Ayana bernapas lega saat melihat jam yang menunjuk angka lima. Sebentar lagi waktu bekerjanya akan habis. Dan selama dua harian ini, dia berhasil tak bertemu dengan bosnya. Entah lelaki itu akhirnya sadar atau menghindar, Ayana tak ingin dibuat penasaran.
Dia mulai membereskan barang-barangnya bersiap turun ke lantai satu. Tumpukan nota yang sudah digulung Ayana masukkan ke dalam kresek putih lalu disimpan di sudut meja. Dia meraih laptop dan tumbler lalu beranjak meninggalkan ruangan santai di lantai dua. Saat memasuki ruangan Ibra, Ayana terdiam cukup lama. Dia kemudian menghela napas panjang, membuang perasaan aneh yang tiba-tiba mengusiknya. Dia segera meletakkan laptop di meja kerja lelaki itu, lalu bergegas turun.
"Baru selesai, Ya?" Wahyu menyambutnya begitu Ayana tiba di meja kasir.
Ayana mengangguk, netranya melirik tumpukan nota yang harus dia input. Sebelum menyelesaikan tugas hariannya, Ayana menghela napas panjang lagi. Entah ini sudah yang keberapa dia lakukan. Padahal dulu dia tidak sesesak ini saat melakukan pekerjaannya. Terlebih dengan tuntutan akhir bulan, memasukkan data nota untuk menghitung gaji karyawan Sea Stars, bahkan jika harus dituntut lembur sekalipun. Ayana dengan suka cita akan menerimanya.
Namun kini, sejak permintaan Ibra tentang pernikahan, Ayana jadi gelisah. Bohong kalau dia baik-baik saja. Mana ada perempuan yang tidak galau setelah dilamar kekasih. Walau dalam hal ini, hubungan dan kekasih pura-pura, tetap saja hal itu meninggalkan jejak gelisah di sudut hatinya.
Semuanya jadi berubah. Ayana memang menolak mentah-mentah lamaran Ibra. Namun setelahnya dia tetap saja gelisah. Astaga! Ayana ingin sekali membenturkan kepalanya ke tembok. Dia sudah benar menolak lamaran Ibra, tapi mengapa kini dia terlihat seolah tengah menyesalinya?
Ayana perlu refreshing.
Ayana butuh pemulihan untuk lepas dari belenggu hubungan pura-puranya.
Sekali lagi, Ayana melirik jam dinding, masih ada waktu. Gadis itu lantas mengebut memindai nota hari ini. Tangannya sibuk menekan tombol mesin kasir. Mengabaikan tatapan penuh tanya dari Wahyu yang mungkin melihatnya bersikap aneh. Pun mengabaikan kehadiran Yuni yang kini menjauhinya. Ayana butuh jeda. Nanti setelah hati dan kepalanya pulih dari sosok Ibra, dia akan mengusahakan pertemanannya dengan Yuni. Nanti dulu. Sebentar saja.
"Nggak pulang, Ya?" Wahyu yang lagi-lagi bertanya. Lelaki itu tak lelah memberi perhatian pada Ayana. Seakan sadar diri, jika hubungan dua gadis didekatnya tak lagi membaik. Maka dia yang tersisa bertindak sebagai penyambung.
"Bentar, tinggal dikit. Jam berapa memang?" Ayana tak menoleh, netranya masih sibuk memindai angka-angka di atas nota.
"Jam enam kurang lima."
"Oh, masih lima menit lagi," balas Ayana santai.
"Mau ditungguin?" Wahyu tahu, lima menit tak akan cukup menuntaskan tumpukan nota yang masih tersisa seperempatnya. Hari ini akhir pekan, toko lumayan ramai.
Ayana menoleh, kedua alisnya saling bertaut. "Tumben?"
Wahyu mendesah, "Kalau nggak mau ya udah. Aku bareng Yuni kalau gitu." Lelaki itu memutar tubuh meninggalkan Ayana, tapi baru beberapa langkah, dia kembali. "Kayaknya kamu beneran nggak usah ditungguin, Ya. Tuh, udah ada yang nungguin ternyata."
Pandangan Ayana mengikuti arah yang ditunjuk Wahyu dengan kepalanya. Ayana menyipit, lantas membeliak begitu menyadari siapa yang dimaksud Wahyu. Dia menoleh pada Wahyu yang mulai menjauh dan menarik belakang kaos lelaki itu.
"Eh! Apa, sih, Ya?" Seru Wahyu terkejut tapi penasaran.
"Tawaran kamu masih berlaku, kan?" Tanya Ayana harap-harap cemas.
KAMU SEDANG MEMBACA
Next Chapter
RomantizmAyana terikat hubungan palsu dengan Ibra, pemilik toko tempatnya bekerja. Niatnya untuk menolong si bos, membuat Ayana berada dalam dilema. Sikap manis Ibra dan keluarganya membuat Ayana takut. Ayana meminta hubungan 'palsu' mereka berakhir, tapi I...
