Malam itu sunyi. Angin berhembus pelan, membelai pepohonan yang menjulang tinggi di sekitar kastel. Cahaya bulan menerangi balkon tempat Luna berdiri, menatap langit dengan tatapan kosong.
Sudah berbulan-bulan sejak ia terbangun, sejak ia mendengar nama yang seharusnya miliknya.
Catheluna Vaxelyn De Amethyts. Nama yang terdengar begitu indah, begitu bermakna, tetapi terasa asing baginya.
Ia telah mencoba menerima kenyataan bahwa ia adalah putri dari dua pria kuat, ada begitu banyak orang yang mencintainya, ia memiliki kehidupan sebelum ini yang dipenuhi dengan kenangan. Tapi meskipun semua orang mengatakan bahwa ia masih tetap Luna, ada sesuatu yang terasa hilang.
"Apa kakak tidak bisa tidur?"
Suara lembut itu membuatnya menoleh. Lucian berdiri di ambang pintu balkon, menatapnya dengan mata penuh perhatian.
Luna menghela napas pelan. "Aku hanya sedang berpikir."
Lucian berjalan mendekat dan berdiri di sampingnya. "Tentang apa?"
Luna menatap telapak tangannya sendiri. "Tentang siapa aku sebenarnya."
Lucian terdiam sejenak sebelum tersenyum kecil. "Kau adalah Kakak Luna, itu saja."
Luna mengerjap. "Tapi aku… aku tidak mengingat siapa diriku. Aku tidak mengingat kalian semua. Bagaimana jika aku bukan orang yang kalian kenal?"
Lucian menatapnya dengan serius. “Lalu, apa itu penting?”
Luna terdiam. Kata-kata Lucian menggantung di udara, sederhana tetapi memiliki makna yang dalam.
Lucian menghela napas sebelum melanjutkan, “Mungkin Kakak tidak mengingat siapa diri Kakak dulu, tapi itu tidak mengubah siapa Kakak sekarang”
Luna menggigit bibirnya. “Tapi… bagaimana jika aku berubah? Bagaimana jika aku bukan Luna yang kalian kenal?”
Lucian tersenyum kecil. “kakak mungkin berubah, tapi kakak tetap lah kakakku. Aku tidak peduli apakah Kakak mengingat masa lalu atau tidak. Yang aku tahu, Kakak adalah orang yang aku sayangi.”
Angin malam berhembus lebih kencang. Luna merasakan hatinya sedikit lebih ringan.
Kata-kata Lucian mungkin tidak mengembalikan ingatannya, tetapi setidaknya, ia tahu bahwa meskipun dirinya berubah, masih ada orang-orang yang menerimanya apa adanya.
Ia menatap langit malam sekali lagi, lalu menoleh ke arah Lucian dan meletakkan tangannya di atas kepala adiknya. Luna tersenyum tipis sebelum mengacak rambut Lucian dengan lembut.
“Terima kasih, Luci,” ucapnya hangat.
Lucian, yang baru berumur delapan tahun dan lebih pendek dari Luna, hanya bisa menunduk dengan wajah yang mulai memerah. Luna dengan mudah mengusap rambutnya, membuatnya semakin malu.
Melihat adiknya yang kini merona, Luna terkekeh geli.
“Kakak!! Jangan tertawa!!” seru Lucian dengan nada kesal, namun hal itu justru membuat tawa Luna semakin melebar.
Lucian mendongak ke arahnya, menggembungkan pipinya dengan ekspresi cemberut. Namun, di balik kekesalannya, ia diam-diam bersyukur.
Ia bersyukur karena bisa melihat Luna tertawa lepas seperti ini. Betapa indah wajah kakaknya saat tersenyum, betapa merdu suara tawanya.
Ternyata benar apa yang dikatakan orang-orang tentang kakaknya.
Luna memiliki energi positif yang mampu membuat orang-orang di sekitarnya merasa bahagia hanya dengan kehadirannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
{BL} Little Luna Miracle ✓
Fantasíamengisahkan tentang seorang gadis kecil yang berusia tujuh tahun bertransmigrasi ke dunia lain yang sangat aneh. di sana ada sihir keajaiban dan kasih sayang Warning !!! Sebelum baca ceritaku pahami dulu tagar nya!!!! Ini berita BXB, HOMO, GAY...
