13. Di Luar Skenario

347 42 10
                                        


Bukan maksud Ibra membuat Ayana menunggunya terlalu lama. Apalagi sampai membuat gadis itu marah.

Dia sudah berkali-kali menengok ke arah pintu saat tengah bercengkrama dengan abang tukang bakso. Namun gadis itu tak kunjung keluar. Saat beberapa tamu Rista yang tersisa pamit, barulah lelaki itu tersadar. Ternyata dia yang sudah menunggu terlalu lama. Dengan menyimpan segudang tanya, Ibra masuk ke rumah, berniat menghampiri Ayana.

Setelah mencari di dapur dan tak menemukan gadis itu di manapun. Ibra mulai cemas. Dia yakin tak melihat Ayana keluar dari halaman rumahnya. Lalu ke mana perginya gadis itu? Ibra berjalan ke ruang tamu dan masih tak menemukan Ayana di sepanjang langkahnya.

"Kenapa, Mas?" Rista yang melihat raut keruh wajah Ibra berjalan menghampiri. Dia tengah membereskan sisa makanan hendak membawanya ke dapur.

"Bunda lihat Ayana?"

"Bukannya dari tadi sama kamu, Mas? Bunda pikir kalian sudah pergi." Rista bergegas menuju dapur menaruh piring-piring di tangannya, lalu kembali mendekati Ibra dengan kecemasan yang tak dapat dia sembunyikan. "Masa dia pulang nggak pamit kamu, Mas? Bunda yakin dia gadis baik-baik, nggak mungkin tiba-tiba pulang tanpa pamit."

Ibra juga berpikir seperti itu.

Alasan itu juga yang membuat Ibra berani menyeret Ayana masuk dalam skenarionya. Meskipun ada satu alasan lain yang juga menjadi pertimbangannya.

"Coba kamu telepon dulu, Mas." Rista memberi saran.

Lelaki yang masih memakai sarung itu menurut, bergegas mengambil ponsel yang seingatnya dia isi daya di kamar. Akan tetapi bukan hanya ponsel yang dia temukan, dia juga berhasil menemukan Ayana. Ibra menghela napas dalam, menggeleng pelan menyadari kebodohannya.

Bisa-bisanya gadis itu tertidur pulas.

Ibra mencolek bahu Ayana, tapi tak ada respon. Dia juga memanggil-manggil nama Ayana, tapi gadis yang menelungkupkan wajah di meja kerjanya itu malah mengubah posisi.

"Bangun, Ay. Ayo, saya antar kamu pulang."

"Hmmm ...."

Kali ini Ibra mencoba cara lebih ekstrim, dia menggoyang-goyangkan bahu Ayana. Akan tetapi gadis itu masih bergeming. Tak punya ide lain lagi, Ibra memutuskan keluar.

"Gimana, Mas? Apa kata Ayana?"

Ibra menggaruk tengkuknya, "Dia tertidur di kamar, Bun."

"Lho?! Kok bisa?" tanya Rista dengan mata membeliak. Dia bergegas menuju kamar anak lelakinya, memastikan sendiri.

"Terus ini gimana?" bisik Ibra saat berdiri di belakang Rista yang masih terpaku menatap Ayana.

Tanpa banyak kata, Rista menyeret Ibra keluar kamar. "Udah coba dibangunin?" Perempuan itu menurunkan suaranya.

"Sudah, Bun. Malah tambah nyenyak dia."

"Kecapekan kali, Mas. Ya sudah, mau gimana lagi." Putus Rista lalu pergi meninggalkan Ibra begitu saja.

"Lho, Bunda mau kemana?"

"Mau tidur, lah, Mas. Kamu nggak tidur memangnya?" Tanya Rista balik, dia urung membuka pintu kamarnya. Menoleh pada Ibra yang terlihat kebingungan.

"Itu Ayana, gimana?"

"Ya, biarin dia tidur di kamar kamu."

"Terus Ibra tidurnya nanti--"

Rista berdecap, "Di rumah ini masih banyak tempat buat kamu tidur, Mas. Tuh, ada sofa. Tapi kalau kamu mau tidur bareng pacarmu, ya nggak apa-apa. Malah bagus, biar sekalian besok Bunda kawinin."

Next ChapterTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang