"Dapat melatinya, Ay?" Rista berbinar menyambut kedatangan Ayana yang menenteng makanan di kedua tangannya. Wanita itu menunjuk kursi di sebelah, menyuruhnya duduk. Sementara gadis yang dia tanyai tak menjawab, hanya tersenyum lebar untuk menenangkan Rista.
"Nggak berani, Tante. Takut dimarahin Mbak-Mbak make up yang jagain di bawah pelaminan."
Semburat kecewa menghiasai wajah Rista. Wanita itu mengembuskan napas dalam, lalu kembali mengobrol dengan Ayana. Keduanya tak terlihat canggung, walau baru beberapa kali bertemu. Sesekali Rista mengusap punggung Ayana, seakan mencurahkan kasih sayang pada anak perempuan yang tak pernah dia miliki.
"Eh, ini Ibra kemana?"
Seakan baru tersadar, Rista menjelajahi venue. Mencari anak lelakinya yang tak kunjung datang. Decakan kesal terdengar dari bibirnya yang bergincu merah.
"Tadi Mas Ibra ketemu sama teman-teman kuliahnya, Tante."
Rista mengangguk-angguk, "kamu nggak dikenalin ke temen-temennya Ibra?"
Seakan tahu maksud wanita di sampingnya, Ayana tersenyum simpul. "Udah kok, Tante. Tapi ... karena aku udah laper, jadi aku izin ke Mas Ibra buat makan duluan."
Kali ini Ayana tak mengarang, dia memang sempat berkenalan dengan beberapa teman Ibra. Dia sebenarnya ingin berdiri di sana, menemani Ibra mengobrol walau dirinya tak bisa ikut masuk dalam obrolan mereka. Hanya saja, lama-lama dia risi juga. Sedari tadi diam dan memasang senyum tipis. Gadis itu akhirnya pamit mau makan saja. Tentu Ibra tak bisa menolak, karena teman-temannya masih ingin menginterogasinya.
"Tuh, Mas Ibra masih foto bareng sama teman-temannya, Tante."
Di pelaminan, Ibra dan beberapa temannya berfoto bersama dengan berbagai gaya. Dari yang formal hingga awur-awuran. Ayana bahkan sampai terbengong, melihat Ibra bisa sesantai itu bergaya di kamera, di depan banyak orang pula. Si kanebo kering bisa lemes juga ternyata.
"Yang nikah itu, satu-satunya teman Ibra yang belum nikah. Kalau teman-temannya yang lain, sudah pada nikah semua, sudah ada yang punya anak juga. Sekarang tinggal Ibra sendiri yang belum nikah. Bunda harap, kalian bisa sampai ke pelaminan juga."
Ayana terbatuk, kuah bakso yang dia seruput tiba-tiba membakar tenggorokannya. Dia mengambil minum dan menghabiskannya. Untungnya Rista tak terlalu menyadari kegugupan Ayana. Wanita itu justru membantu menepuk-nepuk punggung Ayana.
"Pelan-pelan Ay, habis makan sate, sekarang bakso. Kamu tadi nggak diajak sarapan Ibra dulu?" Rista menggeleng pelan, "Dasar itu anak, ngajak anak orang jalan pagi-pagi, kok nggak dikasih makan."
Ayana menyipit dengan kerutan di kening, jalan pagi-pagi? Perasaan, Ibra datang ke kosnya nggak pagi-pagi amat. Mau tanya jam berapa lelaki itu pergi menjemputnya, juga nggak enak. Takut nanti ketahuan. Lagian, ngenes amat nasib bosnya itu. Sudah kelamaan menunggunya, eh sekarang jadi jomlo tunggal di antara teman-temannya. Pantas saja bundanya mencecar buat cepetan punya pacar.
"Aku udah sarapan kok, Tante." Dia tidak bohong juga, setengah roti bakar dan setengah cangkir cokelat hangat, bisa disebut sarapan, kan?
"Oh, syukur lah. Pagi itu harus sarapan, jangan sampai nggak sarapan. Entah roti, rebusan atau nasi. Yang penting perut ada isinya. Dulu Bunda pernah pingsan di kantor gara-gara telat makan, loh, Ay. Padahal waktu itu Bunda ngarepnya hamil, eh ternyata bukan." Meski diakhiri tawa ringan, Ayana dapat melihat mata Rista berkaca-kaca. Entah karena memang lucu, atau ada hal lain yang menjadi kenangan wanita itu.
"Serius amat ngobrolnya," sela Ibra yang langsung mengambil duduk di depan wanita-wanitanya. Lelaki itu lantas sibuk mengunyah sate, tak mengindahkan tatapan penuh selidik dari Rista.
KAMU SEDANG MEMBACA
Next Chapter
RomanceAyana terikat hubungan palsu dengan Ibra, pemilik toko tempatnya bekerja. Niatnya untuk menolong si bos, membuat Ayana berada dalam dilema. Sikap manis Ibra dan keluarganya membuat Ayana takut. Ayana meminta hubungan 'palsu' mereka berakhir, tapi I...
