"Nggak usah ngadi-ngadi ya, Mas! Udah dibilangin nggak usah bahas itu lagi." Sungut Ayana setelah beberapa saat membeku.
Ibra masih menatapnya lekat, seakan menantang. "Memangnya kenapa? Salah kalau saya bilang kamu jodoh saya?"
"Ya salah, dong! Itu namanya mendahului takdir. Siapa tahu jodohnya Mas Ibra itu beneran Asha."
Kedua alis Ibra menyatu, matanya semakin menyipit. "Kenapa bawa-bawa Asha?"
Kali ini Ayana menyesali ucapannya sendiri. Bisa-bisanya dia menyeret orang lain. Orang yang masih ada hubungan adik-kakak, pula!
"Atau mungkin .... Yuni? Yaa ... Siapa tahu, kan?" Cicit Ayana tak ingin terdengar ragu.
Ibra berdiri, berjalan perlahan mendekati Ayana. "Kenapa harus bawa-bawa orang lain dalam hubungan kita, Ay?"
Lelaki itu berdiri tepat tiga langah di depan Ayana yang masih menatap bingung. Duh, kalau diterusin begini, sangat tidak aman untuk jantung gadis itu. Reflek, tangan kiri Ayana terangkat menahan langkah Ibra.
"Hubungan apalagi, sih, Mas? Tolong diingat baik-baik, kita itu nggak ada hubungan apa-apa. Jadi nggak usah bahas-bahas soal hubungan seakan-akan ini kita pernah pacaran. Pacaran beneran, bukan boongan."
Ibra memajukan tubuh, dadanya yang keras menyentuh telapak tangan Ayana yang masih menggantung di udara. "Kalau menurut kamu seperti itu, kenapa masih dibahas juga alasan kita putus-putusan, hmm? Saya berusaha mengabulkan apa keinginanmu, Ay."
Pandangan Ibra menyipit, seakan menelanjangi isi kepala Ayana yang amburadul. Ayana mengerjap, menyadari jika dirinya mungkin terlalu jauh mencampuri urusan bosnya. Seharusnya dia tidak memikirkan apa alasan hubungan palsu itu berakhir. Toh, yang nantinya akan selalu dicerca juga bukan dirinya. Yang penting urusan dia dengan si bos beres.
"Ya ... Aku kepikiran aja. Walaupun cuma sebentar kenal dengan Bunda, tetap aja aku nggak nyaman seakan-akan aku ini jadi perempuan yang harus dinomorsatukan. Perempuan yang nggak pengertian sama pasangannya, yang maunya cuma dimengerti doang. Padahal kan, aku--"
"Memang begitu," gumam Ibra yang seketika membuat Ayana membeliak.
"Eh, aku nggak kayak gitu, ya, Mas!" Ayana berkacak pinggang. Masih tak terima dia jadi korban di sini.
"Ay, serius kita masih harus bahas ini lagi?" Ibra semakin mengikis jarak. "Kamu tidak mau menikah dengan saya, saya turuti. Kamu mau hubungan ini berakhir, saya turuti. Apapun alasannya, yang penting kita jadi putus, kan? Lalu sekarang, kita harus berdebat hanya karena alasan kita putus? Mau kamu sebenarnya apa sih, Ay? Kamu masih belum move on, apa gimana?"
"Ish! Mas Ibra rese! Siapa pula yang gamon! Aku cuma nggak enak sama Bunda, Maaas! Itu aja, nggak ada alasan lain!" Ayana menjejakkan kakinya ke lantai, dia mulai kesal dan melangkah menjauhi Ibra.
"Saya antar pulang."
Ayana menoleh, memutarkan kedua matanya malas. "Kita nggak ada hubungan apa-apa, ya, Mas. Jadi nggak perlu antar jemput aku seakan-akan kita ini masih punya hubungan ... palsu."
"Sebagai bos di sini, saya hanya ingin memastikan karyawan saya pulang dengan selamat." Ibra masih berdiri di tempatnya, lengkap dengan satu alis yang terangkat.
"Oh, setahuku, nggak ada tuh, karyawan lainnya yang diantar pulang. Mending Mas Bos jemput jodoh, deh. Kasihan lagi nungguin itu jodohnya."
--o0o--
Sial, sial, sial!
Harusnya Ayana bisa lebih jaga sikap. Minimal bibirnya yang minimalis itu tidak terlalu mengumbar sembarangan. Kalau ujung-ujungnya seharian ini dia harus menahan ledakan emosi, lebih baik kemarin dia langsung pergi begitu mengetahui kedatangan Ibra.
KAMU SEDANG MEMBACA
Next Chapter
Storie d'amoreAyana terikat hubungan palsu dengan Ibra, pemilik toko tempatnya bekerja. Niatnya untuk menolong si bos, membuat Ayana berada dalam dilema. Sikap manis Ibra dan keluarganya membuat Ayana takut. Ayana meminta hubungan 'palsu' mereka berakhir, tapi I...
