Mulanya, Ayana berpikir hidupnya sudah kembali. Tak ada lagi nama Ibra yang mengganggu sepanjang hari. Mereka kembali ke jalan yang benar, jalan yang diridhoi semesta. Itu yang dia pikirkan beberapa waktu yang lalu.
Ternyata, tiga bulan menjadi kekasih pura-pura Ibra, menyisakan ruang tersendiri di hidupnya. Seperti ada sesuatu yang hilang tapi tak bernama. Ayana tak habis pikir, bagaimana bisa lelaki yang mengajaknya bermain-main dengan cinta itu justru meninggalkan jejak yang sulit dihapus. Jejak Ibra seperti anomali yang tak dapat dihapus tapi tak mampu ditanam. Aneh dan nggak nyambung.
Dua minggu berlalu begitu saja, tanpa sesuatu yang berarti. Mereka tak pernah bertemu. Entah Ayana harus bersyukur atau kesal karena Ibra seperti tiba-tiba menghilang. Lelaki itu tak membalas chat atau panggilannya, bahkan yang berhubungan dengan kerjaan sekalipun. Seakan segala urusan Sea Stars dibiarkan terbengkalai begitu saja. Ibra seperti membuang Ayana beserta segala hal yang menyangkut gadis itu.
Huh, dasar orang gak butuh duit!
Ayana jadi kesal sendiri. Gadis itu memijit pangkal hidungnya yang berdenyut. Efek begadang nonton film gratisan di YouTube semalam. Ayana berniat menyegarkan mata dengan makan siang. Bergegas dia menuju pantry. Netranya tak sengaja menangkap sosok Yuni yang duduk di dekat dispenser seraya memainkan ponsel. Sebelah tangannya memegang segelas kopi.
Tiba-tiba Ayana punya ide. Perlahan dia mengambil bekal yang tersimpan di loker. Saat ini Ayana masih berusaha membujuk Yuni. Gadis itu tak gentar berlagak sok kenal sok dekat, walau Yuni masih cuek setengah mati. Bagi Ayana, tak ada mantan teman. Yang ada hanya mantan pacar. Eugh!
"Ada yang mau rujak, nggak?" Ayana mengeluarkan dua cup potongan buah dari kresek. Melirik Wahyu yang duduk dengan satu kaki dinaikkan ke kursi. "Mangganya asem, Yu. Seger banget!"
"Kamu lagi ngidam, Ya?" Wahyu melambai, meminta Ayana mendekat.
"Heh! Ngidam-ngidam, lambemu minta di sekolahin?" Sengit Ayana tak terima. Meski begitu, dia tetap berjalan mendatangi Wahyu.
"Anjiir, asemnya ngalah-ngalahin cerita hidupmu." Sahut Wahyu setelah mencocol potongan mangga ke bumbu kacang.
Kali ini, Ayana memukul tangan Wahyu. "Kan, sudah tak bilangin. Mangganya asem. Itu kuping dipakai, Yuuuu! Jangan buat dengerin gosip, doang!"
"Yun, nggak mau nyobain, kah? Enak ini, seger."
Tiba-tiba saja Wahyu mengoper pembicaraan, tanpa persiapan, membuat Ayana seketika membisu. Detik seakan berjalan lambat. Gadis itu menunggu dengan gelisah reaksi dari Yuni.
"Nggak usah jaim, Yun. Kalau mau ya ambil aja. Nggak usah ditahan-tahan. Nanti ngiler."
Yuni hanya menoleh sesaat lalu kembali menekuri ponsel. Seakan rujak yang Wahyu tawarkan tak menarik sama sekali.
Ayana mendengkus, lelah dengan kesenjangan ini. Gara-gara memutuskan sesuatu tanpa pikir panjang, kini dia yang kesulitan sendiri mendapatkan hati Yuni. Ayana melirik Wahyu, menemukan tatapan sendu dari lelaki yang selalu bertingkah jahil itu.
Tidak bisa!
Meski rasanya tak karuan, dia harus mengakhirinya.
Ayana berdiri, mengambil satu cup rujak dan meletakkan di depan Yuni. Membuat gadis yang sibuk menunduk itu mendongak seketika. Menatap tak suka dengan kelakuan Ayana.
"Buat kamu. Aku sengaja beli di langganan kita." Ayana masih berdiri, menunggu Yuni mengeluarkan suara. Namun sepertinya kesabaran gadis berkuncir kuda itu sudah habis. "Aku minta maaf ya, Yun. Aku beneran gak ada apa-apa sama Mas Ibra."
Tak ada jawaban dari Yuni, membuat Ayana kembali meneguk ludah.
"Yun ... Ngomong lah. Kamu kalau marah nyeremin," lirih Ayana frustasi.
Yuni masih mempertahankan ekspresi kakunya, hanya kedua alisnya yang saling bertaut.
