15. Kencan Pertama

341 42 10
                                        

Apa itu tadi?

Ayana mengerjap. Pipinya tiba-tiba terasa hangat. Ayolah, mereka tidak melakukan hal-hal aneh. Hanya bertegur sapa sebagai kekasih. Tapi kenapa harus dipanggil sayang, tanpa peringatan pula. Kan, Ayana jadi gelagapan.

Belum lagi telinganya yang mendadak berdengung saat mendengar suara Ibra mengobrol dengan Rista. Yang terngiang justru kata-kata itu lagi.

Hai, Sayang.
Hai, Sayang.
Hai, Sayang.

Aargh! Ayana bisa gila kalau terus-terusan begini. Sepertinya besok dia harus ke dokter THT.

"Dimakan Ay, jangan dilihatin aja." Rista berseru, gemas melihat Ayana yang sejak tadi hanya membisu.

"Eh, iya, Bun."

Ayana mengambil sesuap nasi goreng. Mengunyah perlahan, berusaha menikmatinya karena terkenal enak. Hanya saja, kenapa di lidahnya terasa hambar. Untuk menelannya saja Ayana harus berusaha ekstra. Mubazir juga kalau makanan dibuang, apalagi makanan mahal begini.

"Mau langsung pulang? Atau masih mau jalan lagi?" Tanya Ibra tanpa menatap lawan bicaranya.

"Ay, ditanyain Ibra, tuh!" Rista berinisiatif bertanya karena melihat keheningan yang tercipta.

"Eh, apa?" Ayana mendongak, dia pikir lelaki di hadapannya bertanya pada Rista.

"Kamu mau langsung pulang atau masih mau jalan?" Ulang Rista menggantikan Ibra yang tengah meneguk es jeruk. Melihat Ayana yang masih kebingungan, Rista kembali menjelaskan. "Kalau Bunda harus balik dulu, besok pagi-pagi ada senam di komplek. Kamu nanti pulangnya dianter Ibra aja, ya? Enggak apa-apa, kan?"

Lho, kok jadi begini?

Enggak, enggak!

Ayana masih trauma berduaan dengan Ibra.

"Aku ikut Bunda aja, deh."

Rista mengerutkan keningnya. "Kalian kenapa, sih?" Dia menatap Ibra dan Ayana bergantian. "Dari tadi Bunda perhatiin, Ayana terus menghindar sejak ada kamu. Kalian berantem? Ada yang kalian sembunyikan selain ciuman di kamar kemarin?"

Ibra seketika tersedak, terkejut karena Rista mengetahui kelakuannya. Tapi bagaimana bisa? Jangan-jangan, Rista juga sudah mengatakannya pada Ayana. Ibra melirik Ayana yang semakin menunduk.

"Sudah, nggak usah malu. Bunda juga pernah muda. Tapi hati-hati, jangan sampai kebablasan, Mas."

Ibra berdehem membasahi tenggorokannya, "Iya, Bun."

"Ya sudah, mumpung masih jam segini, kalian kencan dulu. Mau ngobrol, nonton atau belanja, silakan. Bunda pamit dulu." Rista membereskan barang-barangnya lalu memeluk Ibra dan Ayana bergantian.

"Bunda serius pulang dulu?" Ayana akhirnya dapat bersuara.

"Iya, tenang aja, Ay. Bunda jamin pacarmu ini nggak bakal macam-macam. Sudah, kamu lanjut makan aja. Bunda duluan, ya."

Sepeninggal Rista, baik Ibra maupun Ayana, sama-sama betah membisu. Nasi goreng yang masih tersisa setengah tak lagi membuat gadis itu berselera. Mau dipaksakan tetap memakan yang ada perutnya tiba-tiba mual. Ayana meletakkan sendok dan garpu menelungkup di atas piring.

"Sudah makannya?"

Gadis dengan kardigan rajut itu mengangguk.

"Mau nonton?"

Ayana mengernyit tapi masih betah membisu.

"Masih jam segini, masih cukup buat nonton satu film."

Ya, memangnya mau nonton berapa film.
Ayana mencebik dalam hati.

Next ChapterTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang