Tidak ada alasan lagi bagi Ayana untuk menuruti semua permintaan Ibra selain urusan kerjaan. Dia yang sudah berbaik hati menolong lelaki itu layaknya ibu peri, sudah di ambang batas sabar. Kemarin dia berhasil kabur, yang untungnya lelaki itu tak mengejarnya. Namun untuk hari ini, Ayana belum tahu. Yang pasti, dia hanya ingin menikmati masa-masa akhir bulan dengan tenang.
"Ceileh, yang habis gajian. Senyumnya selebar perahu."
Rusak sudah mood yang susah payah Ayana bangun hanya karena celoteh Wahyu. Bibir Ayana mengerucut, netranya melirik Wahyu setajam silet. "Kayak yang ngomong enggak, aja. Butuh kaca, Pak?"
Bukan Ayana namanya kalau tak bisa membalas apapun. Kecuali cinta, sih.
"Bulan ini belum berakhir, loh, Ya. Jangan sampai awal bulan nanti gajinya sudah berakhir pula." Wahyu mendekat, satu tangannya menutup mulut. "Kayak hubungan kalian," bisiknya kemudian.
Tentu saja Ayana membeliak, bisa-bisanya lambe luweh satu ini lepas dari kandang.
"Sudah, sana ke depan. Ada cust cantik mau fotokopi, tuh!"
Terbebas dari Wahyu, tak membuat Ayana lega. Karena kini di sebelahnya Yuni berdiri kaku. Ayana sempat terkesiap beberapa detik lalu sebelum menyadari sesuatu yang dibawa Yuni.
"Berapa?" Tanya Ayana setelah berdehem pelan.
"Kembali tiga tujuh." Singkat, jelas, padat.
"Masih marah, Yun?" Ayana sengaja mengulur waktu. Tak ada respon. "Aku nggak ada hubungan apa-apa sama Mas Ibra, kok, Yun."
Setelah menerima uang dari Ayana, Yuni bergegas ke depan. Tak menghiraukan Ayana yang masih menatapnya sendu. Lihat, gara-gara ulah Ibra, dirinya harus kehilangan teman. Imbalan yang tak sesuai dengan apa yang dikorbankan. Ayana membatin nelangsa.
Seharian, dia berhasil mengusir gelisah untuk sementara waktu. Memfokuskan diri pada pekerjaan. Meski diabaikan Yuni, Ayana tak gentar mengajak gadis itu berbaikan. Selalu mengajaknya berbicara di setiap ada kesempatan.
"Nanti belanja sama siapa, Ya?" Wahyu setengah melempar beberapa kertas dan mengetuknya ke meja. Hingga tumpukan kertas itu tertata rapi, lalu disteples di sisi kiri.
"Sendiri aja kayaknya. Nggak ada yang mau nemenin." Ayana tak ingin berbohong, toh sedikit banyak Wahyu tahu apa yang tengah terjadi. Perang dingin antara Ayana dan Yuni sepertinya mulai dirasakan beberapa karyawan Sea Stars.
"Yaaaa, sayang banget aku juga lagi ada garapan. Kalau lagi longgar pasti tak temenin." Wahyu menggunting lakban di bundelan kertas yang tengah dia jilid. "Mau dianter dulu ke Pelangi? Masih nutut, sih."
Ayana menggeleng, mengembalikan tumbler di loker, "Kerjain aja gaweanmu. Mau diambil jam enam, kan? Aku jalan aja gapapa. Belanja dikit, kok."
Tepat pukul tujuh lebih lima menit, beberapa karyawan mulai meninggalkan toko. Sementara Ayana masih sibuk closing harian. Masih tersisa setengah nota yang harus dia kerjakan. Gara-gara terlalu bersemangat belanja restock toko, dia melupakan salah satu hal penting. Yaitu menghindari belanja pada jam pulang kantor, terutama di bulan pergantian tahun ajaran baru. Akibatnya, dia harus berdesakan dengan para ibu-ibu dan mengantre cukup panjang di kasir.
Pukul setengah tujuh lebih dia baru tiba di toko, setelah menghabiskan hampir tiga jam di Pelangi. Dengan tenaga yang tersisa, Ayana bergegas menuju meja kasir setelah meletakkan belanjaan di samping rak yang menyimpan berbagai warna kertas bufallo.
"Mau ditungguin, Ya?" Lagi-lagi suara Wahyu mengiterupsi. Ayana menoleh sekilas, menggeleng. "Ya udah, aku balik duluan."
Bukan hal aneh jika Ayana menjadi salah satu penghuni terakhir. Beberapa kali dia terjebak pekerjaan yang mengharuskan dia pulang sedikit lebih lambat. Dan dia hanya harus mengunci pintu yang masih terbuka sedikit. Sedikit lagi, batinnya menyemangati.
KAMU SEDANG MEMBACA
Next Chapter
RomantizmAyana terikat hubungan palsu dengan Ibra, pemilik toko tempatnya bekerja. Niatnya untuk menolong si bos, membuat Ayana berada dalam dilema. Sikap manis Ibra dan keluarganya membuat Ayana takut. Ayana meminta hubungan 'palsu' mereka berakhir, tapi I...
