"Dari banyaknya insan di dunia, serius harus dia?"
-Anindya Nasywa Ayudisha-
🌺
Apa ini yang dinamakan double up? Masih Hari Senin lho
🌺
"Masih benjol aja tuh kepala?"
Nindya meraba dahi kanannya sambil berdecak tidak terima. Ia sudah susah payah menutupi dahinya dengan poni tapi tetap saja menjadi bahan pembicaraan teman kantornya.
Cia yang tadi berkata demikian lantas tertawa. Ia meletakkan kantong kresek berisi beberapa bungkus nasi padang untuk makan siang kali ini.
"Yok, siapa aja tadi yang pesen? Mangga scan Qris dan tunjukkan bukti pembayaran sebelum ambil."
Cia benar-benar menyediakan barcode Qris miliknya. Bahkan ia memesan stand akrilik dan ia pajang di meja. Cia adalah karyawan terniat dalam hal ini. Ia slelau berinisiatif lebih dulu tentang dalam hal makan siang.
Setelah semua terbagi mereka pada akhirnya makan dengan khidmat. Bukan, tapi dengan kelaparan.
Mereka yang tidak memesan makan siang di luar biasanya adalah orang yang telah berkeluarga seperti Tata yang ada istri yang menyiapkan bekal. Cia sebenarnya sudah menikah, tetapi sedang LDR dengan suami dan tentunya ia malas masak. Katanya, masih banyak makanan yang perlu ia eksplor.
"Nin."
"Iya, Mbak?" Nindya menyeka bibirnya yang berminyak.
"Kemarin kamu pakai jas hujan lucu banget. Belinya di mana?" Kelemahan Cia adalah barang lucu.
Nindya mengingat sejenak, sepertinya jas hujan yang ia pakai tidak selucu itu. "Yang biru itu?"
"Iya. Ada yang ungu nggak?"
"Nggak tau ya, Mbak, lupa deh." Nindya lantas membuka ponselnya untuk mengecek. "Belum lama juga, Mbak aku belinya. Baru pas udah pulang dari Jakarta."
Nindya pun mengirimkan tautan toko tempatnya membeli jas hujan pada Cia. "Itu udah tak kirim, Mbak. Coba cek di tokonya. Kualitasnya bagus kok."
"Sip, makasih ya. Nanti tak buka."
"Sesuka itu ya, Mbak, sama barang lucu?"
"Buat senang-senang aja sih." Cia menjilat jari tengah dan telunjuknya yang terkena bumbu rendang.
"Sepi banget nggak ada Mas Suami, Nin."
"Kenapa selama suami Mbak ngerantau, Mbak Cia pulang ke rumah orang tua aja?"
"Orang tuaku Sumatra, Say," kelakar Cia.
Nindya melongo. Dua minggu berkenalan dengan Cia, rupanya ia tertipu dengan aksen Cia yang sudah medhok.
"Kok jawa banget ngomongnya?"
"Dari kuliah aku udah di sini, kerja di sini, dapet suami orang sini. Ya masa nggak ada yang nempel jawa-jawanya,"
"Ya ampun, Mbak. Tak kirain orang sini!" Seru Nindya heboh.
Cia tiba-tiba merapikan rambut pendeknya. "Udah kayak Mbak-mbak jawa kalem kan?" Keduanya tertawa bersama.
"Mbak Kunti kali, Mbak Ci!" Suara geseran roda kursi mendekat ke samping meja Cia.
"Kok belum mulai makan, Gi?" tanya Cia saat melihat Irgi baru saja ingin membuka nasi padang miliknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sumilir [Selesai | Lengkap]
Romance[Cerita ini minim konflik dan aku tujukan agar kalian terhibur dengan romansa desa yang sederhana] Areksa Mahendra, Mas-Mas Jawa yang berprofesi sebagai petani di desa itu harus mengalami kejadian naas di umurnya yang sedang semangat dalam menggarap...
![Sumilir [Selesai | Lengkap]](https://img.wattpad.com/cover/370265687-64-k473866.jpg)