33: firasat buruk

338 15 0
                                        

Setelah 15 menit kejadian axelion dan daniel bertengkar. Kini daniel berada  taman belakang rumahnya, ia sedang merokok beserta meminum alkoholnya yang berkadar 10% yang menurutnya seperti meminum jus.

ia menghisap rokok nya dengan pelan sembari menatap ke arah kolam renang yang ada di sana lalu ia menghembuskan nya ke arah atas.

"apakah aku sudah keterlaluan? tetapi itu belum seberapa dibandingkan diperkosa serta dimanipulasi, aku tahu kejadian ini karena aku mencari tahu hal ini" ucapnya.

ia terus menghisap batang tembakau itu dengan tenang serta menghembuskan nya dengan pelan.

Disaat batang tembakau miliknya sudah habis, Daniel membuangnya ke asbak dan ia meminum alkoholnya dalam sekali tegukan.

"sial, seperti nya roy akan kemari. aku harus pindah sebelum dia kemari atau haruskah aku mempermainkannya juga?"

Daniel bermonolog dengan pikiran nya sembari meminum alkohol nya dengan cepat dan ia membayangkan wajah axelion yang begitu manis ada di depannya.

"ugh, sial. aku seharusnya tidak meminum ini" ucapnya dengan pelan lalu ia menggelengkan kepalanya.

Daniel beranjak dari kursi taman dan ia berjalan masuk kembali ke dalam rumahnya. ia menaiki tangga menuju lantai 2 dimana tempat kamarnya berada.

ia berhenti di depan pintu kamarnya yang sedikit terbuka dan ia mendengar suara isakan kecil di iringi dengan umpatan mengenai dirinya.

'sudah kuduga' batinnya dan ia membuka pintu kamarnya dengan perlahan beserta menutupnya dengan perlahan agar tidak ketahuan.

ia berjalan ke arah kasur miliknya lalu ia duduk di samping axelion dan ia menarik tangan axelion untuk masuk ke dalam pelukannya.

Axelion terkejut dan ia membiarkan dirinya di peluk oleh enigma di depannya, ia membalas pelukan itu dengan erat lalu ia kembali menangis.

"hikss Daniel! gua mau pulang! gua kangen mommy! kangen Daddy! kangen kakak sandrina! kangen kakak Arseano hiks!!" ucapnya di iringi isakan serta ia menduselkan wajahnya di dada bidang enigma nya.

Daniel mengeratkan pelukannya dan ia mengelus punggung axelion dengan perlahan nan lembut. "shhh... tidak apa-apa. kau akan pulang setelah situasi nya tenang axelionn, lihatlah dirimu kau sudah menangis selama 15 menit huh?"

Axelion menggelengkan kepalanya dengan pelan di dalam pelukan. "hikss engga! gua maunya sekarang hikss.. lagian..um.. lo juga udah kasih tanda ke gua kan? jadi..ngh untuk apa lo kurung gua terus hiksss.. gua ga peduli sama soal mata gue yang sembab hiks!"

Daniel menghela nafas panjang dan ia melepaskan pelukannya lalu ia menangkup kedua pipi axelion dengan kedua tangannya. "kamu bakalan pulang dan aku akan menerima semua akibat yang diberikan oleh ketiga keluarga...tetapi kamu harus tetap berada di sisi saya okay? saya mencintaimu" ucapnya.

Axelion terdiam dan ia menatap wajah tegas nan tampan Daniel dengan mata sembabnya. "hiks gua ga yakin hngh.."

Daniel tersenyum tipis dan ia mencium kedua pipi axelion dengan lembut beserta ia memberi kecupan kecil di bibir axelion, sehingga sang empu kembali terdiam. "kamu bakalan yakin, jika aku pergi karena tuntutan keluarga. jangan pernah melupakan ku okay? aku mencintaimu, aku tahu aku kasar selama hampir 3 Minggu ini."

"l-lo mau kemana? jangan bilang.. lo bakalan ninggalin gua setelah kasih gua tanda permanen sialan ini kan?!!! kalo gua hamil anak lo gimana anjing?!! kita ngewe juga udah 2x! meskipun tidak menentu sih.." ucapnya

"hei, walaupun kau hamil anakku. aku akan tetap kembali kepadamu dan berjuang kembali untukmu, jangan pernah gugurkan anak itu okay? dia tidak bersalah dan yang bersalah itu aku" ucap Daniel dengan nada lembutnya.

"gua tau, bayi ga salah dan yang salah nya itu lo! karena lo buang sperma lo ke perut gua anjing!!!" ucapnya dengan nada kasar.

Daniel terkekeh pelan mendengar ucapan frontal axelion lalu ia menarik axelion ke dalam pelukannya kembali. "seseorang pasti menjemputmu dan melakukan penyerangan terhadapku. jadi, jaga dirimu okay? dia lebih berbahaya dibandingkan aku. dia memiliki anggota khusus sedangkan diriku hanya memiliki satu orang yang membantuku" ucapnya

Axelion membalas pelukan itu dengan erat dan ia tidak peduli dengan akal sehat serta jantungnya yang berdegup kencang. "maksud lo.. Roy?"

Daniel mengangguk dan ia mengelus surai rambut axelion dengan lembut. "dia akan kemari untuk menjemputmu, kau tetap akan ikut dengannya bukan? kau tahu? meskipun dia masih jauh. aku bisa merasakan firasat buruk ini akan terjadi dan aku juga sudah menduga hal ini dari semalam." jelasnya kembali.

Axelion terdiam dan ia menikmati sentuhan Daniel yang berada di kepalanya lalu ia menduselkan wajahnya di dada bidang Daniel. "gua mau kek gini dulu, gua cape nangis tadi. kek bocah cengeng njir.." gumamnya.

Daniel terkekeh pelan. "kau memang anak kecil bagiku"

Axelion menggelengkan kepalanya di dalam pelukan Daniel. "ga! gua udah gede! umur gua 17th"

Daniel mengangguk mengerti. "baiklah, kau sudah dewasa tetapi sifatmu seperti anak kecil" ledeknya.

Axelion mendengus dan ia mencubit dada Daniel dengan keras lalu ia melepaskan pelukannya sembari membaringkan kembali tubuhnya di atas kasur.

Daniel terkejut, sontak ia memegangi dadanya dan ia menggelengkan kepalanya dengan tingkah axelion.

"diam! peluk gue! gua mau tidur! gua ga peduli sekarang baru jam setengah 12 siang! gua ngantuk karena habis ngewe sama lo sepanjang malam kemarin!"

Daniel tertawa dan ia membaringkan tubuhnya di samping axelion lalu ia memeluk axelion dari belakang. "aku mencintaimu, tidurlah sayang. bermimpilah dengan indah, aku akan menjagamu" ucapnya dengan nada lembut.

Axelion terdiam dan ia tersenyum kecil lalu ia memejamkan matanya untuk memasuki mimpi indahnya. begitupun dengan Daniel, ia ikut memejamkan matanya dan ia mulai memasuki mimpi indahnya bersama axelion.

****

Di kediaman keluarga prince, teman-temannya axelion beserta Daniel sedang bertemu dengan orang tuanya Daniel untuk membicarakan keberadaan axelion.

Vedrick selaku kepala keluarga prince dan ayahnya Daniel, ia duduk di salah satu sofa yang ada di ruang tamu dan ia meminum kopinya dengan perlahan.

Sabrina selaku bunda Daniel juga ikut dalam pembicaraan ini, karena ia harus tahu inti masalah ini.

"jadi kalian dapat informasi tentang axelion? saya harus menemukan Daniel,  saya juga harus mengirimkannya kembali ke Rusia dimana tempat ia sebelumnya" ucap Vedrick dengan nada tegas dan tenangnya.

Jordan adalah orang yang memiliki pemikiran dewasa dan sikap tenangnya. ia mengangguk perlahan untuk menjawab pertanyaan Vedrick dan ia memberikan beberapa foto yang ia dapatkan melalui Nathaniel ke atas meja.

Vedrick mengambil foto itu dan ia melihat anaknya beserta anak bungsu dirgantara itu memasuki mobil yang hendak pergi ntah kemana sebelum menghilang. "jadi?"

Jordan melirik ke arah Nathaniel dan Nathaniel yang duduk di samping Sean sembari bermanja ria meskipun di tolak, ia mengangguk kepada Jordan.

"begini ayah, Roy sudah dalam perjalanan menjemput axelion jadi kemungkinan besok pagi baru bertemu dengan mereka bertiga di rumah axelion. atau anda bisa datang nanti saat Roy mengabari bahwa dia sudah membawa axelion beserta Daniel di tangannya." jelas Nathaniel.

Seluruh orang yang ada di ruangan itu memasang ekspresi serius beserta indra pendengaran tajamnya untuk memahami semua perbincangan ini.

TBC

Love competition [SLOW UPDATE]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang