"J-Jangan! Jangan ngedeket! Jangan ngedeket!!" pekik Chenle, suaranya bergetar penuh ketakutan.
Tubuh chenle benar benar panas sekali, nafasnya tak beraturan dan wajahnya memerah akibat rasa panas itu.
Tawa tiga orang pria itu menggema, memenuhi ruangan yang seperti kamar hotel. Mereka bergerak, perlahan tapi pasti, memojokkan tubuhnya ke sudut tanpa celah untuk melarikan diri.
"Cantik," ucap salah satu dari mereka dengan nada melecehkan, tangannya terulur menyentuh dagu Chenle. Sentuhannya dingin, seperti ular yang melilit mangsanya.
Chenle tersentak, tangannya menepis kasar tangan itu. Matanya bersinar tajam meski diselimuti ketakutan yang nyata. Tubuhnya gemetar hebat, tapi ia menolak tunduk.
"Lepasin gw!" teriaknya. Suaranya serak, tapi tekad di baliknya tegas dan tak tergoyahkan.
Chenle semakin merasakan panas yang menjalar di seluruh tubuhnya, semakin lama semakin tak tertahankan. Rasa asing itu membakar sarafnya, membuat tubuhnya terasa lemah tetapi pikirannya masih berjuang melawan.
Ketiga pria itu mendekat semakin agresif, tawa mereka penuh ejekan. Salah satu dari mereka menarik dagu Chenle ke atas, memaksa wajahnya menatap mereka.
"Nggak usah ngelawan, Sayang. Sebentar lagi kamu pasti suka," ujar pria itu dengan nada mengejek, tangannya mulai bergerak ke arah bahu Chenle.
Chenle menggigit bibirnya keras-keras, mencoba melawan efek obat yang menguasai tubuhnya. Air mata menggenang di matanya, tapi ia tak ingin menyerah begitu saja.
"Brengsek, dasar pengecut!! Lepasin gw, anjing!!" teriaknya, meski suaranya mulai lemah. Tangannya yang gemetar mencoba menepis tangan pria itu, tetapi kekuatannya terlalu lemah untuk membuat perbedaan.
Pria yang lain tertawa kecil. "Lihat dia, masih bisa teriak. Obatnya kurang dosis, mungkin?" katanya sambil mendekat lebih dekat.
Chenle panik. Ia mencoba mendorong, tapi tubuhnya terasa lemas, seolah tak ada tenaga yang tersisa. Namun, di dalam pikirannya ia terus berteriak, mencari cara untuk menyelamatkan diri.
Orang itu akhirnya mendorong tubuh chenle yang panas dan sensitif ke arah ranjang tempat tidur hotel.
"Nghh... " Chenle berusaha keras, dia berusaha keras menahan tangan tangan itu yang ingin membuka pakaian nya satu persatu.
"Ayolah sayang...." Salah satu berkata dengan nada menggoda chenle.
Sekuat apapun chenle berusaha menghalangi ketiga untuk membuka pakaian, chenle tetap tidak bisa. Tangannya benar benar lemas, dan ketiga orang itu bergerak semakin cepat melepaskan pakaian dengan tenaga yang tentu saja kuat.
"g-gw, gw mohon jangan hiks...."
"Gw, gw nggak mau, gw nggak mau!! Hiks, gw nggak mau!!!"
"Woww, ternyata nggak cuma wajahnya yang cantik tapi tubuhnya juga cantik" Ketiga tertawa dengan bahagianya melihat chenle menangis memegangi tubuhnya yang sekarang sudah telanjang bulat.
"Nggak nyangka gw bisa ngerasain tubuh secantik ini" Ujar salah satu orang dengan senangnya.
"Kalian harus terima kasih sama nyonya karina, berkat nyonya karina kita bisa ngerasain tubuh ini" Ungkapan yang lainnya membuat teman temannya mengangguk antusias.
Chenle diam diam mengepalkan tangannya erat menatap benci tiga orang itu, sial sekali tubuhnya lemas dan panas. Jika dia tidak dalam keadaan seperti sudah dipastikan tiga orang itu tidak bernyawa lagi.
"Ngghh... J-jie, jie. Jie tolong hiks" Gumam chenle pelan penuh harap meneteskan air matanya untuk sekian kalinya.
Dia benar berharap pada sepupunya sekarang.
KAMU SEDANG MEMBACA
rise again✓
Fiksi Remajago to the past season 2??? Yess. Cerita ini tentang jisung bersama Chenle yang berusaha membangkitkan nama keluarga jung kembali.
