Langkah-langkah kecil yang goyah terdengar menggema di ruangan yang sunyi. Seorang bocah laki-laki dengan mata berbinar melangkah perlahan mendekati sosok yang terbaring di atas ranjang, seorang gadis dengan wajah cantik yang tampak begitu damai dalam tidurnya.
"Lucian, jangan ganggu kakakmu," suara lembut dan penuh ketegasan menghentikan langkah kecilnya.
Balita bernama Lucian menoleh ke arah sumber suara, seorang pria tinggi dengan topeng yang masih menghiasi wajahnya. Bibir mungilnya memanyun, tetapi kemudian ia berseru penuh kegirangan, "Papa, papaa! Kakak Lunaa!!"
Xavier, pria yang dipanggil 'Papa' itu, menghela napas kecil. Senyum tipis tersungging di wajahnya saat ia berjalan mendekat dan mengangkat tubuh kecil Lucian ke dalam gendongannya.
"Ingin menyapa Kakak Luna?" tanyanya lembut.
Lucian mengangguk cepat, senyum polosnya makin merekah. Kedua tangannya yang mungil melingkari leher Xavier saat mereka bergerak lebih dekat ke ranjang tempat Luna terbaring.
"Sapa kakakmu" ucap Xavier lembut setelah mendudukkan Lucian di tepi ranjang.
Lucian mengangguk semangat. Dengan penuh rasa ingin tahu, tangannya yang kecil menyentuh jemari Luna yang dingin dan pucat. Matanya membesar seketika, tak mengerti mengapa tangan kakaknya terasa begitu berbeda dari tangannya sendiri yang hangat.
"Kakak…" panggilnya lirih, lalu dengan penuh semangat ia kembali berseru, "Kakak Lunaaa!!"
Lucian menepuk-nepuk tangan Luna dengan gemas. Lalu, ia beralih ke wajahnya, mengelus pipi kakaknya dengan jari-jarinya yang mungil.
Namun, tak ada jawaban. Tak ada reaksi.
Xavier tersenyum tipis melihat hal itu. Matanya yang tajam menatap putrinya yang masih tak bergerak. Napas Luna begitu tipis, hampir tak terasa. Tubuhnya tetap diam seperti beberapa tahun terakhir ini.
Tahun-tahun telah berlalu sejak peristiwa itu.
Tragedi yang mengubah segalanya.
Mulai dari bangunan akademi yang hancur lebur, sang Kaisar yang gugur, hingga Luna, gadis kecil yang berhasil mengalahkan iblis itu dan berhasil memanggil pohon kehidupan tengah berbaring koma antara hidup dan matinya.
Ia masih bernapas, masih hidup. Tapi tubuhnya tak lagi merespons, seolah jiwanya terjebak di tempat yang jauh.
Tak ada yang tahu kapan Luna akan bangun.
Bahkan Lucifer sendiri.
Lucifer, yang selama ini mampu menembus alam bawah sadar seseorang dengan mudah, kali ini terhalang. Setiap kali ia mencoba menjangkau kesadaran putrinya, hanya kehampaan yang ia temui. seakan ada dinding tak kasat mata yang menghalanginya.
Bukan hanya itu.
Setiap kali Lucifer mengirimkan mana ke dalam tubuh Luna, kekuatan itu selalu terpental kembali kepadanya, seolah tubuh Luna menolak segalanya. Tak peduli seberapa besar usahanya, tak peduli seberapa banyak kekuatan yang ia salurkan, hasilnya tetap sama.
Ia gagal. Lagi dan lagi.
Di hadapan mereka, Luna tetap diam, tetap terperangkap dalam tidurnya yang begitu panjang.
"Papaa, kenapa kakak tidak bangun?? " Suara lugu itu keluar dari mulut Lucian Alverd De Amethysts, bocah berusia tiga tahun yang memiliki kemiripan luar biasa dengan Lucifer. Mata merah darahnya menatap penuh harap, rambut hitam pekatnya sedikit berantakan karena baru saja bangun tidur. Wajahnya yang masih begitu polos menggambarkan ketampanan yang tak bisa disangkal, ciri khas keturunan De amethyts yang begitu kuat dalam dirinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
{BL} Little Luna Miracle ✓
Fantasymengisahkan tentang seorang gadis kecil yang berusia tujuh tahun bertransmigrasi ke dunia lain yang sangat aneh. di sana ada sihir keajaiban dan kasih sayang Warning !!! Sebelum baca ceritaku pahami dulu tagar nya!!!! Ini berita BXB, HOMO, GAY...
