22. Petak Umpet

378 43 5
                                        


Sebentar lagi gajian. Sesuatu yang paling ditunggu-tunggu oleh semua karyawan. Wahyu bahkan sudah berencana pergi ke bioskop dan makan enak selama sehari. Sementara Ayana justru dilanda gusar. Gajian sudah tak lagi menarik hatinya. Karena isi kepalanya yang mungil itu, terlalu sibuk memikirkan bagaimana cara mengakhiri pacaran pura-puranya dengan si bos.

Setelah pelukan tak terduga malam itu, Ayana terlalu bingung untuk sekedar membalas dekapan Ibra. Dia membiarkan tangannya tergantung tak berdaya hingga dekapan di tubuhnya mengurai perlahan. Ibra tak banyak bicara, dia mengajaknya pulang bersama yang tentu ditolak mentah-mentah oleh Ayana. Dan sayangnya Ibra selalu berhasil memaksa Ayana masuk ke mobil lelaki itu.

Ayana mengurut pangkal hidungnya yang nyeri. Dia sudah kehabisan ide untuk meminta putus. Bahkan Ayana sudah pasrah jika Ibra masih ngotot ingin mengajaknya nikah. Ayana tak ingin berurusan dengan lelaki itu lagi sebagai kekasih palsu. Sebisa mungkin dia akan menjauh. Hanya itu cara terakhir yang tersisa di kepalanya.

Tak ingin berlarut dalam resah dan gelisah, Ayana kembali memfokuskan diri mencatat barang-barang yang harus dia beli. Netranya mulai fokus memindai tumpukan kertas bufallo, linen dan art paper. Tak lupa juga beragam spiral kawat dan plastik yang mulai menipis dibeberapa ukuran. Menghitung stok yang tersisa dan mencatat berapa yang harus dibeli.

Ayana lalu beralih ke etalase depan, mengecek beberapa perlengkapan alat tulis yang dipajang sebagai pelengkap toko. Sesi yang ini bagian tersulit dari sesi-sesi menghitung berbagai jenis kertas. Dia harus mengira-ngira item mana yang harus dikulak kembali.

"Wuaah Pak Temmy! Lama nggak ketemu. Tiba-tiba ngilang, tiba-tiba datang. Udah kayak jinny aja." Teriakan Wahyu membuyarkan konsentrasi Ayana.

Kepala gadis itu mendongak, mencari sumber keributan yang diciptakan Wahyu. Bukan Wahyu namanya kalau tak membuat kehebohan yang seharusnya bisa tidak heboh-heboh amat. Lelaki itu berlari menyambut Pak Temmy yang baru saja melepaskan jaket.

"Halo, Yu. Apa kabar?"

Wahyu berdecih, tak jadi memeluk Pak Temmy. "Kabar baik, Pak Tem. Bapak sehat? Aku sih, sehat. Jalannya lancar? Ah, pasti macet dikit, ya, Pak. Pertanyaan lain, dong, Pak. Template amat."

Tak hanya Pak Temmy yang terbahak, beberapa karyawan yang mencuri dengar pun turut meramaikan toko. Wahyu dan kebisingan adalah paket komplit. Sepertinya, jika tak ada Wahyu, nyawa di dalam toko akan berbeda. Suram, seperti pemiliknya.

"Bawa apaan itu, Pak?" Wahyu celingukan, mencoba mengintip kantung kresek putih yang digenggam Pak Temny.

"Sopan dikit bisa nggak sih, Yu?" Yuni menepuk lengan Wahyu. Yang disusul cengiran Yuni seraya menatap Pak Temmy. "Pak Tem balik ke sini atau cuma mampir?"

"Cuma mampir, kok, Yun. Kenapa, kangen, ya?"

"Ah, Pak Tem bisa aja modusnya," sahut Wahyu yang entah mengapa kali ini dia sangat amat berisik sekali.

"Ini makan siang buat kalian. Bagi-bagi, ya." Pak Temmy berjalan lebih masuk ke toko, menghampiri Ayana yang hanya berdiri menatap kedatangannya.

"Pak Tem," Ayana menyalami Pak Temmy. "Kangen nggak sama aku?" Goda Ayana membuat lelaki yang menatapnya lama itu terbahak.

"Bukannya kebalik, ya? Ada yang kangen sama dia?" Bisik Pak Temmy.

Ayana cemberut, "Apaan, sih, Pak Tem?"

Lelaki berkemeja biru itu menggiring Ayana ke lantai dua. Setelah memastikan tugas Ayana mendata stok barang selesai.

"Gimana progresnya? Udah sampai mana?" Pak Temmy membuka suara saat mereka baru menaiki separuh tangga.

Next ChapterTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang