Minggu pagi yang cerah, libur kerja dan tak ada cucian, bergelung di dalam selimut adalah pilihan yang tepat untuk menghabiskan hari. Sejak semalam, Ayana sudah menyelesaikan semua pekerjaan rumah. Rencananya dia ingin bangun terlambat, lalu mendekam di kamar hingga sore. Benar-benar menerapkan Minggu rebahan.
Sayangnya sejak terbangun subuh, kedua matanya enggan diajak kompromi. Alhasil, dia hanya berguling-guling tidak jelas. Hingga matahari mulai menghangat, barulah gadis itu bangkit dari rebahan.
Ditemani segelas coklat yang mulai dingin dan setangkup roti bakar yang tersisa setengah, Ayana bersandar di pinggir kasur menonton drama Korea. Beberapa WhatsApp dari teman dan grup sengaja dia abaikan. Baru masuk episode keempat, nama Mas Bos muncul. Ayana terkejut hingga panggilan itu pun berakhir sebelum sempat diangkat.
"Paling juga kepencet," gumam Ayana menghibur diri. Tidak biasanya lelaki itu mengganggu karyawannya di hari libur begini.
Namun dua menit kemudian, panggilan itu terulang. Karena diburu penasaran, akhirnya gadis itu menerima panggilan Ibra.
"Halo, kenapa, Mas?"
"Kamu tidak membuka WA saya?"
Ayana menjauhkan ponsel dari telinga, menatap benda pipih itu seperti sebuah jimat.
"WA yang mana?"
Terdengar helaan napas diseberang. "Kamu nggak sengaja lupa dengan omongan saya semalam, kan, Ay? Coba kamu cek ponsel kamu sekarang."
Gadis itu menurut, membuka ponsel dengan panggilan yang masih terhubung. "Oalah ini! Banyak banget yang WA, makanya nggak ketahuan," gerutunya tanpa sadar. "Sebentar, ini maksudnya apa, Mas? Halo?"
Ayana gelagapan. Dia menunggu dengan cemas. Sesekali matanya melirik jam dinding. Nggak mungkin bosnya itu serius, kan?
'Saya sudah di depan kos kamu.'
Mati!
Ayana segera berdiri, mengintip dari jendela. Kedua matanya membola begitu menemukan mobil Ibra terparkir di depan rumah kos. Gadis itu mencoba mengingat kembali, apa yang dimaksud bosnya. Dia benar-benar tidak menduga jika permintaan Ibra kemarin serius, dia pikir bosnya itu tengah mengerjainya.
Meski sempat ragu mau keluar atau tidak, Ayana akhirnya memilih menemui Ibra. Tanpa sempat melihat pantulan wajahnya di cermin, Ayana hanya menyisir rambutnya dengan jari setelah memastikan kaos yang dikenakan tidak terlalu kumal. Salah sendiri bosnya datang pagi-pagi begini. Ah, bukan! Salah dirinya yang belum mandi.
"Mas!" Ayana mengetuk kaca mobil dan mendapati bosnya sudah berpakaian rapi, membuat nyalinya semakin menciut. "Mas Ibra serius mau ngajak ke kondangan?"
"Memangnya saya terlihat seperti mau ke mall ya?"
Ah, salah lagi!
"Ya, nggak salah juga. Ada kok, mas-mas pakai batik jalan di mall." Ayana masih mengeles, menutupi kegugupannya.
"Butuh berapa lama?"
Ayana bergeming dengan dua alis saling bertaut. "Apanya yang lama?" Ketika berbicara dengan Ibra, selalu saja loading otaknya melambat.
"Mandi, ganti baju dan make up. Tiga puluh menit cukup? Saya nggak mau menunggu terlalu lama."
Ayana mendelik, apa-apaan itu? Isi hatinya penuh dengan omelan ngalor-ngidul untuk Ibra. Tak ada nyali untuk mengeluarkan protes, begitu mendapati lelaki berkemeja batik itu menatapnya lekat. Seketika perutnya terasa dililit, tanpa ba-bi-bu lagi Ayana setengah berlari masuk ke kosnya. Ah, belum apa-apa dia sudah mules duluan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Next Chapter
RomanceAyana terikat hubungan palsu dengan Ibra, pemilik toko tempatnya bekerja. Niatnya untuk menolong si bos, membuat Ayana berada dalam dilema. Sikap manis Ibra dan keluarganya membuat Ayana takut. Ayana meminta hubungan 'palsu' mereka berakhir, tapi I...
