Sudah hari kedua Bian kerap kambuh setelah jam istirahat kedua dan berakhir menetap di ruang unit kesehatan sekolah. Selama itu juga sudah banyak alasan yang Bian berikan kepada guru yang bertugas menjaga ruang uks.
Bian tidak menutup mata perihal kesehatannya yang semakin hari semakin memburuk. Terlebih akhir-akhir ini sakit kepala dan sakit dadanya kambuh di waktu yang tidak seharusnya. Bian tetap rutin meminum obatnya tanpa terlewat satupun tapi mengapa justru sakitnya tidak kunjung reda?
Begitu juga Danes, diam-diam mendengar kabar mengenai Bian yang sudah dua hari jatuh sakit. Pikirannya menolak untuk menaruh kekhawatiran lebih terhadap saudaranya tersebut. Namun entah bagaimana takdir selalu membuatnya terjebak diantara Bian.
Seperti setiap jam istirahat, biasanya bisa dihitung jari Danes dapat berpapasan dengan Bian karena jurusan mereka yang berbeda. Tapi sudah empat hari ini Danes sering kali melihat Bian di sekitar kelasnya, entah dari perpustakaan, lapangan indoor, ataupun yang sudah dua hari ini ia lihat pergi ke ruang uks.
Seperti di awal, Danes bersikap masa bodo dan hanya berpikir kebetulan. Melihat Bian yang lebih sering berjalan sendiri, Danes masih tidak peduli. Tapi jika dipikir-pikir selama empat hari itu wajah Bian tampak pucat, pundaknya terlihat turun tidak bersemangat, netranya terpancar lemah.
Bertambah hari hal itu semakin memenuhi kepala Danes hingga memuncak menjadi rasa khawatir.
Sampai di hari kelima ini, perasaan khawatir dan gelisah tidak berhenti melanda benak Danes. Melihat kelas Bian yang sedang melakukan pelajaran olahraga di lapangan outdoor tentu fokus Danes terpecah dengan guru ekonomi yang sedang menerangkan di depan kelas.
Keuntungan duduk di dekat jendela menghadap lapangan luas itu, Danes tak lepas mengamati Bian yang sesekali nampak menunduk setelah berhasil memukul bola kasti dan berlari dari tiang ke tiang. Hingga lari anak itu yang terlihat memelan ketika sampai di ruang bebas dan tubuhnya terhuyung jatuh ke tanah.
Danes sigap berdiri dari duduknya menciptakan derit kursi yang menarik perhatian seisi kelas. Danes menatap canggung sekelilingnya dengan perasaan yang masih cemas dan khawatir setelah melihat Bian justru tak sadarkan diri di bawah sana.
"Ada apa, Danes?" Kaki tangan Danes semakin menegang sebab refleknya yang membuat pikirannya buntu.
"Maaf bu.. saya izin ke toilet." Guru di depan sana nampak meneliti sejenak gelagat Danes yang mencurigakan namun akhirnya mengangguk dan dengan segera Danes keluar dari kelas, menutup pintu pelan lalu berlari dengan langkah lebar di sepanjang lorong dan tangga.
Satu-satunya isi kepala Danes saat ini hanya perasaan cemas terhadap keadaan Bian di luar sana. Tepat dilorong masuk dari arah lapangan outdoor, Danes lihat Bian terpejam di atas punggung anak laki-laki yang Danes kenal si ketua kelas.
"Biar gue aja!" Entah ini juga termasuk reflek tubuh Danes atau apa hingga menawarkan dirinya untuk membantu membawa Bian namun tampaknya si ketua kelas merasa ragu dengan perilaku Danes yang tiba-tiba.
"Cepat! Bantu pindahin ke punggung gue!" Si ketua kelas tersadar dan segera memindahkan tubuh Bian kepada Danes.
Baru saja Danes akan melangkah ke ruang uks, namun si ketua kelas kembali menghentikannya.
"Jangan ke uks! Bawa ke rumah sakit, gue udah telpon ambulans." Danes menoleh sebentar lalu beralih melangkah menuju lobby. Ramai siswa melihat kejadian ini begitu juga guru. Dua guru akhirnya menemani Danes di lobby menunggu mobil ambulans tiba.
Untungnya ambulans datang tidak lama, setelah selama sepuluh menit Danes menggendong Bian yang masih tak sadarkan diri di punggunnya. Meski begitu, selama itu juga Danes tak henti-hentinya mengajak Bian berbicara agar setidaknya Bian tidak tidur lelap terlalu jauh. Deru nafas Bian masih dapat Danes rasakan pada tengkuknya walau semakin waktu terbuang semakin kecil hawa hangat yang menerpa kulitnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
OBLIVION
General FictionTujuh kepala yang tinggal di dalam satu atap, saudara satu kakek tapi asing satu sama lain. Bagaimana mau hidup bersama jika terus saling tidak peduli? Rumah perlahan-lahan menjadi sesuatu yang memuakkan hanya dalam tiga bulan. Ingin pulang tapi ti...
