Chenle sakit selama beberapa hari, kondisinya benar-benar menyiksanya hingga ia terpaksa mengajukan cuti. Rasa mual yang tak kunjung reda membuatnya sulit beraktivitas, bahkan sekadar berdiri terlalu lama pun terasa melelahkan.
Jisung dan yang lainnya yang melihat keadaan Chenle merasa prihatin. Jisung dengan mudah mengizinkan cutinya, sementara Haechan dan Jaemin ikut merawatnya dengan penuh perhatian.
Beberapa kali, mereka mencoba membujuk Chenle untuk pergi ke dokter. Kondisinya yang semakin lemah membuat orang-orang di sekitarnya tidak tega. Namun, Chenle tetap bersikeras menolak.
"Aku nggak apa-apa, Mom, Bun. Aku cuma butuh istirahat," ucapnya setiap kali Haechan atau Jaemin mencoba membujuknya.
Meskipun tidak sepenuhnya percaya, Haechan dan Jaemin akhirnya membiarkan Chenle beristirahat dengan harapan kondisinya akan membaik dalam beberapa hari.
Dan benar saja, setelah beberapa hari cuti, tubuh Chenle mulai membaik. Rasa mualnya tidak lagi separah sebelumnya, dan tenaganya perlahan kembali.
Kini, ia bahkan sudah bisa menghadiri rapat di sebuah restoran mewah bersama Jisung yang duduk di sampingnya. Meskipun masih sedikit lemas, setidaknya ia sudah cukup kuat untuk kembali bekerja.
Chenle duduk dengan tenang di kursinya, mendengarkan presentasi yang tengah berlangsung. Sesekali, ia menyesap air putih di hadapannya untuk menjaga tubuhnya tetap segar.
Jisung, yang duduk di sampingnya, melirik ke arah Chenle dengan khawatir. "Le, kalau capek bilang ya. Jangan maksain diri."
Chenle mengangguk kecil, memberikan senyum tipis. "Gw nggak papa, jie"
Presentasi dari pihak yang mengajukan kerja sama berlangsung cukup lama. Tim dari perusahaan tersebut memaparkan strategi, visi, dan potensi keuntungan yang dapat diperoleh kedua belah pihak dengan detail.
Chenle dan Jisung menyimak dengan saksama, sesekali bertukar pandang untuk mendiskusikan poin-poin yang dianggap mengganjal. Mereka juga mengajukan beberapa pertanyaan terkait eksekusi kerja sama, memastikan bahwa semua aspek telah dipertimbangkan dengan matang sebelum mengambil keputusan.
Setelah sesi diskusi yang cukup panjang, akhirnya Chenle dan Jisung merasa puas dengan proposal yang diajukan. Semua aspek yang mereka pertimbangkan telah dijelaskan dengan baik, dan mereka melihat potensi besar dalam kerja sama ini.
Dengan penuh keyakinan, Jisung mengulurkan tangan untuk menjabat perwakilan dari perusahaan mitra. "Kami dengan senang hati menerima kerja sama ini. Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik dan mencapai hasil yang optimal."
Perwakilan mitra tersenyum sambil membalas jabat tangan Jisung. "Terima kasih atas kepercayaannya. Kami yakin ini akan menjadi kolaborasi yang saling menguntungkan."
Chenle ikut mengangguk, meskipun tubuhnya masih terasa sedikit lemah. Namun, kepuasan atas kesepakatan ini membuatnya merasa lebih baik. Ini adalah langkah baru yang menjanjikan bagi perusahaan mereka, dan ia tidak sabar untuk melihat bagaimana proyek ini akan berkembang ke depannya.
Setelah itu, pertemuan resmi selesai. Chenle dan Jisung tetap duduk di meja restoran, menikmati suasana yang mulai santai. Beberapa perwakilan dari perusahaan mitra sudah meninggalkan tempat, sementara beberapa lainnya masih berbincang ringan dengan rekan mereka.
Jisung melirik Chenle yang duduk dengan tenang.
"Mau makan?? " Tawar jisung membuat chenle berpikir.
Dia sebenarnya tidak ingin makan, mual nya pasti akan kembali jika dia memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Tapi ketika chenle membayangkan betapa enaknya steak yang diberi bumbu melimpah, air liur tak tahan lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
rise again✓
Teen Fictiongo to the past season 2??? Yess. Cerita ini tentang jisung bersama Chenle yang berusaha membangkitkan nama keluarga jung kembali.
