Ayana akhirnya bisa bernapas lega. Hari ini hari ketiga, Ibra lagi-lagi tak menampakkan wajahnya di toko. Sejak pagi gadis itu selalu was-was setiap kali tiba di Sea Stars. Dia tak sanggup menampakkan wajahnya di hadapan lelaki yang sudah mengambil ciuman pertamanya.
Iya, Ayana masih malu. Bukan hanya karena perkara ciuman pertamanya dicuri, tapi juga karena Ibra adalah bosnya. Yang kemungkinan bertemu setiap hari sangatlah besar. Mau ditaruh di mana mukanya nanti?
Tak hanya sampai di situ. Yang menjadi masalah besar adalah ciuman sepertiga malam itu selalu terbayang-bayang di kepala Ayana. Bahkan dia masih sering bermimpi tentang ciuman itu. Yang berakhir membuat tidurnya tak lagi lelap.
Ayana perempuan dewasa, usianya sebentar lagi dua puluh tujuh tahun. Dia tidak buta dengan hubungan percintaan. Dia juga pernah pacaran, bertahun-tahun yang lalu, tapi tidak sampai bersentuhan bibir. Hati Ayana sudah lama beku, tak mau lagi berurusan dengan cinta. Dan Ibra justru membawanya dalam muara cinta lewat sentuhan bibir. Ayana dibuat kelimpungan dengan dirinya sendiri.
"Ya, dicari orang, tuh, di depan." Panggilan Wahyu membuat Ayana segera berdiri.
"Siapa?"
"Lihat aja sendiri."
Dengan membawa rasa penasaran, Ayana meninggalkan pantry. Baru saja sampai di dekat etalase, Ayana membeliak. Dia benar-benar dikejutkan dengan kehadiran seseorang yang sedang berdiri melihat-lihat isi etalase.
"Bun--Tante," sapa Ayana. Dia melirik sekeliling, semoga tidak ada yang menyadari kegugupannya.
"Eh, Ayana." Rista menoleh dan langsung memeluk Ayana.
"Tumben main ke sini." Ayana menahan diri untuk tidak menyebut panggilan untuk Rista.
"Iya, tadi Bun--"
Mati aku!
"Kita ke atas aja, yuk," sahut Ayana.
Gadis itu tertegun, seperti deja vu. Beberapa waktu yang lalu dia pernah menggeret Rista ke ruangan Ibra. Akankah sejarah kembali terulang? Ayana berdehem, berusaha menghilangkan kegugupannya.
"Bun, kenalin ini Yuni, satu-satunya karyawan Sea Stars yang merangkap jadi fans beratnya Mas Ibra."
Sudah kepalang tanggung, tak mungkin mundur. Ayana tak lagi menahan diri memanggil bunda. Dia alihkan perhatian Yuni dengan mengenalkan gadis itu pada Rista. Sekaligus menunaikan janjinya pada Yuni yang kini tersipu malu.
"Waah, si kanebo ternyata punya fans juga." Rista tergelak. "Fansnya imut, pula."
"Ish! Tante bisa aja."
"Masih lama ya tutup tokonya, Ay?" Rista menoleh pada Ayana yang masih berdiri kaku di sebelahnya.
"Ini lagi mau beres-beres, Bun."
"Bunda tunggu di mobil aja kalau gitu. Nanti setelah tutup toko ikut Bunda sebentar, ya?"
Ayana mana bisa menolak. Terlebih ini masih memungkinkan bagian dari skenario pacar pura-pura. Dia akhirnya mengangguk pasrah, menatap punggung Rista yang menghilang melewati pintu kaca.
"Naik level ya, Ya. Dari tante jadi bunda," celetuk Wahyu membuat Ayana tergemap.
Ayana pikir setelah mengamankan Yuni, semuanya bakal baik-baik saja. Ternyata masih ada Wahyu yang luput dari pemantauannya. Ayana menggigit bibir, mencari alasan yang tepat untuk membantah.
"Kepo, aja!"
Gadis itu mendesah, saat tak menemukan balasan yang tepat. Berharap lelaki yang tengah sibuk menata kartu nama itu tak lagi bertanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Next Chapter
RomanceAyana terikat hubungan palsu dengan Ibra, pemilik toko tempatnya bekerja. Niatnya untuk menolong si bos, membuat Ayana berada dalam dilema. Sikap manis Ibra dan keluarganya membuat Ayana takut. Ayana meminta hubungan 'palsu' mereka berakhir, tapi I...
