chapter 22

8K 511 30
                                        

Xavier termenung di taman bunga tempat kesukaan ibu dan anaknya, dirinya menyandarkan punggungnya ke pohon yang tampak besar nan rindang sambil memejamkan matanya berusaha untuk menikmati suasana di taman ini.

Hening dan sepi, sebenarnya tempat ini memang menenangkan. Cocok untuk menjadi tempat kesukaan, apalagi bunga yang di tanam ibunya bermekaran sungguh harum di penciumannya dan kebun strawberry yang lebat di samping kebun bunga ibunya yang akhir akhir ini di tanam oleh Luna membuat keindahan taman ini semakin terasa.

Xavier mulai tenang, ia terlena dengan kenyamanan yang tercipta. Matanya memberat, ia tampak mengantuk. Tadi malam dia hanya tidur satu jam saja selebihnya bersama Luna.

Di lain sisi, duke Stewart yang ingin menenangkan diri di taman bunga kesukaannya keheranan mendapati putranya tengah duduk di bawah pohon. Akhirnya dengan rasa penasaran Duke Stewart menghampiri putranya tertidur di bawah pohon yang rindang dan duduk di sebelah nya. Tangannya juga tanpa sadar mengusap Surai perak milik xavier.

Duke Stewart tak menyangka bahwa putra kecilnya telah tumbuh dengan besar, dia tumbuh dengan kegilaan akan peperangan.

Xavier tak pernah tertarik dengan hubungan percintaan atau membuat sebuah keluarga kecilnya. Dahulu dia sempat di jodohkan dengan putri dari kerajaan voresham, mereka menjodohkan xavier dan putri ivory agar bisa menjalin sebuah hubungan yang lebih kuat nantinya saat di masa depan.

Tapi xavier dengan beraninya menolak tegas perjodohan itu, ia bahkan sempat beberapa tahun tak pulang dan lebih menyibukkan diri akan peperangan yang terjadi.

Putri ivory kala itu juga menolak perjodohan itu karena dari rumor yang berkembang, xavier mempunyai paras yang jelek. Putri ivory tidak mau jika keturunan berparas sama seperti Xavier.
 
duchess Elizabeth, Duke Stewart dan kedua orang tua putri ivory akhirnya menyerah, mereka membatalkan perjodohan itu.

Sebenarnya orang tua dari putri ivory tak rela jika perjodohan itu batal, pasalnya walaupun status Duke Stewart hanyalah seorang Duke tapi kekuasaan dan pengaruh yang Duke Stewart punya sangatlah besar. Maka dari itu orang tua dari putri ivory sangat kecewa pada sang putri, karena berani beraninya menolak perjodohan itu.

Duke Stewart dan duchess Elizabeth sendiri akhirnya menyerah dan mereka membiarkan xavier menentukan kehidupan nya sendiri asalkan xavier ingin pulang.

Dan yah, xavier hidup dengan kebebasan sampai ibunya tiada. Bahkan ketika ibunya sudah tiada, Xavier justru lebih mementingkan perintah kaisar maupun raja dari pada keselamatan nya sendiri, ia seperti tidak sayang nyawa. Dia juga selalu pulang membawa luka di sekujur tubuhnya.

Tapi semenjak kedatangan Luna, kehidupan xavier yang liar dan bebas mulai sirna. Ia tak lagi mempertaruhkan nyawa untuk hanya sekedar perintah, xavier tau ada seseorang yang selalu menunggu kepulangan nya dalam keadaan sehat. Dia tak ingin membuat putri kecilnya khawatir, maka sebab itu akhir akhir ini dia selalu menerima perintah yang tak terlalu berisiko.

Luna juga tak mau xavier terluka akibat perintah dari raja atau kaisar yang terlalu berat, ia berusaha membujuk ayah angkatnya agar xavier tak memiliki perintah yang berisiko mengancam nyawa. Permaisuri Catherine juga ikut andil, ia membujuk sang suami agar menerima permohonan sang anak. Kaisar luluh kepada kedua, ia akhirnya menyerah. Xavier sebenarnya cukup marah tapi apa boleh buat, ini semua demi Luna.

Duke Stewart tersenyum tipis sangat sangat tipis. Entah jalan apa yang akan di tempuh putranya kembali, Duke Stewart sebagai orang tua hanya bisa pasrah dan mendukung saja. dirinya kemudian berduri dan beranjak pergi dari tempat itu untuk menemui sang cucu sebelum memulai pekerjaan nya yang merepotkan kembali.

⋇⋆✦⋆⋇

Dahi xavier mengerut melihat pemandangan yang di depan ada matanya.

{BL} Little Luna Miracle ✓ Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang