Ayana masih mengantuk saat tiba di Sea Stars. Jujur, ingin sekali dia membolos kerja, tapi dia bukan lagi anak sekolah yang bisa seenaknya membolos. Dunia kerja beda dengan dunia sekolah. Ayana menghela napas dalam, lalu tersenyum lebar saat berpapasan dengan beberapa temannya. Setelah meletakkan tas di loker, gadis itu bergegas menyeduh kopi. Dia butuh kafein.
"Lesu amat, Ay. Kayak semalam habis dilamar aja." Yuni menyipit, meneliti gadis di sampingnya. Yuni tiba lima menit lebih lambat dari Ayana.
Ayana berdehem, tak berniat menjawab. Dia sibuk mengaduk kopi hitam di gelas kecil. Gelas hadiah dari kopi rentengan.
"Tumben pagi-pagi ngopi. Habis lembur?" Tanya Yuni yang masih diburu penasaran. Dan mendapat gelengan dari Ayana. "Semalam nggak tidur? Habis ngedrakor?"
Ayana berdecap. "Kepo amat jadi orang." Lalu meninggalkan Yuni yang masih sibuk menata bekal makan siangnya.
"Wahyu, pesanan kartu nama yang kemarin, udah beres belum?" Ayana mendekati Wahyu yang tengah melaminasi soft cover. Lelaki itu paling bersemangat memulai pekerjaan. Mungkin karena ini hari Jum'at dan besok libur tanggal merah.
"Udah, itu di rak." Wahyu melirik Ayana sekilas. "Jam segini masih nguap. Habis ngapain semalem kamu? Ngedrakor lagi?"
Ayana hanya mesam-mesem.
"Idiih, giliran ditanyai Wahyu, adem bener jawabnya." Yuni bergabung, ikut mengamati Wahyu bekerja. Dia sendiri malah asik mengunyah roti kemasan.
"Kamu nanyanya bukan sekedar tanya, Yun, tapi kepo. Sana ke depan! Malah ngerumpi di sini." Wahyu mengusir Yuni yang kini memberengut.
"Ayo, Ay. Kita ke depan."
"Bentar, mau abisin kopi dulu. Tanggung." Ayana mengangkat gelasnya, menunjukkan kopi yang tersisa setengah. Dia memang pecinta kopi, tapi tak bisa meminumnya dengan lembut. Gadis itu lebih suka meminumnya langsung, tanpa perlu dicecapi perlahan-lahan seperti orang-orang kebanyakan.
"Semalem habis nonton apa sih? Sampe dibela-belain begadang segala," Yuni mendesak Ayana untuk bercerita. Sepertinya gadis itu kehabisan topik obrolan.
Nah, kan. Baru juga dibilangi, Yun.
"Biasa, Lie to Me," sahut Ayana pelan.
"Yaelah!" Yuni melotot, "Gak bosen apa, nonton drama itu mulu. Kalau gak Princess Hours, ya Lie to Me. Kayak kagak ada drama lain aja. Banyak drama baru kali, Ya."
"Kagak lah. Emang suka aja sama pemeran ceweknya. Terus jalan ceritanya, kayak real banget, gitu." Iya, mirip sama kisahnya sekarang. Pura-pura menjalin hubungan, demi menutupi status jomlo. Bedanya, kali ini pihak laki-laki yang membutuhkan sandiwara.
"Nontonnya ditunda nanti malem kan, bisa? Lembur sampe lusa juga monggo, mumpung tanggal merah di akhir pekan," sahut Yuni sewot.
"Ngidam nontonnya semalem, kok ditunda nanti, beda lah." Ayana meneguk kopinya hingga tandas. "Ayo ke depan, nanti dimarahin Mas Bos."
Yuni menurut meski diiringi gumaman panjang. Keduanya berdiri di depan etalase, menunggu pelanggan datang. Menyambut dengan senyum dan sapa, sesuai permintaan Ibra, dalam melayani pelanggan.
Lepas jam makan siang, toko semakin ramai. Ayana bahkan belum sempat makan siang. Dia sibuk memfotokopi beberapa lembar KTP, KK dan akte dari beberapa pelanggan. Sedangkan Yuni, berdiri di balik mesin foto kopi lainnya dengan buku tebal dan beberapa lembar kertas. Wahyu sendiri sibuk menjilid dan laminating di belakang. Hingga matahari mulai tergelincir ke barat, keramaian toko mulai mereda.
Yuni berselonjor, memijat pahanya dengan memukul perlahan. Sedangkan Ayana melipir ke belakang, perutnya berteriak minta diisi. Tadi pagi dia tak sempat sarapan, hanya minum kopi. Begitu tiba di pantry, tak ada makanan yang bisa mengganjal perutnya. Gadis itu berinisiatif meneguk dua gelas air putih. Masih lapar, tapi perutnya tak seberisik tadi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Next Chapter
RomanceAyana terikat hubungan palsu dengan Ibra, pemilik toko tempatnya bekerja. Niatnya untuk menolong si bos, membuat Ayana berada dalam dilema. Sikap manis Ibra dan keluarganya membuat Ayana takut. Ayana meminta hubungan 'palsu' mereka berakhir, tapi I...
