Stadion berubah menjadi sunyi, seolah semua suara tertelan dalam keheningan. Udara di sekitarnya terasa berat, seperti menekan dada setiap orang yang berada di sana. Tidak ada bisikan, hanya detak jantung yang terasa lebih keras dari biasanya.
Xavier dan Lucifer menjadi pusat perhatian. Semua tatapan tertuju pada mereka, penuh rasa ingin tahu dan kecemasan. Sorot mata penonton seolah menuntut jawaban, namun tidak ada yang mau membuka suara.
“Jawab, Xavier!” suara Permaisuri Catherine memecah keheningan. Nada dinginnya memancarkan perintah yang tak terbantahkan, membuat suasana semakin mencekam. Tatapan matanya tajam seperti bilah pedang yang diarahkan langsung pada pria di depannya.
Catherine, yang biasanya dikenal lembut dan penuh kasih sayang, tampak begitu berbeda kali ini. Luna yang menghentikan pertarungannya dengan Isabelle hampir tak percaya melihat perubahan itu. Catherine yang Luna kenal tidak pernah menatap papanya dengan kemarahan seperti itu, apalagi menyentaknya tanpa ragu.
Xavier, yang kini menjadi pusat perhatian, berdiri tegak dengan ekspresi datar yang sulit diterjemahkan. Matanya perlahan menyapu sekeliling stadion yang sunyi, seolah menilai setiap wajah yang menatapnya dengan penuh tanda tanya.
Namun di tengah itu, tanpa sengaja, pandangannya terkunci pada Lucifer, sosok yang berdiri di tengah stadion yang kini hancur lebur. Mata mereka bertemu, seperti dua pedang tajam yang beradu dalam keheningan. Atmosfer semakin tegang, seakan waktu berhenti di antara mereka.
"Ayolah, Kakak Ipar. Jangan malu untuk mengakui suamimu itu," ejek Demonic dengan nada sarkastik, tawa kecil di sudut bibirnya. Ucapannya sukses memecahkan ketegangan di antara Xavier dan Lucifer, membuat keduanya memutuskan tatapan tajam mereka.
Lucifer mengepalkan tangan dengan kuat, berusaha sekuat tenaga menahan amarah yang membara di dadanya. Rahangnya mengeras, sementara matanya berkilat seperti api yang siap melahap siapa saja. Sebaliknya, Xavier hanya menoleh sekilas ke arah Demonic, tatapannya datar, seolah ejekan itu tak berarti apa-apa.
Setelahnya, mata Xavier beralih kepada anaknya yang berdiri tak jauh darinya. Anak itu menatap balik dengan wajah tegang, seperti menanggung beban berat dari situasi yang terjadi. Kekhawatiran terpancar jelas di wajahnya, meski ia berusaha menyembunyikannya di balik sikap diam.
Xavier menghela napas panjang, menghembuskan sebagian berat yang menumpuk di dadanya. Ia tahu situasi ini sudah tak bisa dihindari lagi. Dengan langkah perlahan, ia maju ke tengah stadion.
Selama langkah nya menuju ke tengah stadion. Tak ada yang berani menyerang Xavier. Ya, dari sekian banyaknya iblis yang Xavier lewati tak ada yang berani menghentikan langkah nya ataupun menyerangnya.
Semua benar benar terdiam.
Saat Xavier akhirnya berhenti di tengah stadion, tepat di samping Lucifer, ia berdiri tegap di antara puing-puing yang berserakan. Atmosfer semakin berat, seakan waktu menahan napas. Lucifer berdiri di sampingnya, sementara Demonic berdiri di depan mereka.
Xavier menatap langsung ke arah Lucifer, kali ini lebih serius dari sebelumnya. Sorot matanya memancarkan sesuatu yang mendalam.
Lucifer mengerti akan arti tatapan milik Xavier. Ia melangkah maju, mendekati Xavier hingga jarak di antara mereka hampir tak tersisa. Dengan senyum tipis, ia menjawab, "Kau ingin sekarang?" Nadanya terkesan lembut.
Xavier menghela napas panjang sebelum menegakkan tubuhnya. “Ya,” jawabnya dengan tegas, pandangannya tidak goyah sedikit pun.
Lucifer mendekatkan wajahnya, wajahnya nyaris bersentuhan dengan wajah Xavier. Tatapan mereka terkunci, intens dan penuh emosi yang sulit ditebak. Napas mereka saling beradu, begitu dekat hingga ketegangan di antara mereka terasa seperti ledakan yang siap meletus kapan saja.
KAMU SEDANG MEMBACA
{BL} Little Luna Miracle ✓
Fantasymengisahkan tentang seorang gadis kecil yang berusia tujuh tahun bertransmigrasi ke dunia lain yang sangat aneh. di sana ada sihir keajaiban dan kasih sayang Warning !!! Sebelum baca ceritaku pahami dulu tagar nya!!!! Ini berita BXB, HOMO, GAY...
