Kalian tahu kan kalau cancel culture tidak berlaku di negara ini? Pun dengan skandal Selena yang bak angin lalu. Kabar itu sama sekali tidak berdampak buruk pada karir Selena dan Yohan. Keduanya masih disibukkan dengan pekerjaan yang seakan tak ada habisnya.
Satu bulan berlalu dan Yohan pun tak pernah membahas hal ini lagi dengan Sena. Sepertinya netizen sudah lupa dan berganti dengan kabar viral lainnya.
Sena sedang melihat brosur yang dikirimkan Rangga melalui whatsapp, semenjak obrolan dengan Yohan kemarin ia berpikir untuk melanjutkan berkuliah di salah satu universitas di sekitar sini.
Sena meletakan ponsel yang digunakannya di meja makan dan pergi ke dapur untuk mengambil air minum. Ketika ia kembali, di meja makan sudah duduk Yohan tengah memegang ponselnya.
"Lo mau kuliah?" Yohan menyerahkan ponsel Sena dan segera diterima oleh si empunya.
Sena mengangguk, "Pengen sih kak. Cuma bingung ambil kelas malem atau online, ya?"
Yohan bersidekap, menatap Sena dengan mata cokelat kehitamannya.
"Gue belum pernah ambil kelas malem sih, tapi online oke juga kalo lo cuma ambil gelar."
"Masa gelarnya doang? Ilmunya juga lah, kak." Sena tertawa kecil. "Percuma dong punya gelar kalo gak ngerti mah."
"Lo nyindir gue?" Yohan mengangkat alis.
"M-Maaf." Sena seketika menutup mulut. "Rangga kuliah disini, katanya sih bagus dan biayanya terjangkau." Lanjutnya lagi.
"Dia kelas malem juga?"
"Reguler. Dia kan freelancer kak."
Yohan mengangguk-angguk sambil memegang dagu. "Lo pikirin aja dulu resikonya, malem-malem kuliah berani, gak?"
Sena menelan ludah. "Berani sih kayaknya."
"Kalo masih mikir 'kayaknya' mending gak usah." Yohan berdecak. "Artinya lo gak yakin, Sena."
"Aku berani, kak. Nanti mau ambil motor second buat transport biar gak tekor banget."
"Bentar." Yohan mengangkat telapak tangannya. "Lo bisa bawa motor?"
"Bisa." Jawab Sena.
"Lancar?" Sena mengangguk, "Dari kelas enam udah bisa, tapi motorku dijual ayah."
Lalu hening setelahnya.
"Nanti gue cariin buat lo. Gak usah mikir gituan dulu." Yohan meraih gelas Sena dan meneguknya dalam sekali napas.
"Aku baru ambil lho kak, belum diminum." Keluh Sena, mengangkat gelasnya yang kosong.
Pada akhirnya Sena tetap mengambil kelas malam, setelah berdiskusi dengan Rangga. Kampusnya lebih dekat dengan rumah ayahnya, jika kemalaman mungkin ia akan menginap disana.
Sena sudah rapi. Hari ini akan pulang ke rumah sebentar untuk mengambil persyaratan dan menscannya di fotokopian. Ia menyisir rambut hitamnya yang sudah panjang, hampir menutupi mata.
"Kemana, Sen?" Itu Tio. Bertanya dengan secangkir kopi yang mengepulkan asap dan wangi yang semerbak.
"Ke rumah sebentar, mas. Mau ambil persyaratan."
Tio mengangguk tak memperpanjang obrolannya. Sena melanjutkan langkahnya namun suara Yohan membuatnya berbalik.
"Sena!"
"Iya, kak?" Sena menunggu Yohan versi bangun tidur menghampirinya.
"Mau kemana?"
"Ke rumah sebentar, ambil persyaratan." Jawab Sena untuk kedua kalinya.
Terdengar suara kendaraan yang memasuki pekarangan. Yohan tersenyum samar.
"Pas! Sini dah lo ikut gue."
Sena mengikuti langkah Yohan dengan wajah bingung. Diluar sana terparkir mobil pick up dengan sebuah sepeda motor yang masih terbungkus plastik.
"Turunin sini aja, pak." Yohan memerintah. Tak lama kendaraan berwarna putih itu telah terparkir dengan manis tepat di depan rumah Yohan.
