"Gila, nyebelin banget tuh nenek nenek tua. Kok bisa sih jie, ayah lo tertarik sama dia?? " Kesal Chenle mengomel dalam perjalanan pulang.
Jisung menggeleng gelengkan kepalanya tak habis pikir. Dia juga penasaran sebenarnya, bagaimana ayahnya bisa tertarik pada wanita itu??
Wanita itu licik, dia juga tak segan segan membunuh seseorang. Kenapa ayahnya bisa terjerat pesonanya??
"Tapi jie" Ditengah kekesalan itu, Chenle tiba tiba berucap.
Jisung menoleh sebentar, seolah bertanya apa sebelum akhirnya kembali fokus ke arah depan.
"Lo sadar nggak sama perubahan gw?? " Tanya chenle dengan tiba tiba sekali, membuat jisung agak terkejut. Tapi jisung segera mengangguk.
"Iya, gw ngerasa ada perubahan di diri lo. Le" Ucap jisung membuat chenle terdiam merenung.
Chenle menunduk, menatap perutnya dengan tatapan tak bisa dijelaskan.
"Apa mungkin?-" Ucapan nya terhenti, dia mengusap perutnya sebenarnya sebelum tangannya terkepal.
"Mungkin apa?? " Tanya jisung.
Chenle menggeleng kepalanya, "ngga, ngga mungkin kan jie?? "
"Seinget gw, gw udah minum obat itu. Ngga mungkin kan kalo dia ada?? " Tanya chenle berusaha tenang dan tidak berpikir macam macam.
Setelah mereka kembali ke rumah, chenle memang tidak langsung memakan obat itu. Dia beristirahat sejenak dan meminum obat itu keesokan harinya.
Jadi tidak mungkin kan dia ada??
Jisung terdiam, mencoba mencerna perkataan Chenle yang mulai terdengar samar-samar namun penuh kekhawatiran. Matanya melirik ke arah Chenle yang kini memeluk dirinya sendiri, seolah berusaha menenangkan dirinya sendiri.
"Le..." ucap Jisung pelan, menepikan mobil di pinggir jalan yang cukup sepi. Ia menoleh ke arah chenle. "Kita ke dokter, ya?"
Chenle menggeleng cepat. "Ngga, jie. gw cuma kecapen, kemarin juga sempet kehujanan, makanya drop banget."
"Tapi rasa mual lo udah beberapa hari ini, lo juga sensitif banget akhir-akhir ini. Emosi lo naik turun, lo ngerasa perubahan di tubuh lo sendiri-"
"Gw minum obat itu, jie!" bentak Chenle tiba-tiba, suaranya lebih tinggi dari yang ia maksudkan. Ia terkejut sendiri, lalu mengalihkan pandangan, suaranya kembali melemah, "gw minum kok, cuma telat sehari."
Jisung memejamkan mata sebentar, menarik napas panjang. Ia tidak ingin menakut-nakuti Chenle, tapi firasatnya sudah cukup kuat untuk membuatnya tidak bisa diam saja.
"Telat sehari pun, kadang bisa jadi penentu, Le. kita nggak bisa nebak-nebak. Lebih baik kita tahu pasti daripada nebak dan nyesal nanti."
Chenle menatap ke luar jendela, mata berkaca-kaca. "Kalau semisalnya dia ada, kita bakal gimana. Jie?? "
Yang chenle takutkan adalah kekecewaan yang pasti ada diantara bunda dan mommy mereka.
Keduanya pasti akan kecewa. Dan chenle tidak ingin melihat kekecewaan dari keduanya itu.
Chenle menunduk, memainkan jemarinya dengan perasaan tak menentu.
"Gw takut jie, gw takut kalo semisalnya dia ada. Gw udah ngerasain perubahan ini, tapi gw berusaha nyakal. Gw takut..... " Gumam chenle takut bukan main.
Jisung tak tahan lagi, dia akhirnya memeluk chenle. Mencoba menenangkan chenle yang tengah diambang putus asa.
"Sstt, tenang dulu..." bisik Jisung sambil mengusap lembut punggung Chenle, membiarkan tubuh saudaranya itu bersandar erat di pelukannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
rise again✓
أدب المراهقينgo to the past season 2??? Yess. Cerita ini tentang jisung bersama Chenle yang berusaha membangkitkan nama keluarga jung kembali.
