ketigapuluhdua

1.9K 162 28
                                        

Jaehyun dan Taeyong kebingungan dengan apa yang terjadi, mereka terkejut sejenak didepan pintu. Namun itu hanya sesaat, karena keduanya akhirnya memutuskan membawa Chenle dan Renjun masuk kedalam. Mereka berdua juga tak lupa mengabari anak anak serta menantu mereka.

Awalnya anak anak serta menantu mereka menolak karena kesibukan mereka. Tapi setelah dibujuk bujuk lebih keras lagi, akhirnya mereka semua mau.

Kini selagi menunggu kedatangan anak anak serta menantu mereka, jaehyun dan Taeyong mencoba untuk mencairkan suasana dengan bertanya beberapa pertanyaan kepada Chenle dan Renjun.

"Eumm, bagaimana keadaan di dunia kalian? " Tanya Taeyong lembut berusaha mencairkan suasana yang cukup canggung ini.

Renjun dan Chenle saling menoleh sejenak seolah mereka berdua sedang bertelepati mengunakan tatapan mata. Cukup lama hingga akhir Renjun menghela nafas panjang.

"Buruk" Satu kata dapat menggambarkan semua, terlebih lagi ekspresi dari Renjun yang serius.

"Maksudmu buruk bagaimana?" Taeyong dan Jaehyun masih tampak tak paham, mereka tau arti kaya buruk tapi mereka belum mengerti seburuk apa kondisi disana.

"Kita mau jelasin semua ke Bubu dan Grenpa, tapi lebih baik kita tunggu yang lainnya dulu. Kita benar-benar nggak punya banyak waktu, jadi tolong tunggu sebentar" Ucap Chenle, jika mereka menjelaskan sekarang maka mereka harus menjelaskan ulang ketika semua sampai, dan itu pasti akan memakan waktu yang lama.

Jaehyun dan Taeyong saling bertukar pandang. Ada kekhawatiran yang sama-sama mereka rasakan, tetapi keduanya memilih untuk menahan pertanyaan lebih jauh.

Suasana ruang tamu kembali sunyi. Hanya terdengar detik jam dinding yang berjalan pelan, seakan-akan waktu ikut menahan napas.

Renjun duduk sedikit lebih tegak, kedua tangannya saling meremas seolah ia sedang menahan sesuatu. Chenle terlihat lebih gelisah. kakinya mengetuk lantai ringan, tangannya senantiasa mengelus perut buncitnya.

Beberapa menit kemudian, suara deru mobil terdengar dari halaman depan. Disusul pintu mobil yang tertutup terburu-buru dan langkah-langkah cepat mendekat ke mansion.

Taeyong melirik ke arah pintu, "kayaknya mereka udah sampai"

Benar saja. pintu terbuka tanpa mengetuk, memperlihatkan beberapa wajah yang tampak terengah, bingung, dan penuh tanda tanya.

"Mom? Dad? Ada apa? Kenapa manggil kita mendadak gini?" suara tidak asing dengan nada cemasnya tidak bisa disembunyikan.

Renjun dan Chenle seketika menoleh ke arah mereka.

"Kalian??" Haechan terkejut. Matanya membesar saat mengenali dua sosok yang tidak asing sama sekali.

"Syukur lah kalian sudah sampai, cepat kesini. ada suatu hal yang ingin mereka sampaikan" Perintah Taeyong karena tak ingin membuang waktu lebih lama lagi.

Keempatnya segera berjalan mendekat ke ruang tamu dan duduk di sofa yang masih kosong. Awalnya mereka tampak biasa saja, meski sedikit bingung dengan suasana yang terasa lebih tegang daripada biasanya.

Namun itu berubah seketika.

Tanpa sengaja, pandangan mereka jatuh pada perut Chenle yang tampak membuncit jelas di balik pakaiannya. Tatapan mereka membeku. Haechan yang duduk paling dekat bahkan sempat kehilangan kata-kata, sementara Mark menegakkan punggungnya secara refleks, wajahnya menunjukkan keterkejutan yang sulit disamarkan.

Pertanyaan muncul begitu saja di benak masing-masing, namun tidak ada yang langsung berani mengucapkannya.

“Ada apa sebenarnya?” tanya Mark, kali ini dengan suara lebih pelan, matanya masih memandang perut sang anak yang membuncit dengan tatapan penuh kebingungan dan keterkejutan.

rise again✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang