16. Ini Apa?

357 47 5
                                        


Kata orang, tidak baik menolak kebaikan orang lain. Tapi kalau kebaikannya membuat si penerima didera resah gelisah, gundah gulana, boleh kah menolak kebaikan orang itu?

Tidak ada yang bisa Ayana lakukan selain menerima semuanya dengan lapang dada. Setelah mengutarakan keluhannya beberapa hari yang lalu, ibunda dari Ibra tetap mengiriminya makan siang. Sia-sia saja waktu itu dia berbicara panjang lebar. Kalau ujung-ujungnya tak ada yang berubah.

Desahan panjang lolos dari bibir gadis yang berdiri di depan meja pantry. Jari telunjuknya mengetuk dua boks makanan Padang yang belakangan menjadi favorit si pengirim. Kali ini dia kebingungan harus pada siapa lagi berbagi makanan. Kemarin Wahyu yang menjadi sasarannya dan dua hari yang lalu jatah Yuni. Tiga hari yang lalu, juga Wahyu lalu Yuni. Begitu terus.

"Kiriman lagi?" Suara Wahyu menggema di bahu Ayana. "Kenapa nggak langsung dimakan? Malah bengong."

"Bingung mau ngasih ke siapa satunya. Kamu mau, Yu? Naspad lagi, sih," tawar Ayana sambil menyerahkan satu kotak makanan.

"Memangnya Yuni nggak mau?"

"Kemarin sudah."

"Aku juga sudah."

"Ish!" Ayana berdecap. "Ngeyel mulu. Mau nggak?" Tawarnya sekali lagi.

"Ya mau, lah. Kapan lagi dapat makan siang gratis."

"Kamu itu, Yu, apa sih, yang nggak nolak? Dikasih nasi putih doang, juga bakal diterima dengan suka cita."

"Iya lah, ngapain nolak rezeki." Wahyu mengintip isi makan siangnya. "Ya, bilangin sama calon mertua. Sekali-kali kirim rawon atau soto, gitu. Biar gak bosen Padang mulu."

Wahyu menepuk pundak Ayana sebelum pergi, membuat gadis itu membeku beberapa saat.

"Ha!" lirih Ayana.

Bagaimana ini?

Apakah hubungan palsunya sudah tercium oleh Wahyu?

Dia harus bicara dengan Ibra. Masalahnya, lelaki itu kini jarang datang ke toko. Kalaupun datang cuma sebentar, tak seperti dulu yang sering mendekam berjam-jam di ruangannya. Ayana menggigit bibir, menimbang-nimbang sesuatu. Haruskah?

Tanpa perlu berpikir lebih lama, dia mengambil ponselnya.

'Mas, nanti ke toko, kah?'

Tak berselang lama, ponselnya bergetar. Rupanya balasan dari Ibra. Sedang santai-santai di antah berantah ternyata si bos.

'Kenapa? Kamu kangen?'

Tuh, kan! Ini yang membuat Ayana ragu. Bisa-bisanya bosnya itu kegeeran akut.

'Aku mau bicara ...'

Ayana tertegun menatap ponselnya. Sejak kapan dia jadi sesantai ini mengobrol dengan Ibra? Membuang saya menjadi aku. Kenapa dirinya baru menyadari sekarang? Gadis itu mendesah, lalu membeliak saat jemarinya tak sengaja menekan tombol kirim.

Tak sampai dua menit, ponselnya berdering. Nama Ibra muncul di layar.

"Halo?"

"Mau bicara apa, Ay?"

"Eh?" Ayana menjauhkan ponsel dari telinganya. "Eng ... Nanti aja, jangan sekarang. Masih jam kerja soalnya."

"Memangnya kenapa kalau jam kerja?"

"Ada anak-anak," Ayana memelankan suaranya. "Takut ketahuan."

"Berarti kalau bukan jam kerja, bisa ngobrol lebih lama, ya?"

"Enggak gitu juga, dong, Mas." Ayana memberengut, "sudah ya, aku mau lanjut kerja dulu."

"Ok, semangat kerjanya, Sayang. Bilang sama bos kamu, suruh naikin gaji kamu bulan depan."

Next ChapterTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang