18. Terkatung-Katung

290 44 10
                                        


Ayana terbangun dengan nyeri hebat di kepala. Diusapnya kening yang mengkerut. Berharap nyeri yang mendera perlahan terurai. Gadis itu meringis, mengingat penyebab sakit kepalanya. Kebiasaan kalau dia begadang pasti keesokan harinya selain mengantuk, sering kepalanya ikutan protes.

Ayana mendesis, menyesap teh bercampur jamu herbal sasetan, yang membuatnya mulai rileks. Aroma peppermint menguar kuat menusuk hidungnya. Dia sudah seperti orang jompo yang doyan minuman ini. Gegas gadis itu menghabiskan teh sebelum keriuhan Yuni dan Wahyu mengganggu me time-nya di pantry yang begitu singkat.

Sebenarnya semalam dia tidak tidur terlalu larut, pukul sebelas masih terlalu sore untuk penggila maraton drama, kan. Hanya saja, apa yang terjadi beberapa hari sebelumnya mengganggu kepala Ayana. Setelah ungkapan yang dia lontarkan di depan Ibra dan Asha malam itu, mereka menjadi canggung.

"Kalian ... sudah ... berciuman?" lirih Asha yang seakan ingin memastikan kebenarannya langsung dari Ibra. Membuat Ayana memutar bola matanya jengah. Asha memang bebal jika menyangkut Ibra. Jiwa pejuangnya kuat sekali. Andai saja Ayana tak terlibat hubungan dengan Ibra, tentu dia akan senang hati mendukung Asha.

"Menurutmu, pacaran orang dewasa harus yang seperti apa, Sha?" Karena Ibra tak kunjung mengeluarkan suara, Ayana jadi gemas sendiri. "Main surat-suratan? Atau titip salam, gitu?"

"Ay ...." Ibra mendesis. Nah, saat Ayana sudah siap dengan segala amunisi, kenapa Ibra justru menegurnya. Pacarnya memang nggak asik. Mengusili bocah kelewat bucin itu seru, tahu!

"Kenapa, Mas?" Ayana sepenuhnya memusatkan perhatian pada Ibra yang kini menatapnya tajam. "Aku cuma menjawab pertanyaan Asha, kok. Biar dia nggak penasaran lagi sama hubungan kita."

Ibra hanya menggeleng pelan dan berdiri. "Saya ke depan dulu," imbuhnya sambil membawa piring kotor ke dapur.

Karena tak ingin terjebak berdua dengan Asha, Ayana memilih membereskan peralatan makanannya dan berniat menyusul Ibra. Namun tubuhnya membeku saat Asha kembali menghujani tatapan tajam.

"Bagaimana rasanya?"

Kedua alis Ayana naik, pun kernyitan di kening yang semakin berlipat.

"Bagaimana rasanya berciuman dengan Mas Ibra?"

Hah?
Ayana sampai harus memajukan wajahnya demi memastikan telinganya tidak salah. Asha ini benar-benar .... Tak ingin terlibat peperangan seorang diri, Ayana berusaha menenangkan jantungnya. Dia menarik napas dalam berulang kali. Ibra sudah menyuruhnya tak lagi meneruskan soal ciuman itu, tapi lihat sekarang. Siapa yang mancing-mancing? Harusnya lelaki itu ada di sini melihat sendiri kelakuan adik tercintanya ini.

"Rasanya, ya? Hmm ... Luar biasa."

Ayana tidak tahu, dan tidak mau tahu lagi bagaimana reaksi Asha. Karena setelahnya dia menyusul Rista yang bercengkerama di taman samping dengan Gala dan Ibra yang tengah membakar jagung. Dan tak lama kemudian disusul Asha, walau raut gadis itu tak seceria tadi. Tapi dia pandai membuat suasana menjadi lebih riuh dengan celotehnya.

Meski menjadi satu-satunya orang asing di sini, Ayana tak kesulitan untuk membaur. Menjadi sosok kalem yang pendiam adalah jalan ninjanya. Hingga saat jam menunjukkan pukul sembilan lebih, Ibra mengajaknya pulang. Ayana akhirnya bisa bernapas lega.

Drama penyiksaan akan segera berakhir. Dia akan membicarakan apa yang terjadi malam ini dengan Ibra. Ternyata dia salah besar. Ibra tak hanya mengajaknya pulang, tapi juga diikuti Rista. Hampir saja Ayana melupakan ibunda Ibra yang memang satu rumah dengan Ibra.

Gagal berbicara berdua, Ibra pun seperti menjaga jarak. Lelaki itu tiba-tiba kembali menjadi kanebo kering saat di perjalanan Rista tak henti-hentinya meneror soal pernikahan. Ayana gelagapan harus meladeni permintaan Rista yang sudah sangat jauh melebihi batas kemampuannya menjadi kekasih Ibra. Perkara ciuman saja belum usai, kini harus bertambah masalah pernikahan.

Next ChapterTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang