Sudah beberapa hari Yejun mulai bersekolah. Dalam beberapa hari itu pula, Chenle berkali-kali mengingkari janjinya. Janji untuk mengantar maupun janji untuk menjemput. Semuanya terlewat begitu saja, tenggelam oleh kesibukan yang tak memberi jeda.
Awalnya Yejun tidak mempermasalahkan hal itu. Ia berusaha mengerti seperti yang selalu diajarkan bunanya bahwa bunanya sedang sibuk dengan proyek besar yang menuntut banyak waktu dan tenaga.
Tapi yang paling membuat Yejun sedih bukan soal sekolah, bukan pula soal dijemput atau tidak.
Melainkan, Ia hanya rindu.
Rindu pada bunanya.
Beberapa hari terakhir, Chenle selalu pergi saat pagi masih terlalu dini dan kembali ketika malam sudah terlalu larut. Waktu mereka tak lagi saling bersinggungan. Tak ada obrolan kecil sebelum tidur, tak ada cerita-cerita yang biasa Yejun bagi dengan mata berbinar. Dan yang paling sedih, tak ada waktu untuk menjenguk sang ayah.
Yejun tentu rindu, baik dengan Chenle maupun Jisung.
Ia sempat bercerita tentang hari pertamanya di sekolah kepada Jisung, saat ia diantar dan dijemput oleh Jaemin serta Haechan. Ia bercerita dengan antusias seperti biasanya, tentang teman-teman barunya, tentang mainan di kelas, tentang hal-hal kecil yang baginya terasa besar.
Semua itu menyenangkan.
Yejun tertawa, Jaemin dan Haechan ikut tersenyum.
Namun tetap saja, ada ruang kosong yang tak bisa terisi.
Ruang yang seharusnya diisi oleh bunanya yang mendengarkan dengan penuh perhatian, dan ayahnya yang terbaring diam namun selalu ada.
Yejun rindu itu.
"Juniee, ayo tidur"
Hari sudah benar-benar malam. Yejun masih berada di ruang tamu dengan televisi yang menyala pelan, sementara pensil-pensil warna bertebaran di sekelilingnya. Ia tampak sangat fokus, jemarinya sibuk memberi warna pada gambar yang ia buat dengan penuh keseriusan.
Yejun menoleh ke arah sumber suara. Jaemin terlihat berjalan mendekat sambil membawa segelas susu hangat.
"Nanti yaa mummaa???" Dengan mata memelas seperti anjing yang meminta makan itu, bagaimana Jaemin bisa menolak?
Jaemin mau tak mau akhirnya luluh, dia menghela napas kecil, lalu tersenyum pasrah dan duduk di samping Yejun. Sebelum Jaemin duduk, dia meletakkan gelas susu itu terlebih dahulu di meja kecil di dekat mereka.
"Wahh, kamu buat apa?" Tanya Jaemin penasaran.
"Mummaa, noo!!!! Mummaa nda bolehh liat duluu" Yejun bergegas menutupi hasil karyanya.
Karyanya itu belum selesai!! Tidak ada yang bolehh melihat karyanya yang belum selesai!!
Jaemin terkekeh pelan. Dia tidak memaksa, melainkan hanya mengangguk kecil, lalu bersandar di sofa, membiarkan Yejun kembali tenggelam dalam dunianya sendiri.
"Yaudah, tapi susu nya diminum ya? Mumma duduk disini sama kamu" Ujarnya lembut.
Yejun mengangguk semangat. Ia meraih gelas susunya, menyesapnya sedikit demi sedikit, lalu meletakkannya kembali sebelum mengambil pensil warna.
Tangannya kembali bergerak, penuh rasa antusias menyelesaikan hasil karyanya itu.
Hening.
Tak ada lagi suara percakapan di antara Yejun dan Jaemin. Keduanya sama-sama tenggelam dalam kesibukan masing-masing.
Yejun dengan dunia kecilnya di atas kertas, sementara Jaemin menatap layar televisi yang memberitakan hal hal penting yang terjadi saat ini.
Mansion sebesar itu terasa sekali sunyinya. Ruangan luas yang dulunya hangat oleh suara langkah dan tawa kini hanya diisi oleh suara televisi yang mengalun pelan.
KAMU SEDANG MEMBACA
rise again✓
Fiksi Remajago to the past season 2??? Yess. Cerita ini tentang jisung bersama Chenle yang berusaha membangkitkan nama keluarga jung kembali.
