24. Skandal

115 18 3
                                        

Tio dan Sena berpandangan. Mereka sedang berada di sebuah acara talk show ketika kabar Selena lesbian menjadi trending #1 di beberapa media sosial.

"Gawat." Tio mendesah. Ia hanya berharap topik ini tak diangkat di acara yang tengah berlangsung live ini.

Sena menatap foto-foto Selena yang tersebar. Diambil dari angle yang cukup jauh, terlihat dari kualitasnya yang pecah saat di zoom. Kenapa foto beginian selalu kualitas majapahit, sih?

"Yohan udah tahu, Mas?" Tanya Sena melirik Tio yang tengah memperhatikan layar besar di ruang tunggu. Pria itu mengawasi jika ada obrolan yang melenceng dari skrip.

"Tahu." Balas pria itu singkat. "Aku kesana dulu ya? Mau lihat situasi biar kalo ada apa-apa Yohan ga khawatir."

Sena menggangguk sebagai jawaban, melihat punggung pria yang perlahan menghilang dari pandangan.

Suasana aman terkendali, pun dengan host yang cukup profesional. Semuanya berjalan lancar, sesuai dengan skrip yang telah disebar.

Yohan masuk ke mobil dengan wajah datar. Sena memperhatikan dari bangku belakang masih setia dengan beberapa pakaian yang menggantung di atas kepalanya.

Kondisi di mobil hening, hanya terdengar deru mesin kendaraan serta suara AC yang distel hingga max yang berdengung.

Tio melirik Yohan dan mendesah, Yohan dengan suasana hati yang buruk bisa berkali-kali lipat lebih menyebalkan dari biasanya.

"Pak, berhenti sebentar." Ucapan Yohan membuat Tio menahan napas. "Sen, pindah sini."

Sena melakukan hal tersebut tanpa protes, pemuda itu jelas tahu kalau Yohan tak suka dibantah.

Yohan merebahkan kepalanya di pangkuan Sena tepat ketika Pak Herman melajukan kendaraan kembali. Sena dapat merasakan jika pria paruh baya itu melirik mereka dari kaca spion.

Tio tersenyum saat Pak Herman menatapnya, tak berniat mengucap sepatah kata pun hingga sampai di tujuan.

.

"Sen lo ga akan ninggalin gue kan, seumpama gue meninggalkan industri ini?"

"Maksud kakak apa?" Sena yang sedang mengelap action figure melirik Yohan sekilas. "Emang kak Yohan mau kemana?"

"Lo tahu kan skandal Selena? Lo juga tahu hampir semua komentar bawa-bawa nama gue." Yohan mendesah. "Ada yang bilang gue diboongin lah! Ada yang bilang gue juga sama aja belok lah."

Yohan menghentikan ucapannya sejenak, "Yaa meski yang dibilang mereka ada benernya sih, dulu iya gue diboongin tapi sekarang kan engga."

"Laluuu," Sena sengaja menggantung ucapannya. "Yohan yang sekarang belok, ga?"

"Nabrak lah kalo lurus terus." Yohan mengulum senyum. Menopang kepalanya di sofa sambil memperhatikan gerak-gerik Sena.

"Sen, kalo capek istirahat dulu sini."

Sena menggeleng, "Baru juga mulai masa udah capek?" Tolaknya halus. "Aku kan disini digaji, masa iya ongkang-ongkang kaki sama majikan."

"Gue bukan majikan lo, Sen." Keluh Yohan.

"Terus apa?" Tanya Sena.

"Sugar daddy?"

"Sugar glider kali." Ucap Sena asbun. "Eh maaf kak, kelepasan." Ringisnya.

Yohan tertawa hingga suaranya terdengar menggema di ruang tengah. "Lo belum jawab pertanyaan gue tadi."

Sena menghentikan aktifitasnya sejenak, menyelipkan kain lap di saku apron yang ia pakai.

"Aku mungkin kembali ke rumah, Kakak ingat kan rumah ayahku? Lalu aku cari kerja."

"Terus nasib gue gimana?"

Sena mendekati Yohan namun pemuda itu bersandar pada sofa di belakang sang aktor.

"Kakak ikut aku, kalo Mas Tio juga mau ikut aku ga keberatan." Sena nyengir, menampilkan deretan giginya yang rapi. "Kakak bisa mulai hidup baru disana, sebagai orang biasa."

"Apa gue bisa, Sen?"

Sena mengangkat bahu, "Gak tau, kan belum dicoba." Balasnya tanpa beban. "Emang skandal Selena bisa berdampak besar ya?"

"Gue juga gak tahu, Sen." Yohan menghela napas. "Lo duduk sini dah, pegel leher gue nengok mulu."

Sena mengalah, memilih duduk di sebelah Yohan dan sang aktor segera merebahkan kepalanya di pangkuan Sena.

"Kalo lagi kayak gini rasanya tenang banget, saat lo ada di deket gue gini, Sen."

Sena tersenyum, mengelus rambut Yohan meski agak ragu.

"Masa segitunya?" Tanya Sena, seketika ingatannya kembali pada lipstick di dalam mobil. Apa ia tanyakan saja sekarang, ya?

"Kak." Yang dibalas gumaman Yohan. "Aku boleh tanya?"

"Boleh lah, gak usah minta izin kali."

"Waktu itu aku nemuin sesuatu di mobil."

"Apa?"

"Lipstick." Hening sesaat, Yohan tak bereaksi apa-apa.

"Kapan?" Tanya sang aktor.

"Setelah Kakak pesta sama kru film. Itu punya siapa, kak?"

Yohan memandang Sena yang memasang wajah penuh tanya.

"Maaf gak seharusnya aku nanya hal itu." Sena memalingkan wajahnya ke samping saat Yohan tak mengucap sepatah katapun. "Lupain aja."

"Hei." Yohan mengubah posisi menjadi duduk. "Lo cemburu?"

"Enggak!" Sena menjawab cepat, tanpa berpikir.

Yohan tertawa, hingga rambut gondrong yang ia kuncir sedikit bergoyang. "Iya, lo cemburu."

Sena menghela napas, memilih memandang televisi yang tengah menayangkan iklan tanpa suara.

"Mungkin ini terdengar gak masuk akal tapi kemarin mobil gue dipake sama pak sut."

Sena melirik Yohan sekilas namun segera memalingkan wajah kembali ke televisi saat menyadari Yohan tengah memandangnya lekat.

"Dan gue gak tahu siapa yang dia bawa. Jadi gue gak bisa jawab itu barang punya siapa."

Sena terdiam, menimbang mau percaya atau tidak dengan ucapan Yohan.

"Enggak apa-apa kalo lo gak percaya, yang penting gue udah jujur."

Sena menatap Yohan, "Aku percaya kok, kak. Cuma lagi aneh aja sama diri aku sendiri. Apa aku berhak cemburu seperti yang kakak bilang? Kayaknya aku gak harus punya perasaan itu."

Yohan menyentuh pipi Sena dan mengelusnya lembut. "Gue malah seneng kalo lo cemburu. Rasanya hati gue dipenuhi bunga."

"Apasih, kak. Berlebihan banget." Sena mengulum senyum.

Yohan melirik kesana kemari sebelum melayangkan sebuah kecupan di bibir Sena. "Jadi, aman kan? Semuanya udah jelas? Lo tau sendiri gue paling risih dideketin sama siapapun. Apalagi orang random di party."

Sena mengangguk-angguk hingga poni nya bergoyang lembut. "Iya aku percaya, kak."

***

TBC

Senandika [bxb]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang