti itu? Apa ketiganya terlibat pertengkaran hingga Esa lepas tanggung jawab tidak mau tinggal bersama?

Tidak mengurangi cemasnya jika mengingat Esa memang jarang berinteraksi dengan Bian, Tapi ini bahkan Esa menjauh dari Adma? Ibu tiga anak itu tau, jika Esa memberi porsi lebih perhatiannya untuk Adma. Bukan porsi lebih, hanya mungkin saja itu porsi untuk Bian namun diberikan juga pada Adma.

Tidak ada yang paham selak beluk Esa. Sangat tertutup, singkat bicara namun masih bisa ditebak dari perilakunya. Itu bagi Hauri sang ibu, entah bagaimana orang lain melihatnya.

"Masih lama bersihin buahnya?" Hauri kembali tersadar dari lamunannya, tubuhnya berbalik dan menemukan Haidar sudah duduk di kursi meja makan.

Hauri berjalan mendekat dengan sepiring buah yang sudah di iris lalu menaruhnya ditengah meja bersama dengan lauk pauk lainnya. Wanita itu dengan telaten menyendoki nasi dan lauk ke piring sang suami, sementara Haidar hanya menatap wajah Hauri yang nampak lelah hari ini.

"Kamu sakit? Terlihat kecapekan sekali." Hauri menoleh sekilas lalu kembali menyendoki lauk dan menyodorkannya pada Haidar.

"Aku sehat mas, Ada hal yang buat kepikiran aja." Hauri tersenyum simpul di akhir bicaranya untuk menyakinkan Haidar.

"Hal apa? Bagi sama saya." Terdengar perhatian namun Haidar mengucapkannya seperti angin lalu, tidak berdampak hangat pada Hauri sebab pria itu berbicara dengan wajah yang datar dan menyuap makanannya tanpa menatap wajah Hauri.

Hauri terlihat diam sejenak, lalu kembali membuka suaranya.
"Mas, pak Heru bilang Esa sudah satu bulan tidak tinggal di rumah bersama itu." Suara Hauri terdengar pelan dan halus.

"Anak itu memang benar-benar, tinggal dimana dia?"

"Tidak kemana-mana mas, menetap dirumah." Suara napas Haidar terdengar berhembus kasar mampu mengalihkan atensi Hauri ke arahnya.

OBLIVIONTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang