Ice mengernyit tipis kala menemukan keberadaan dari keempat member kostan di ruang tamu. Tampak amat begitu sendu dan muram. Dia ketinggalan apa nih?
"Gue ketinggalan apa, nih?" Tanyanya pada Solar yang saat itu tengah menonton– apa itu konser? Entahlah. Intinya Solar tengah menonton suatu video konser di laptopnya dengan headset miliknya.
Itu sih pemandangan biasa, yang enggak biasa itu kalau lihat Solar malah kaya' orang lagi nahan tangis. Kenapa dia nahan nangis? Emang ada masalah apa lagi di kostan ini?
Kini Ice berbalik, ia menoleh pada Sori yang tampak gabut juga di sana. Ada sih Gentar sama Taufan, tapi mereka juga sendu banget. Ice jadi heran. Apa terjadi sesuatu sama Thorn? Hanya itu ide yang bisa dipikirkan olehnya.
"Kalian kenapa, dah? Lo lagi Sol. Tumben-tumben aja diem, padahal biasanya ribut mulu sama si Angin Ribut. Sama Gentar juga, biasanya cosplay setan kayang, kenapa sekarang malah kalem?" Cerocos Ice tanpa henti yang membuat mereka semua menatapnya tajam. Hee? Dia gak salah, ya!
"Diem deh, Kak. Lo ganggu gue nonton ayang bebeb gue." Balas Solar tajam nan ketus. Dih? Ayang bebeb apaan, emangnya yang ditonton sama Solar kenal sama dia?
"Hah? Gue gak salah denger? Pacar? Orang yang bahkan gak tahu lo hidup lo anggap pacar?" Heran Ice yang sukses membuat Solar menimpuk tangan Ice kuat.
"Enak aja! Neng Karina tau gue idup ya! Gue pernah di notice sama dia pas konser sama fansign."
"Bejir! Orang kaya mah kalau mau nonton konser ples ikutan fansign bebas banget, ye?" Bukan Ice, melainkan Taufan yang berkomentar. Dia tahu Solar seorang K-popers. Tapi ya gak sampai ngira kalau Solar bakalan rela keluar duit buat beli peralatan tempur konser.
Kali ini Gentar tertarik untuk ikut serta dalam percakapan ini. Begitu pula Sori yang malah ikut-ikutan penasaran. Dia gak tahu kalau Solar suka nonton konser, konser apaan?
"Bangsol nonton konser apaan betewe?" Tanya Gentar penasaran. Setengahnya juga kepengen nimbrung aja sih.
"Konser K-Pop. Biasanya gue nonton yang buy one get more than one." Ucap Solar asal yang tidak membuat Gentar memahaminya. Namun yang lain tampak paham.
"Hah?"
"Intinya, Bongsol itu beli tiket di konser besar yang bawa banyak grup K-Pop di acara itu. Mungkin kayak MMA, Inkigayo, dsb." Jelas Ice yang diangguki oleh Solar. Meskipun panggilan Bangsol maupun Bongsol itu tidak ia benarkan, sih.
"Wow. Solar kaya, ya?" Ucap Sori yang aslinya bukan berupa pujian. Lebih berupa sarkasme tiada batas yang ingin menusuk Solar sedalam-dalamnya. Mungkin lebih dalam dari Palung Mariana, kalau bisa.
"Keugh–"
"Terus, sekarang lo dengerin lagu apa?" Tanya Ice yang sejak awal sudah penasaran dengan apa yang ada di laptop Solar. Pasalnya ini seperti lagu solo, tapi ia juga tidak tahu apapun sih.
Solar tak langsung menjawab pertanyaan Ice. Ia justru mem-pause video itu dan melepaskan headphonenya. Menggantungkannya di leher dan menambah volume speaker laptop.
"Nih, lo pada dengerin sendiri aja. Dijamin, kena sindrom Neng Rina." Ucap Solar semangat dan mulai menekan play pada video tersebut. Jelas Solar memutar video dari awal, mana mau ia melihat biasnya hanya dalam hitungan 30 detik saja.
Video berputar, dan kemudian stage dapat terlihat. Riuh ramai dapat terdengar pula dari video, ramai sekali. Dengan barisan formasi beberapa orang yang seragam dan seseorang yang mengenakan pakaian berbeda di center. Sudah pasti ia adalah pemilik lagu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kost-kostan Pelangi
Fiksi PenggemarKamu lelah? Mari aku kenalkan pada Kost Pelangi agar hidupmu tambah lelah dan semakin suram! Penasaran dengan bagaimana kehidupan warga kostan laki-laki yang entah masih bisa disebut kostan ini atau tidak? Baca dong! . . . Kost-kostan Pelangi Ori...
