Ayana tak menduga, jika kedatangannya bisa membuat Rista berbunga-bunga. Wanita itu menyambutnya dengan semringah, tak berhenti tersenyum walau sedang sibuk menyiapkan acara. Begitu mereka tiba, Ibra yang dibantu Ayana, segera menyingkirkan sofa dan menggelar karpet. Ayana juga turut membantu Rista menyiapkan kudapan, menata buah dan kue di piring-piring saji. Gadis itu begitu luwes melebur di keluarga Ibra. Seperti sudah menjadi bagian dalam keluarga.
"Sudah Maghrib, kamu mandi dulu. Bawa baju ganti, kan?" Rista menyentuh bahu Ayana saat keduanya selesai menata bolu yang dibawa gadis itu.
"Bawa, kok Tante."
"Buun-da! Panggil Bunda. Kok masih tante aja."
Ah! Gadis itu meringis. "Eh, iya, Bun. Maaf, udah seminggu nggak ketemu. Jadi lupa."
"Ya sudah, sana mandi dulu. Habis itu makan. Pulang kerja pasti laper."
Ayana menurut, mengambil totebag yang dia sampirkan di kursi meja makan. Dia melongok ke ruang tengah mencari sosok Ibra, yang tiba-tiba menghilang setelah ditinggal ke dapur. Setelah memastikan tak kunjung menemukan si bos, gadis itu kembali mengusik Rista.
"Bun, kamar mandinya di mana, ya?"
Rista yang tengah mencuci peralatan dapur menoleh. Wanita itu diam sejenak, sedang berpikir.
"Kamu mandi di kamar saya." Suara Ibra yang tiba-tiba datang, membuat kedua wanita di dapur berjengit. Lelaki yang sudah berganti pakaian itu berjalan mendekat dengan santai, melewati Ayana yang berdiri kaku. Dia tak tahu saja, bagaimana jantung Ayana berjumpalitan tak karuan.
"Bunda juga belum mandi, kan? Kalian mandi dulu, sana. Biar saya yang beresin," lanjut Ibra kian mendekat, merebut spons di tangan Rista. Aroma mint dan cytrus seketika menguar di dapur.
"Kamu itu, bisanya bikin Bunda jantungan aja." Rista mengembuskan napas dalam. "Ya sudah. Ayo Ayana, Bunda tunjukkan kamar Ibra."
Gadis itu menurut, tak ingin membantah. Lebih cepat lebih baik. Toh, dia hanya numpang mandi. Hanya saja, mandi di kamar Ibra, tak pernah terpikirkan olehnya. Berandai-andai masuk ke kamar bosnya saja, dia tak pernah. Hal itu yang membuat perutnya seketika melilit. Rasa-rasanya, dia seperti pengantin baru yang sedang di antar ke kamar pengantin saja.
Aduh! Gadis itu menggigit bibirnya. Menyadarkan halusinasi yang tiba-tiba mendera.
"Bunda, di kamarnya Mas Ibra ada mukena, nggak? Kalau nggak ada, aku bisa mandi di kamar Bunda aja. Antri nggak apa-apa." Ayana berbisik saat mereka berada di depan sebuah pintu kamar, yang dia tebak adalah kamar milik si bos. Dia berusaha mencari celah untuk kabur.
"Nggak ada lah, Ay. Memangnya dia nyimpen mukenanya siapa? Udah, nanti Bunda pinjemin."
"Ayana mandi di kamar Bunda aja, deh. Nggak enak numpang di kamarnya Mas pacar." Lidahnya mendadak kelu saat mengucap dua kata terakhir.
Rista terkekeh, "Ibra bener, Ayana. Kalau kita gantian, nanti lama. Keburu Isya nanti. Kalian jamaah saja,"Rista mendekati telinga Ayana. "Bunda lagi halangan."
Rista membuka pintu kamar Ibra, mendorong Ayana masuk. "Nanti mukenanya Bunda taruh di tempat tidur. Kamu mandi dulu sana. Bunda juga mau mandi."
Sudah kepalang tanggung, pintu pun sudah tertutup rapat. Ayana menghela napas panjang, pasrah dengan nasibnya kali ini. Dia berjalan perlahan sambil melihat-lihat isi kamar bosnya.
Kamar yang didominasi warna putih dan abu-abu itu tampak rapi. Tak banyak dekorasi di dinding bercat putih, hanya ada lukisan abstrak berwarna monokrom. Tepat di sebelah lemari hitam yang ia tebak berisi pakaian, terdapat sebuah pintu. Ayana pikir, itu pasti kamar mandi yang dia cari-cari.
KAMU SEDANG MEMBACA
Next Chapter
Storie d'amoreAyana terikat hubungan palsu dengan Ibra, pemilik toko tempatnya bekerja. Niatnya untuk menolong si bos, membuat Ayana berada dalam dilema. Sikap manis Ibra dan keluarganya membuat Ayana takut. Ayana meminta hubungan 'palsu' mereka berakhir, tapi I...
