20. Yang Sebenarnya

286 46 11
                                        


Ibra tak pernah segusar ini. Direcoki bundanya untuk mencari pacar saja, dia masih bisa santai dan berpikir tenang. Ketika bundanya melunjak, meminta Ibra menikahi kekasihnya, Ibra masih bisa mencari solusi dan yakin dengan segala usahanya. Namun kali ini, perkara meminta kekasihnya untuk dijadikan istri, kenapa begitu berat.

Padahal apa yang dia tawarkan adalah impian semua wanita, terutama yang sudah memiliki kekasih. Entah mengapa, Ayana justru menolaknya mentah-mentah. Bahkan gadis itu tak memberikan kesempatan Ibra untuk menjelaskan lebih.

Titik permasalahannya ada pada Ayana. Gadis kalem yang ternyata berisik dan apa adanya itu telah mencuri seluruh atensinya. Membuat Ibra terkadang bertindak di luar kendali. Dan kini dia yang kelimpungan memikirkan bagaimana membujuk Ayana.

Embusan napasnya terhela, Ibra memijit keningnya yang berdenyut. Rambut sebahu yang dia ikat asal menyisakan helaian yang menjuntai, lama-lama membuatnya risi. Dia mengikat ulang rambutnya lebih rapi.

Ibra mungkin terlalu percaya diri. Sengaja menjebak Ayana dalam permainan yang dia buat,  yang entah mengapa begitu pas. Seperti sebuah kebetulan saat menemukan alasan sepele dan menjadikan senjata menjerat Ayana. Tanpa ada penolakan, gadis itu menerima permintaannya menjadi kekasih.

Kekasih pura-pura.

Begitu mereka menamai hubungan ini. Segalanya berlangsung mudah. Mereka menjalani hubungan palsu yang tak sepenuhnya palsu, dengan apik. Ayana pandai menempatkan diri menjadi kekasih yang penuh cinta. Bahkan tak jarang gadis itu menempatkan Ibra pada posisi yang sulit. Berkali-kali pula dia harus menahan diri bila Ayana sudah mulai beraksi.

Berada di dekat Ayana, ternyata tak semudah yang Ibra pikir. Gadis itu bagai magnet yang siap menyedotnya. Melihat betapa lihainya Ayana bersikap membuat Ibra ingin mencoba satu peruntungan. Dan seakan semesta mendukungnya, momen yang tak pernah dia duga pun tercipta. Ciuman tengah malam di kamar, membuat Ibra semakin yakin dengan perasaannya.

Teror dari Rista untuk segera menikah, tak lagi Ibra pusingkan. Sebab dia yakin, Ayana tak akan menolak. Setidaknya gadis itu akan memikirkannya lebih dulu, lalu perlahan Ibra akan mengumbar perasaannya. Nyatanya, apa yang terjadi kemarin, membuat semua harapan Ibra terpatahkan. Ibra jadi menyesal karena terlalu percaya diri. Dia mengabaikan satu fakta, jika hubungan yang mereka jalin adalah sebuah pura-pura. Dia salah menafsir kadar perasaan Ayana padanya, yang ternyata masih abu-abu.

Lelaki itu mendengus, dia harus berubah haluan. Dan kali ini dia tak boleh gagal.

-o0o-

Gila!

Mas Ibra benar-benar keterlaluan bercandanya. Bukannya merinding, Ayana justru tertawa terbahak-bahak. Dia pergi begitu saja setelah derai tawanya reda. Tak ingin menggubris permintaan Ibra yang kali ini terlalu berlebihan. Tak peduli ketika lelaki itu membisu menatap kepergiannya.

Namun tetap saja, mengajak orang lain nikah sembarangan, nggak lucu juga. Si bos sepertinya lagi di fase depresi jodoh akut. Ayana jadi kasihan, tapi mau bagaimana lagi. Dia sendiri ogah kalau dijadikan tumbal.

Terlihat jomlo bukan berarti tidak bahagia. Kecuali Ibra, sih. Ayana memang jomlo, tapi dia bahagia. Very very happy. Sedang di fase menikmati hidup. Sedang di momen membahagiakan diri sendiri, tak ingin memusingkan masalah orang lain. Ayana bahkan sudah lupa, kapan terakhir kali dia memiliki pacar. Dua tahun, tiga tahun atau empat tahun yang lalu?

Dia tidak munafik, pernah menikmati masa-masa berpacaran. Memang tak banyak mantannya, mungkin hanya dua, itu pun sudah termasuk cinta monyetnya. Kisah cintanya pun beragam dengan jangka waktu yang cukup lama. Ayana tipe kekasih setia, tak akan mundur sebelum benar-benar tak sanggup bertahan. Dan cerita cintanya yang terakhir berakhir buruk. Tak sampai membuat Ayana trauma, hanya saja dia jadi lebih tertutup pada hatinya.

Next ChapterTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang