025

172 18 1
                                        

Ruang itu terlalu sunyi. Lampu putih di langit-langit bergetar halus, memantul di ubin yang mengilap. Bau obat dan formalin menyengat, menusuk sampai ke tenggorokan. Di ujung ruangan, tubuh sang ayah terbujur kaku di atas ranjang logam. Selimut putih menutup dari dada hingga ujung kaki, hanya wajah yang dibiarkan terbuka—pucat, dingin, dan damai dalam cara yang menakutkan.

Jimin berdiri diam di sisi ranjang, kedua tangannya terkepal di depan tubuh. Mata yang sembab menatap sosok yang dulu ia sebut “Appa” dengan kebisuan yang panjang.
Setiap detik berlalu terasa seperti mencungkil luka lama yang tak pernah benar-benar sembuh.

“Kenapa baru sekarang kau terlihat tenang, Appa…” suaranya lirih, nyaris seperti gumaman yang ditelan udara.
Tatapannya kosong, tapi air matanya jatuh perlahan ke punggung tangannya. “Dulu, waktu aku kecil, aku cuma minta satu hal—aku cuma mau kau tetap di rumah. Tapi kau memilih pergi.”

Tangannya bergerak pelan, menyentuh lengan jenazah yang dingin.
Kulit itu terasa asing. Seolah lelaki itu bukan lagi orang yang dulu menimang bahunya, bukan yang dulu berjanji akan melindungi keluarga.

Pintu ruang jenazah berderit.
Langkah kaki terdengar di belakang. Jimin tidak menoleh, tapi ia tahu siapa yang datang—karena udara di sekitarnya tiba-tiba berubah menjadi sesuatu yang berat, tegang, penuh rasa bersalah yang tak terucap.

“Hyung…”
Suara itu pelan, parau, tapi menusuk seperti pisau kecil. Jungkook berdiri di ambang pintu, jaket hitamnya lembap oleh hujan. Wajahnya pucat, rambutnya berantakan, dan matanya—mata yang selalu tampak tajam kini kosong seperti kehilangan arah.

Jimin menarik napas dalam.
Ia tak ingin menatap Jungkook. Tidak malam ini. Tidak di hadapan ayah yang kini sudah tak bernyawa.

“Kau sudah lihat apa yang kau mau lihat,” katanya dingin, tanpa menoleh. “Kau bisa pergi sekarang.”

Jungkook diam beberapa saat sebelum melangkah mendekat. “Aku tidak datang untuk bertengkar, Hyung… aku hanya—aku hanya ingin—”

“Kau ingin apa?” Jimin memotong, suaranya retak tapi penuh amarah yang ditahan. “Ingin minta maaf? Ingin bilang kau juga kehilangan? Jangan berani bicara soal kehilangan di hadapanku, Jeon Jungkook.”

Jungkook menunduk. Tangannya gemetar. “Appa tetap Appa-ku juga.”

“Appa-mu?” Jimin tertawa pendek, sarkastik. Ia akhirnya menoleh, menatap adiknya yang berdiri tak jauh dari pintu. “Kau tahu apa artinya itu buatku? Appa-ku meninggalkanku di usia tujuh tahun—karena dia memilih keluargamu. Karena dia memilih ibumu.”

Kata-kata itu seperti cambuk di udara yang sunyi.
Jungkook menatap Jimin, matanya mulai memerah. “Jangan bawa Eomma ke sini. Dia nggak salah.”

“Tidak salah?” Jimin melangkah mendekat, napasnya berat. “Kau pikir aku bodoh? Kau pikir aku tidak tahu bagaimana keluargaku hancur karena wanita itu?”

Jungkook menggertakkan giginya, menahan emosi yang mulai naik ke tenggorokan. “Hyung, Eomma nggak pernah merebut siapa pun! Dia hanya—dia hanya jatuh cinta pada orang yang salah!”

“Dan orang itu Appa-ku,” Jimin membalas cepat, nadanya dingin dan tajam. “Jadi, siapa yang salah di sini?”

Keheningan panjang menggantung.
Hanya suara mesin pendingin ruangan yang terdengar, mengisi jarak di antara mereka. Tubuh Jimin bergetar pelan—antara marah, sedih, dan lelah.
Tangannya menyentuh dadanya sendiri, di mana nyeri samar mulai terasa. Ia tahu tubuhnya tidak sekuat dulu, tapi ia tidak peduli. Tidak malam ini.

Jungkook akhirnya melangkah mendekat ke ranjang jenazah.
Ia menatap wajah sang ayah lama-lama, matanya berkaca-kaca. “Appa kelihatan tenang,” bisiknya. “Mungkin karena akhirnya tidak ada yang harus dia jelaskan lagi.”

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Oct 25, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

GOMAWO Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang