keduapuluhempat

1.5K 99 5
                                        

Haechan masih linglung, sejak di pemakaman tadi tak ada tangisan yang keluar. Tak ada pertanyaan yang tercipta hanya keheningan yang menyiksa keduanya.

Konon, orang yang tak menangis saat kehilangan justru adalah mereka yang paling hancur. Yang kehilangan paling dalam. begitu dalam hingga tangisan pun tak bisa keluar. Yang tubuhnya hadir, tapi jiwanya belum sanggup menerima apa yang sebenarnya telah terjadi.

Dan itu sekarang terjadi pada Haechan, daddynya adalah salah satu orang yang paling ia sayangi. Ketika mendengar atau bahkan melihat sendiri bagaimana nama sang daddy sudah berada di batu nisan pikiran Haechan seketika kosong. Dia tak sanggup untuk menangis, dia tak sanggup untuk kehilangan.

Yang Haechan pikirkan sekarang hanya satu, apakah ia akan bangun dari mimpi buruk itu?

"Chan!! " Pekik Maenya untuk sekian kalinya seolah berusaha menembus kabut di mata Haechan yang kosong.

Haechan menoleh dengan linglung, pikirannya masih belum menerima ini semua menjadikan dia orang yang berbeda sekali.

"Mae mohon, mae mohon kamu jangan begini. Kamu boleh nangis, Kamu boleh marah. Kamu boleh berteriak sekeras yang kamu mau, Tapi jangan begini Chan. jangan diam begini.” Ten mengenggam kedua tangan Haechan dengan erat, seolah ingin mengembalikan jiwanya yang sedang terombang-ambing jauh entah ke mana.

“Mae kehilangan suami Mae, dan kamu kehilangan Daddy kamu. Tapi kamu masih punya Mae, Chan. Masih punya Mae” suara itu nyaris pecah.

Haechan menatap Ten. Matanya berkedip sekali, dua kali seolah berusaha mencerna semua ini.

Kring... Kring.... Kringg

Suara telepon runah berbunyi, Ten menoleh.  Dengan perlahan ia meletakkan tangan haechan mulai melangkah ke arah telepon itu.

"Hallo? "

"Hai Mae, ini lele" Ternyata orang yang menelpon itu adalah cucunya sendiri.

"Ahhh lele, bagaimana kabarmu? kamu baik baik saja kan sayang? " Kali ini nada yang digunakan sangat lembut, berusaha untuk menyembunyikan kesedihan yang sedang mereka alami.

"Hu'um, lele baik baik aja mae. Lele telepon mae cuma mau tanya, mae tau mommy dimana? Lele udah cari mommy sejak kemarin tapi lele ngga nemuin mommy. Ponsel mommy juga ngga aktif, lele jadi khawatir sama mommy"

Ten menoleh sejenak ke arah Haechan, tampaknya sang anak belum memberitahu cucunya bahwa dia pulang kesini dan grenpa nya sudah meninggalkan mereka untuk selamanya.

"M-mommy, mommy kamu pulang kesini sayang. Dia sekarang bersama mae, kamu jangan khawatir ya? " Ten tidak ingin membuat cucunya khawatir.

"Syukurlah mommy bersama mae, tapi mommy kenapa ngga ngasih tau lele, mae? Mommy marah sama lele?"

"Nggak!! Dia nggak marah sayang, dia. Dia hanya sedang rindu saja dengan kami" Maaf, Ten benar benar minta maaf untuk sekarang kepada chenle. Dia terpaksa berbohong karena kondisi Haechan belum sepenuhnya menerima kematian daddy nya. Jika cucunya mengetahuinya juga, bukankah akan semakin hancur?

"Benarkah?? Jangan berbohong kepada lele!! Kemarin bunda pergi diam diam dan ternyata Grenpa dan mumma meninggalkan kita semua–"

"APA?? YUTA DAN WINWIN PERGI?? " Pekik Ten tak dapat menahan keterkejutannya.

Haechan yang mendengar Ten berteriak tersadar dari lamunannya, dia terkejut bukan main. Dengan rasa yang cemas dan terkejut itu dia berlari ke arah Ten dan merebut ponsel itu.

Ten terkejut karena ponselnya direbut tiba tiba oleh haechan, tapi ia tidak marah. Dia syok bukan main.

"Apa itu benar? " Kata singkat namun penuh harapan keluar dari mulut haechan.

rise again✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang