17. Berubah Haluan

282 39 12
                                        

Semula, Ayana pikir menerima ajakan Ibra untuk menjadi pacar pura-pura, hanyalah sebentar saja. Cukup untuk dipamerkan ke ibunda dan orang-orang di sekitar lelaki itu. Lalu segalanya selesai perlahan-lahan.

Bertemu keluarga 'lain' dari Ibra, tak menjadi masalah bagi Ayana. Dia sudah mulai terbiasa melakoni skenario menjadi pasangan Ibra. Pun segala perhatian dari Rista yang membuatnya kewalahan, masih bisa dia pahami alasan wanita itu melakukan hal demikian. Ibu satu anak itu pasti sangat bahagia mengetahui anak lelakinya sudah memiliki kekasih. Walaupun di sudut hatinya, Ayana merasa terbebani dengan segala kebaikan wanita itu.

Bagaimana jika hubungan palsu ini berakhir?

Apakah dia bisa melihat tatap kecewa Rista?

Ah, itu urusan nanti.

Semua itu masih terlalu abu-abu. Ayana tak ingin terlalu memikirkannya. Karena yang sekarang ini jauh lebih menyita perhatian.

Calon manten.

Ayana mengembuskan napas panjang. Sama sekali tak pernah berpikir akan diperkenalkan sebagai calon istri. Tak ingin terlalu menanggapi, karena memang mereka belum membicarakannya, Ayana hanya membalas tersenyum tipis. Kali ini, biarkan Ibra yang menjadi peran utama. Dia kan, hanya pemeran pembantu.

"Anakmu memang pintar nyari pacar. Sekalinya punya, milihnya yang cantik begini." Gala tak henti menggoda pasangan baru yang wajahnya sudah semerah tomat.

"Jangan digodain terus, Mas. Nanti Mas Ibranya nggak mau bawa pacarnya lagi, loh." Rista mendekati Ibra, memeluknya dan Ayana bergantian. "Kalian udah laper? Bunda tadi bawa risol mayo, mau cobain, Ay?"

Ayana digiring Rista ke dapur, sementara Ibra menemani Gala mengobrol di ruang keluarga. Sesekali Ibra melirik Ayana, memastikan gadis itu tidak tertekan. Lelaki itu mengembuskan napas panjang, menyadari jika sedikit kekacauan ini belum sempat dia bicarakan dengan Ayana. Dia sudah bersiap menerima amukan gadis itu.

Sepertinya malam nanti akan panjang.

"Mas Ibra?" Suara lembut Asha menginterupsi obrolan Gala dan Ibra. Gadis pemilik acara itu terlihat sangat cantik dengan dress selutut berwarna pink pucat. Bahunya yang terbuka menampilkan betapa mulusnya kulit gadis itu. Tak lupa bibir mungil yang dipoles lipstik senada semakin menambah kesempurnaan kecantikannya. Rambutnya hanya digerai, dengan kesan curly di bagian ujung, membuat Asha bak bidadari yang turun dari langit saat gadis itu menuruni anak tangga.

"Hai, Sha." Ibra berdiri berniat menyapa dan terkejut menerima pelukan Asha. Gadis itu setengah berlari menuruni anak tangga dan mengahamburkan diri begitu saja ke tubuh Ibra.

"Kapan datang, Mas? Iih, lama nggak ketemu, kangen tahu." Asha masih belum melepas pelukannya, dia memegangi kedua bahu Ibra.

"Mas lagi sibuk akhir-ahir ini. Kamu juga kan? Gimana, pengalaman kerja pertama? Suka?" Ibra berusaha melerai pelukan Asha. Sesekali dia mencuri pandang ke arah dapur. Dadanya mendadak sesak saat menemukan Ayana yang berjalan ke arahnya.

"Seneng, dong! Aku suka kerja di butik, Tante Maya juga baik."

"Nah, ini dia pemeran utamanya. Happy birth day, Sayang. Doa Bunda, semoga kamu selalu mendapat kebaikan." Rista mendekat dan memeluk Asha erat. Tak lupa mencium kedua pipi gadis itu.

"Terima kasih, Bunda." Saat melepaskan pelukan Rista, Asha baru menyadari kehadiran orang lain di rumahnya. Dia menoleh pada Ibra, sembari menaikkan sebelah alisnya.

"Oh, iya. Selamat ulang tahun, ya, Sha. Semoga panjang umur, sehat selalu dan banyak rezeki." Kali ini Ibra yang memeluk Asha. Hanya sebentar, karena biasanya juga seperti ini. 

Next ChapterTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang