Lucifer mengerutkan alisnya, matanya menyala penuh amarah. Tangannya mengepal, energi gelap mengalir pada jari jarinya. Dia menatap tajam demonic.
Orang orang mengkhawatirkan keadaan Luna setelah tembakan elemen Luna dapatkan.
Bahkan Xavier yang tadinya sibuk melawan iblis iblis itu menoleh menatap khawatir sang anak.
"Kau mau ke mana, Luna? Pertarungan kita belum selesai," suara itu terdengar lagi, menggema di antara suara pertempuran. Nada mengejeknya membuat darah Luna mendidih.
Luna menoleh perlahan, meskipun tubuhnya masih lemah. Tatapannya tertuju pada sosok wanita bersinar terang di kejauhan. Isabelle berdiri di sana, rambutnya yang berwarna merah muda memancarkan cahaya, dan mata tajamnya menatap Luna dengan penuh rasa keangkuhan.
"Sial," gumam Luna di antara napasnya yang berat.
Isabelle tersenyum angkuh, melangkah mendekat dengan percaya diri. "Oh, Luna. Kau terlihat menyedihkan sekali. Kegelapan itu ternyata tidak sehebat yang kau kira, ya?"
Luna mengepalkan tangannya erat, berusaha menahan rasa sakit dan amarah yang semakin memuncak. Dia tahu Isabelle mencoba memprovokasinya, tapi tetap saja, kata-kata itu terasa seperti pisau yang menusuk.
"Kau pikir ini sudah selesai?" Isabelle melanjutkan, tangannya terangkat, bola cahaya yang menyilaukan terbentuk di telapaknya. "Aku belum selesai menunjukkan kekuatan dari elemen cahaya sepenuhnya"
Luna mengangkat wajahnya, matanya yang berwarna merah darah memancarkan sorotan tajam. Dia mengambil napas dalam-dalam, menegakkan tubuh meskipun rasa sakit masih mencengkeramnya.
"Aku pun belum menunjukkan sepenuhnya kekuatan dari elemen kegelapan, Isabelle" Luna menatap sinis Isabelle, dia tersenyum menyeringai.
Ayolah, jika Isabelle bermain main dengan nya maka Luna akan mengabulkan keinginan Isabelle walaupun nyawa menjadi taruhannya.
Isabelle menghentikan langkahnya, bola cahaya di tangannya semakin bersinar terang, seakan ingin membutakan siapa saja yang melihatnya. "Oh, benar-benar percaya diri sekarang, ya? Baiklah, Luna. Jika itu maumu, aku akan menghancurkan mu seutuhnya!"
Dengan satu gerakan cepat, Isabelle meluncurkan bola cahaya itu. Energi yang memancar darinya menyapu tanah, meninggalkan jejak kehancuran saat melesat ke arah Luna.
Namun, Luna tetap berdiri diam. Matanya yang berwarna merah darah menatap bola cahaya itu tanpa rasa takut. Ketika serangan itu hampir menyentuhnya, Luna mengangkat tangannya perlahan. Dari telapak tangannya, kegelapan pekat meluap seperti tinta hitam, membungkus bola cahaya itu. Dalam sekejap, cahaya yang sebelumnya menyilaukan lenyap tanpa jejak, seolah ditelan oleh kekosongan.
Isabelle mengernyit, ekspresinya berusaha menutupi rasa terkejut yang mulai muncul. "Apa itu tadi? Kau mulai bisa mengendalikan kegelapanmu sekarang?" ucapnya dengan nada mengejek, meskipun ada nada ketegangan dalam suaranya.
Luna melangkah maju, tubuhnya diselimuti oleh aura gelap yang berputar perlahan seperti badai kecil. Setiap langkahnya meninggalkan bekas bayangan di tanah, yang perlahan-lahan memudar menjadi ketiadaan. "Kegelapan akan bertambah kuat seiring cahaya yang disekitarnya meredup" ujar Luna dengan suara rendah yang tajam.
Isabelle mendengus marah, mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi. Lingkaran cahaya besar terbentuk di sekelilingnya, bersinar seperti matahari. "Cahaya adalah kekuatan tertinggi! Kegelapanmu tidak akan pernah bisa menandinginya!"
Dengan cepat, Isabelle meluncurkan serangan bertubi-tubi. Puluhan cahaya tajam melesat seperti panah, membelah udara dan menerjang Luna. Namun Luna tetap tenang. Dengan satu gerakan tangannya, kabut gelap tebal muncul di sekitarnya, menyelimuti tubuhnya seperti zirah. Serangan-serangan cahaya itu lenyap begitu menyentuh kabut tersebut, tak mampu menembus perlindungan kegelapan Luna.
KAMU SEDANG MEMBACA
{BL} Little Luna Miracle ✓
Fanteziemengisahkan tentang seorang gadis kecil yang berusia tujuh tahun bertransmigrasi ke dunia lain yang sangat aneh. di sana ada sihir keajaiban dan kasih sayang Warning !!! Sebelum baca ceritaku pahami dulu tagar nya!!!! Ini berita BXB, HOMO, GAY...
