"Bunda nunggu di ruangannya Ibra saja, deh. Boleh, kan?"
Nggak usah, Bunda pulang aja!
Kalimat itu hanya berdengung dalam hati. Mana mungkin Ayana mengusir ibu dari bosnya, kan? Bisa-bisa dia dipecat, atau minimal potong gaji gara-gara bersikap tidak sopan. Ya walaupun di luar formalitas sebagai karyawan dan bos, status Ayana yang menjadi kekasih Ibra, tak memungkinkan dirinya akan dipecat begitu saja.
"Bunda lagi nunggu Mas Ibra?"
Nggak usah ditanya, Ayana juga sudah tahu jawabannya. Tapi bibirnya suka bertindak sesuka hati, susah dikontrol.
Rista tersenyum lebar, mendekati Ayana. "Bunda nungguin kamu kerja. Boleh, kan, Ay?" Bisik Rista lembut.
Ayana mengangguk. Mau menolak juga nggak enak. Mana sudah dibawain makanan lagi.
"Buruan dimakan baksonya, nanti keburu dingin. Tante mau makan siang di atas dulu. Ayo, Ay, temani Tante makan." Tanpa aba-aba, Rista sudah membawa dua bungkus bakso dan es teh menaiki tangga. Meninggalkan Ayana yang kebingungan mendapatkan tatapan penuh tanya dari anak-anak Sea Stars, terutama Yuni.
"Diajakin maksi berdua, nggak, tuh! Privat, lagi! Masih mau menolak kalian ada apa-apa, Ya?" Yuni mendesis dengan kedua alis terangkat.
Oh tidak!
Jangan sampai pertemanannya bermasalah hanya gara-gara status palsu. Ayana menggeleng, beberapa kali dia mengerjap.
"Bundanya Mas Ibra lagi gabut kayaknya, Yun. Makanya dia ngungsi makan siang di sini." Ayana nyengir. Terserah Yuni bakal percaya atau tidak dengan jawaban ngawurnya. Yang penting dia harus bisa kabur dari sini.
"Aku ke atas dulu, ya. Kalian makan barengan aja gapapa. Nanti kalau ada customer datang, bisa gantian." Ayana mendekati Yuni yang menatapnya sinis. "Nanti aku salamin ke Bundanya Mas Ibra, ya, Yun."
"Nggak usah." Yuni melengos lalu pergi ke pantry dengan membawa sebungkus bakso. Sengaja mengabaikan Ayana.
Ayana menghela napas dalam, belum apa-apa dia sudah mulai oleng begini. Tak ingin menjadi sasaran rasa penasaran orang-orang, Ayana tersenyum masam, lalu beranjak menyusul Rista.
"Kamu nggak suka pakai saos, kan?" Rista menyambut kedatangan Ayana dengan semangkuk bakso yang masih mengepul. Perempuan paruh baya itu lalu duduk di sofa yang berada di sudut ruangan.
Ayana tersenyum kecil, tahu saja Bundanya Si Bos tentang kesukaannya. Pasti si bos gerah harus ditanya-tanya sama Rista. Membayangkannya saja, Ayana sudah ingin tertawa. Menyiksa si bos melalui bundanya ternyata lumayan seru.
"Iya, Bun. Bakso suci begini memang kesukaanku." Ayana menyeruput kuah, mencecap rasa bawang-bawangan dan merica yang tercampur dengan kaldu.
"Bakso suci?"
Ayana berdehem, lupa kalau sekarang dia tengah mengobrol dengan perempuan paruh baya. "Maksud Ayana, bakso putihan begini. Tanpa saus, tanpa kecap. Hehe ...."
"Oalah. Ada-ada aja kamu. Pantesan Ibra betah kalau ngobrol sama kamu." Rista tergelak. "Mau pakai lontong, Ay?"
Ayana menggeleng.
Bukan sebuah penolakan untuk lontong yang ditawari Rista. Namun untuk pernyataan perempuan di sebelahnya. Bundanya si bos memang terlalu menghalu. Mana ada Ibra betah ngobrol dengannya. Telepon saja kalau butuh. Perlu digaris bawahi. Kalau butuh.
Tak sampai sepuluh menit, isi mangkuk Ayana telah tandas. Dia melirik mangkuk Rista yang kebetulan tinggal sedikit.
"Hmm ... Bunda masih mau di sini atau turun? Aku harus ke bawah, nggak enak lama-lama ninggal kerjaan, Bun. Kalau Bunda masih mau di sini, nanti aku panggilin Yuni buat nemenin Bunda."
KAMU SEDANG MEMBACA
Next Chapter
Storie d'amoreAyana terikat hubungan palsu dengan Ibra, pemilik toko tempatnya bekerja. Niatnya untuk menolong si bos, membuat Ayana berada dalam dilema. Sikap manis Ibra dan keluarganya membuat Ayana takut. Ayana meminta hubungan 'palsu' mereka berakhir, tapi I...
