Chapter 59

5K 391 27
                                        

Xavier tersentak, matanya mulai berkaca-kaca. "Luna…"

Lucifer berdiri di sampingnya, menatap Luna dengan tatapan yang sulit dijelaskan. antara lega, terkejut, dan cemas. Sementara itu, Lucian menggenggam erat ujung jubah Lucifer, menahan napasnya dalam diam.

Saat Luna menoleh ke arah mereka, sesuatu terasa janggal.

Tatapannya tidak sama seperti dulu.

Tidak ada sorot kehangatan, tidak ada cahaya kehidupan.

Dia hanya menatap mereka dengan kebingungan dan kekosongan.

Hening.

Seolah-olah waktu berhenti bersama napas mereka.

Luna akhirnya membuka mulutnya, suaranya lirih, nyaris seperti bisikan yang hampir terbawa angin.

"A-air…"

Xavier tersentak. Dengan tangan sedikit gemetar, ia segera mengambil segelas air di dekatnya, lalu dengan penuh kehati-hatian, ia membantu Luna minum.

Luna meneguknya perlahan, bibirnya yang kering menyentuh permukaan gelas dengan lemah. Rasanya seperti air itu baru pertama kali menyentuh tenggorokannya setelah bertahun-tahun.

Lucifer dan Lucian tetap membeku di tempat mereka, tak ada yang berani mengeluarkan suara sedikit pun.

Saat Luna akhirnya menurunkan gelasnya, napasnya masih lemah. Tubuhnya terasa begitu rapuh, seolah sedikit sentuhan saja bisa membuatnya hancur.

Namun, yang membuat dada Xavier terasa sesak bukanlah kelemahan itu.

Melainkan kata-kata berikutnya.

"S-siapa… siapa kalian?"

Suara Luna terdengar pelan, nyaris seperti bisikan yang patah.

Dunia Xavier dan Lucifer seketika runtuh.

Lucian menatap kakaknya dengan penuh kebingungan, tak memahami apa yang baru saja terjadi. Sementara itu, Xavier merasakan sesuatu mencengkeram dadanya begitu kuat, membuatnya sulit bernapas.

Lucifer, yang selama ini selalu mampu mengendalikan emosinya, kini tampak pucat.

Tidak.

Tidak mungkin.

Xavier membuka mulutnya, ingin mengatakan sesuatu, ingin meyakinkan dirinya bahwa ini hanyalah ilusi… tapi suaranya tidak keluar.

Dia hanya bisa menatap mata Luna yang kehilangan cahaya itu, menatap wajahnya yang dulu penuh dengan kehidupan, namun kini hanya menyisakan kehampaan.

"Siapa kalian?? " Suara Luna kali ini terdengar lebih jelas namun mereka lagi lagi hanya diam tak mampu mengeluarkan suaranya.

Karena untuk pertama kalinya… Luna menatap mereka seperti orang asing.

Hening.

Begitu mencekam hingga suara detak jantung Xavier sendiri terdengar begitu nyaring di telinganya.

Lucifer akhirnya melangkah maju, suaranya bergetar saat berbicara. "Luna, ini ayah"

Luna menatapnya, matanya menyipit seolah mencoba memahami kata-kata itu. Namun, tak ada pengakuan di sana. Tidak ada secercah ingatan yang kembali.

"Aku tidak mengerti…" gumamnya. Suaranya bergetar, nyaris seperti bisikan.

Xavier berlutut di sisi ranjang, mencoba mencari sorot yang familiar dalam mata merah darah itu. "Luna, ini papa dan itu Lucian, adikmu."

Luna mengerjap lagi, pandangannya beralih ke anak kecil yang berdiri tak jauh darinya. Seorang anak laki-laki berusia sekitar delapan tahun dengan mata merah darah yang begitu dalam, menatapnya dengan penuh harapan.

{BL} Little Luna Miracle ✓ Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang