Jisung menekan tombol lift berulang kali, rasa paniknya semakin menggila. Begitu pintu terbuka, dia masuk dengan cepat dan menekan tombol lantai tertinggi.
Tangannya gemetar hebat, keringat dingin mulai mengalir di pelipisnya. Jisung terus bergumam agar chenle baik baik saja.
Lift bergerak naik perlahan, seolah sengaja mengulur waktu. Jisung menggigit bibirnya kuat-kuat, mencoba mengalihkan rasa cemas yang hampir membuatnya sesak. Begitu pintu terbuka di lantai atas, dia langsung berlari keluar tanpa ragu.
Lorong itu sepi, hanya suara langkah kakinya yang menggema. Lampu di sepanjang koridor terasa terlalu redup, menambah kesan mencekam.
Jisung menoleh ke kanan dan kiri, mencoba mencari petunjuk. Pintu-pintu kamar tertutup rapat, tak ada tanda-tanda kehidupan. Dia berusaha semaksimal mungkin dengan mengetuk beberapa pintu, tapi semuanya nihil. Tak ada chenle di sana membuat rasa panik makin menguasai pikirannya.
Saat itu matanya menangkap papan kecil bertuliskan “CCTV Room” di ujung lorong. Tanpa pikir panjang, dia berlari menuju ruangan tersebut.
Sesampainya di sana, dia mendapati pintu terkunci. Jisung mengetuk keras sambil teriak agar orang yang ada di dalam keluar.
Beberapa detik kemudian, seorang petugas keamanan membuka pintu dengan wajah bingung.
“Ada apa, Pak?” tanyanya.
Jisung tidak membuang waktunya, "saya membutuhkan rekaman CCTV. Sepupu saya hilang. Dia terakhir kali terlihat naik ke lantai ini"
Petugas itu awalnya ragu, tapi melihat raut wajah Jisung yang panik dan serius, akhirnya dia mengangguk. “Baik, ikut saya.”
Jisung masuk ke ruangan penuh monitor. Layar-layar itu menampilkan berbagai sudut hotel, lorong, lobi, lift, bahkan beberapa pintu kamar.
“Coba mundurin rekamannya ke sekitar sepuluh menit yang lalu, lantai ini,” desak Jisung.
Petugas itu dengan cekatan memundurkan rekaman. Mata Jisung menatap layar tanpa berkedip.
Dan di sanalah dia melihatnya, Chenle.
Chenle terlihat berjalan keluar dari lift dengan langkah agak goyah. Wajahnya memang tidak terlihat jelas, tapi dari postur tubuhnya, Jisung yakin itu dia. Namun yang membuat darah Jisung berdesir adalah tiga pria asing yang mengikuti Chenle dari belakang. Mereka berjalan dengan jarak aman, tapi jelas sekali mereka membuntuti Chenle.
Setelah chenle akan sampai di salah satu pintu kamar, tiba tiba pria itu berlari dan segera menarik chenle masuk ke kamar itu.
Mata jisung membola terkejut, “Kamar itu… kamar berapa?” tanya Jisung cepat.
Petugas memeriksa data di sistem. “Itu kamar 1409.”
"Tolong panggilkan petugas keamanan yang lainnya atau polisi yang berjaga di luar gedung sementara saya mengeceknya terlebih dahulu. saya mohon. Saya sangat memohonnya tuan" jisung benar benar memohon, dia tidak peduli lagi dengan harga dirinya. Yang terpenting sekarang dia menemukan chenle secepat mungkin.
Petugas keamanan itu mengangguk, keduanya lalu keluar dan menjalankan tugasnya masing masing.
ʕ´•ᴥ•'ʔ
Tak terasa, malam yang panjang itu berganti dengan cepat. Sinar matahari menembus tirai kamar hotel, menerangi setiap sudut ruangan dan memaksa kota untuk kembali berdenyut dalam kesibukannya. Di antara mereka yang terpaksa bangun untuk menjalani rutinitas, ada Chenle, yang masih terbaring di ranjang, menatap kosong ke langit-langit kamar.
KAMU SEDANG MEMBACA
rise again✓
Teen Fictiongo to the past season 2??? Yess. Cerita ini tentang jisung bersama Chenle yang berusaha membangkitkan nama keluarga jung kembali.
