ketigapuluhempat

1.3K 142 11
                                        

Di sebuah lorong rumah sakit terlihat seorang anak kecil melangkah dengan penuh semangat menyusuri lorong yang panjang dan dingin itu. Sepatu kecilnya bergantian menginjak lantai dengan sangat mengemaskan. Sisi kanan dan kiri, pintu-pintu tertutup rapat, sementara itu aroma obat-obatan samar memenuhi udara.

Di sisinya, sang bunda berjalan sambil menggenggam tangan kecil itu dengan erat agar tidak terjatuh.

"Bunaa, Bunaa!!! junnieee nda caball ketemuu ayahhh, juniiee bawa celitaa banyakkk buatt ayahh" seru sang anak, dengan suara lugu penuh akan semangat.

Sang bunda yang tidak lain adalah Chenle terkekeh geli, putranya ini selalu bersemangat sekali jika bertemu ayahnya. Dia banyak sekali berceloteh, walaupun beberapa kata tampak sulit dipahami tapi si kecil itu masih saja melanjutkan ceritanya sampai ia lelah dan akhirnya berhenti sendiri.

"Ayah capek denger cerita kamu yang nggak nyambung itu" Goda Chenle membuat Yejun cemberut, dia menggembung pipinya kesal. Persis seperti Jisung dulu.

"Ndaa!! Ayahh ndaa capekkk!!" Yejun sudah mulai marah, dia melepaskan tangannya dari genggaman Chenle dan berlari mempercepat langkahnya.

"Heyy!! Tunggu buna!!" Chenle sedikit berteriak dan mulai mengejar si kecil itu, walaupun hampir setengah hidup Yejun berada di rumah sakit sehingga beberapa pasien lama, dokter, perawat, maupun petugas rumah sakit lainnya sangat mengenal Yejun tapi tetap saja jika Yejun berlarian dirumah sakit maka akan menganggu dan berbahaya bagi sekitarnya.

"Ndaaakk!! Bunaa nakall!! Juniee ndak mau cama bunaa, juniee mau cama ayahhhh!!" Si kecil ini sangat gesit sekali, Chenle sampai kelelahan dibuatnya.

Chenle berhenti sejenak, dia mengatur nafasnya. Sepertinya dia harus lebih meluangkan waktu untuk berolahraga.

"Chenle?" Sapa seorang dokter yang tidak sengaja melihat Chenle sehingga ia mendekatinya.

"Ahhh, dokter Choi" Chenle tersenyum, dirinya menjabat tangan dokter itu yang seusia dirinya.

"Lama tidak bertemu, Yejun sedang rewel?"

"Ya begitu lah dok, dia suka seperti itu saat bertemu ayahnya"

Pandangan Chenle kembali tertuju ke ujung lorong, ke arah Yejun yang kini berhenti di depan sebuah pintu, menoleh ke belakang dengan wajah bersalah namun masih menyimpan semangat yang sama.

Dokter Choi hanya tersenyum tipis, dia tau berjalanan Chenle membesarkan Yejun sekaligus menghadapi ini semua. Ada rasa kagum yang tidak perlu diucapkan.

Sudah empat tahun berlalu sejak kejadian yang menimpa mereka. Empat tahun sejak dunia Chenle runtuh dan perlahan dibangun kembali. bukan oleh janji-janji manis, melainkan oleh tangisan, kesedihan, dan kebahagiaan yang datang silih berganti.

Mereka telah melewati banyak hal. Tawa dan air mata menjadi bagian dari perjalanan yang tak terpisahkan, mereka juga belajar banyak hal. Belajar bertahan, belajar menerima, dan belajar hidup berdampingan dengan luka yang tak pernah benar-benar pergi.

Ada tempat-tempat tertentu yang menjadi saksi paling jujur dari semua proses itu.

Yaitu adalah rumah sakit ini.

Ya, Ia adalah saksi.

Saksi awal kehidupan, saksi ketakutan paling dalam, dan saksi bagaimana Chenle belajar bertahan demi seorang anak yang kini berlari di lorong yang sama, membawa cerita-cerita kecil untuk seseorang yang sangat ia rindukan.

"Semakin dia tumbuh, yejun malah semakin mirip dengan ayahnya ya?" Ujar Dokter Choi memandang Yejun sedang mengobrol dengan seorang perawat yang baru saja keluar dari kamar Jisung.

rise again✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang