25. Cobaan Apalagi Ini?

331 48 22
                                        

Tangan Ayana bergetar hebat

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Tangan Ayana bergetar hebat. Netranya membulat sempurna, sementara bibirnya tertekuk ke dalam. Isi kepalanya ribut, berbanding dengan kesunyian yang sengaja diciptakan.

Bagaimana bisa dia luput dari hal-hal sederhana ini begitu saja? Orang yang dia pikir lempang-lempeng dan kaku seperti kanebo ternyata diam-diam berlagak romantis yang tidak pada tempatnya.

Ah, ayolah. Siapa yang tidak bingung sekaligus kaget?

Meski sudah ditenteng kemana-mana sebagai kekasih Ibra, Ayana sama sekali tak menduga jika  sampai dipamerkan ke sosmed lelaki itu. Bahkan Ayana baru tahu kalau bos kakunya itu punya sosial media yang cukup aktif, setelah mengorek informasi dari Yuni.

Pantas saja sahabatnya itu kesal bukan main padanya. Lha wong sudah tahu dari pengumuman tidak langsung begitu. Ayana bahkan sudah mengelak secara tak langsung, mungkin saja Yuni salah lihat. Tapi jawaban Yuni seketika membuatnya terbungkam.

"Mas Ibra memang nggak ngelihatin wajahmu. Tapi dari postur tubuh, baju, tas bahkan teras kos, itu semua kamu, Ayana. Lagian, mana mungkin aku bisa lupa tas yang kamu beli setelah tiga bulan kerja di sini."

Kontan saja Ayana membisu, dia juga tak lupa dengan siapa membeli sling bag hitam itu. Kali ini dia tak lagi membantah. Bahkan Yuni masih menggodanya sepanjang sisa hari ini. Sedangkan Ayana hanya mampu memasang wajah pasrah, mau bagaimana lagi? Mau melawan juga tetap kalah. Terlebih biang kerok masalah ini juga berada di gedung yang sama, tapi tak mendapatkan serangan apa-apa.

Bah! Enak saja jadi Ibra.

Ayana mencebik, melirik kesal ke ujung tangga. Ubun-ubunnya hampir mendidih ingin melampiaskan dengan melabrak Ibra. Menyalurkam kesal yang terlalu lama ditabung sendirian. Dia mulai menimbang, menghitung waktu untuk memantapkan diri berlari ke lantai dua. Namun hingga jam kerja berakhir, semuanya masih berupa niat belaka. Ayana tak bernyali jika harus membuat kegaduhan di toko.

"Aku pulang duluan, ya. Kalian rukun-rukun berdua ya istri-istriku," seloroh Wahyu yang berhasil membuat Ayana teralihkan dari ponselnya. Gadis itu berdecap sebal sembari melemparkan tatapan maut, sementara Yuni yang berdiri di depan pantry bersorak meledek balik.

"Uang belanjanya kurang, nih, suamii! Mau nge-mall kita, biar makin akur."

Wahyu yang sudah berjalan keluar dari pantry sembari merapatkan hodie, kembali masuk. "Emang mau ke mana? Ikut, deh!"

"Iih! Ini women time, kalau mau ikut sono ganti rok dulu." Yuni mendorong lembut bahu Wahyu, membuat lelaki itu menggeleng pelan.

"Mending ngopi deh, daripada ngekor kalian. Belanja parfum doang bisa dua jam muter-muternya. Byeeee!" Wahyu berbalik, melirik Ayana yang masih terpaku di balik meja kasir, serius memegang ponsel.

"Lho, pulang juga, Mas? Tumben, biasanya hobi lembur. Mas Ibra mau ngopi bareng, nggak?"

Ayana mengangkat netranya dari layar ponsel, saat nama Ibra disebut Wahyu dengan lantang. Ragu, gadis itu mengamati Ibra dalam hening. Ayana bahkan menahan napas saat Ibra berjalan semakin dekat.

Next ChapterTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang