Tidak ada yang tahu isi hati seseorang. Begitu juga Ayana yang kebingungan menerka-nerka apa yang sebenarnya Ibra rencanakan. Salah kah kalau dia selalu berburuk sangka pada bosnya itu? Ayana mendengkus, dia pikir semua urusan pacar pura-pura telah selesai. Ternyata berlanjut ke bab berikutnya.
Sekali lagi gadis berkuncir kuda itu menengok ponselnya yang terbuka. Kolom percakapan di benda pipih itu masih belum berubah. Dengan warna centang yang sama dengan kisahnya, abu-abu.
Ayana
Bisa kita bertemu sebentar, Mas?
Pesan itu sudah terkirim sejak pagi. Namun hingga matahari hampir tenggelam di ufuk barat, pesan itu belum juga berbalas. Ayana pun mematikan ponsel dan meletakkan di meja. Kembali berkonsentrasi pada tumpukan nota yang masih menunggu untuk dikerjakan.
"Pulang-pulang! Pulang-pulang! Kamu nggak pulang, Ya? Woi, Ayana! Pulang!"
"Berisik, Wahyuuu!" Telinga Ayana mendengung mendengar suara Wahyu yang setengah berteriak didekatnya. Tangan kanannya mengibas-ibas, mengusir lelaki kurus yang masih setia mematung di sampingnya.
"Apa? Mau nginep? Udah, pulang sana. Mas bos nggak bakalan datang."
Ayana mendelik, ini bagaimana bisa Wahyu menebak dengan tepat?
"Siapa yang nungguin Mas bos, ini juga mau pulang. Sono, hush! Hush!"
" Ooh, dikira ayam apa? Yun, masa arek ganteng begini disamain sama ayam?"
Wahyu dan segala dramanya. Ayana memutar bola matanya, jengah dengan kelakuan Wahyu tapi di sisi lain hatinya yang sempat merana seharian ini, sedikit terobati.
Memangnya kamu merana, Ayana?
Ayana berdecap, mengusir pikiran gila yang belakangan kerap menyambangi. Diliriknya jam dinding yang seakan tersenyum mengejek. Setelah satu helaan napas panjang, ia akhirnya melanjutkan mengurus tumpukan nota yang masih tersisa sepertiga bagian.
"Aku duluan ya, Ya." Yuni menghampiri meja kasir, menepuk lengan Ayana. "Aman kan, kalau aku tinggal duluan?"
Ayana mengangguk, "Santai, Yun. Kayak nggak pernah, aja. Ini juga tinggal dikit."
"Aku tungguin di depan, deh. Kasihan kalau jomblowati ditinggal sendirian." Wahyu ikut mendekat, di genggamannya terdapat sebungkus tembakau.
"Ah elah! Kalau mau ngerokok bilang aja, kagak usah berlagak nungguin juga," ledek Yuni yang mendapat tarikan di ujung rambutnya.
Sementara Wahyu dan Yuni masih saling mengolok, Ayana bergegas menyelesaikan tugasnya. Sengaja mengabaikan dua manusia berbeda kelamin di sebelah. Sesekali dia juga menyahuti sapaan pamit dari pegawai lainnya.
"Kalian masih mau lanjut debat apa mau pulang?" Sela Ayana tanpa mengalihkan netranya dari nota.
"Duluan ya, Ya. Bisa emosi lama-lama di sini." Yuni melangkah menjauh, disusul Wahyu yang masih berusaha mengganggu Yuni.
Ayana menggeleng pelan, bibirnya tersenyum tipis melihat kelakuan dua temannya itu. Berharap mereka berjodoh suatu saat nanti, pasti lucu.
Sepuluh menit kemudian Ayana membereskan barang-barangnya di meja kasir. Lalu ia menuju pantry untuk mengambil tas lantas bergegas ke lantai dua. Ruangan temaram menyambut kedatangannya, ia mengambil kunci di tempat penyimpanan dan menuju ruangan Ibra.
Suara pintu terbuka menjadi satu-satunya suara di ruangan itu. Ayana menoleh ke belakang sekali lagi, memastikan tak ada penampakan lain. Tak ingin berlama-lama, gadis itu lantas meletakkan tumpukan nota dan uang di laci meja kerja Ibra. Tangannya yang sedikit bergetar membuat tumpukan nota dan uang yang berada dalam genggamannya jatuh berhamburan saat berusaha membuka kunci laci.
KAMU SEDANG MEMBACA
Next Chapter
RomansaAyana terikat hubungan palsu dengan Ibra, pemilik toko tempatnya bekerja. Niatnya untuk menolong si bos, membuat Ayana berada dalam dilema. Sikap manis Ibra dan keluarganya membuat Ayana takut. Ayana meminta hubungan 'palsu' mereka berakhir, tapi I...