Sena masih berdiri disana, menunggu Yohan yang tengah menandatangani sesuatu, mungkin tanda terima atau apapun.
"Gimana, lo suka?" Yohan merangkul pundak Sena.
"Bagus sih. Kak Yohan mau jadi anak motor, ya?"
"Ck. Itu buat elo." Yohan mencopot plastik yang melindungi beberapa bodi motor.
"Lo cek dulu dah, ditungguin sama orangnya tuh." Sena menoleh pada dua orang pegawai dealer yang menatapnya sambil tersenyum.
"Nih kuncinya."
Setelah pengecekan dan tes drive singkat, pegawai dealer pun pergi.
"Kak ini serius?" Sena menyerahkan kunci pada Yohan."Aku gak mau, kak. Gak pantes nerimanya."
"Terima aja, Sen." Yohan menghindar, membuat Sena berdiri mematung sambil memegang kunci.
"Kalo second itu takut banyak minusnya tapi lo gak teliti pas ngecek. Mending baru, kan?"
Yohan menggiring Sena mendekati motor barunya. "Tapi gak kegedean kan, Sen? Lo berat gak bawanya?"
Sena menggeleng, "Enak banget, kak." Sena nyengir. "Terimakasih. Kak Yohan salah satu orang yang berjasa di hidupku. Semoga amal ibadah kakak diterima."
"Gue masih pengen idup lama." Yohan mencubit hidung Sena. "Tunggu sepuluh menit, gue ikut ke rumah lo, ya?"
Sebelum Sena membalas, Yohan sudah melesat pergi ke dalam rumahnya.
*
Yohan asik merokok di bawah pohon mangga, saat Sena sibuk membuka-buka lemari arsipnya.
Sena mengeluarkan ijazah serta beberapa data pribadi, melihat kembali brosur untuk memastikan tidak ada yang terlewat.
Yohan menghisap rokok ketiga saat Sena keluar dari rumah dengan sebuah clear folder di tangan.
"Udah?" Sena mengangguk. Ia mendekati Yohan yang bersandar pada pagar putih yang sedikit berlumut.
"Aku bakal sering kesini, kalau pulangnya kemalaman." Ucap Sena.
"Lebih deket kesini?" Tanya Yohan.
Sena mengangguk-angguk. "Tapi tenang aja, aku gak akan ngelupain kewajibanku sebagai asisten." Sena menjawab cepat.
Yohan tertawa, mengetuk abu di ujung rokoknya lalu menghisapnya kembali.
"Gue emang ada rencana ambil asisten baru."
"Kak Yohan mau pecat aku?" Sena berucap pelan.
"Hah? Enggak lah!" Yohan membuang rokoknya yang masih tersisa setengah. Ia menatap kesana kemari. Lingkungan rumah tersebut memang sepi, khas perumahan komplek yang sepi jika di siang hari.
"Masuk dulu deh." Sena mengikuti langkah Yohan.
"Gue ngerasa kerjaan lo emang seharusnya dikerjain dua orang. Maaf selama ini gue gak peka."
Sena membulatkan mulut tanda mengerti. "Selagi aku gak ngeluh tandanya masih sanggup." Pemuda itu nyengir setelahnya.
"Terus udah dapet orangnya?"
"Tio yang urus, gue sih terima beres. Lo ada kriteria? Biar gimanapun kan bakal jadi patner kerja lo, Sen."
"Yang baik sama jujur. Itu paling penting sih." Sena nyengir.
Yohan berdecak, "Template banget. Mau cewek atau cowok?"
"Terserah kakak aja." Sena tersenyum. Terdengar suara rintik hujan diselingi gemuruh petir. Sena mengintip dari balik gorden.
"Sepertinya kita disini bakal lama. Mau aku pesenin sesuatu?"
Yohan menyeringai, tak menjawab. Pria itu mengecup bibir Sena sebagai gantinya.
***
TBC
KAMU SEDANG MEMBACA
Senandika [bxb]
قصص عامةTerjebak bersama aktor 'palsu' sama sekali bukan tujuan hidup Sena. Boyslove/BL/Fiction ©Byolatte
![Senandika [bxb]](https://img.wattpad.com/cover/293663594-64-k573847.jpg)