"Yuun ...," Ayana mulai merengek. Tak peduli dirinya menjadi tontonan anak-anak lain. Toh, toko sedang sepi. Ayana bahkan sudah bersiap mengeluarkan air mata, dia berjongkok di dekat lutut Yuni. Berpose seakan sedang sungkem.
"Kamu kenapa sih, Ya? Gak usah lebai, deh!"
"Akhirnya Miss Yuyun mengeluarkan titahnya." Wahyu berseru sambil bertepuk tangan, yang seketika mendapat tatapan mengancam dari Yuni. Sementara Ayana mengembuskan napas lega.
"Dimaafin ya, Yun?" Tanya Ayana memastikan.
"Hemm ...."
"Yuun ...!"
"Iya-iya. Udah berdiri, sana!"
Ayana seketika memeluk Yuni, mengguncang-guncang tubuhnya membuat Yuni kewalahan. Bahkan Ayana tak segan mencium pipi Yuni yang masih berusaha mengelak.
"Kalian kenapa?"
Tubuh kedua gadis itu membeku. Ayana melirik Yuni, mengamati respon gadis itu. Namun tak ada riak berarti yang dia tangkap. Meski masih didera rasa canggung yang luar biasa, Ayana mencoba bersikap santai. Di luar boleh tak ada apa-apa, tapi dalam hati siapa yang tahu? Eh!
"Nggak ada, Mas. Lagi kangen aja sama Yuni."
Ibra tak menyahut, dia berlalu begitu saja menuju lantai dua. Sementara Ayana yang sejak tadi menahan napas karena tegang, kini berusaha mengeluarkan udara berulang kali. Ayana berniat kembali ke kursinya, tapi gumaman Yuni membuatnya membeku.
"Nggak disusul tuh pacarnya?"
Lagi-lagi Ayana mengambil napas panjang lalu membuangnya perlahan. Oke, oke. Gak ada lagi Ayana mode galau, yang ada sekarang Ayana mode setelan awal. Ayana menoleh, bersiap membalas ucapan Yuni. Namun seketika dia membeliak. Bukannya ekspresi kesal, yang dia temukan justru senyum miring Yuni. Senyum yang sudah lama hilang dari bibir gadis itu untuk Ayana.
"Kamu ...." Ayana tak dapat meneruskan kata-katanya. Ini terlalu membuatnya terkejut. Yuni yang tiba-tiba tersenyum menggoda?
"Kenapa?" Masih bertahan dengan senyuman tipisnya, Yuni kembali bertanya. Kali ini disertai dengan kedua alis yang naik turun.
"Serius ini kamu, Yun? Kamu nggak marah malah godain aku?"
Yuni mencebik, "Yeee ... Ini aku, lah. Masa ada orang gila yang mau cosplay jadi Yuni."
"Abisnya kamu aneh." Ayana meneguk ludah, ragu-ragu dia kembali bersuara. "Kita habis kayak gini gara-gara kamu kesel sama aku perkara Mas Ibra loh, Yun. Gimana aku gak merasa aneh?"
"Aku marahnya bukan karena cemburu loh, Ya. Tapi kamunya yang bohong."
Kening Ayana berkerut, semakin tak mengerti. "Aku bohong apalagi memangnya, Yun?"
Yuni mendorong bahu Ayana, menyuruhnya kembali ke kursi. "Aku nggak kecewa kamu beneran pacaran sama Mas Ibra. Tapi kamu tiap kutanya selalu berlagak biasa-biasa aja. Sok-sokan mengelak. Padahal gelagatmu itu kelihatan sekali. Itu yang bikin aku kesel. Kenapa harus ditutupi dari kita kalau ujung-ujungnya mesti dipamerkan ke dunia?"
Ayana tertegun lantas mengerjap bingung. Matanya berkedip-kedip, bibirnya membulat. "Sebentar, dipamerin ke dunia gimana maksudnya?"
"Diposting di sosmed sama aja sama dipamerin ke dunia, kan, Ya?"
"Dipamerin sosmed apanya? Siapa?" Ayana mulai menggigit bibir bawah, ketakutan mulai merambat. Segala praduga mulai bermunculan.
"Ya di Instagramnya Mas Ibra, lah. Di tag juga sama temen-temennya. Ada foto kalian lagi kondangan."
Sebentar.
Jadi ini maksudnya apa?
-o0o-
Senin, 11 Agustus 2025
Vita
KAMU SEDANG MEMBACA
Next Chapter
RomansaAyana terikat hubungan palsu dengan Ibra, pemilik toko tempatnya bekerja. Niatnya untuk menolong si bos, membuat Ayana berada dalam dilema. Sikap manis Ibra dan keluarganya membuat Ayana takut. Ayana meminta hubungan 'palsu' mereka berakhir, tapi I...
