"Kalau semisalnya ayah ngga bangun lagi, kamu gimana? apa kamu masih sayang ayah?" Chenle mengigit bibirnya, menanti jawaban dari si kecil itu dengan hati yang hancur.
"Juniee marah, tapi Juniee akan tetap cayang ayah. Soalna ayah jie itu ayahnya Juniee. Ayah yang juniee cayangg" Kalimat itu sederhana, Tapi cukup untuk membuat Chenle runtuh sepenuhnya.
Chenle langsung menarik Yejun ke dalam pelukannya, memeluk erat tubuh kecil itu sampai bahunya bergetar. Tangis yang tadi ia tahan akhirnya pecah, sunyi namun menyakitkan.
Di sisi lain, Jaemin berbalik sedikit. Ia menutup wajahnya dengan tangan, membiarkan air mata jatuh tanpa suara. Ia tak ingin Yejun melihat. Tak ingin kesedihan itu bertambah berat di pundak kecil cucunya.
Di lorong rumah sakit itu, tak ada lagi kata-kata. Hanya pelukan, tangis yang ditahan, dan cinta kecil yang terlalu tulus untuk dunia yang sekejam ini.
Detik berlalu, menit berlalu dan jam berlalu. Mereka menunggu didepan ruang ICU cukup lama, sebenarnya Jaemin ingin membawa Yejun pulang terlebih dahulu. Tapi si kecil ini bersikeras menolak. Dia ingin disini bersama bunanya. Jaemin pun tak bisa memaksa, dia akhirnya pasrah dan ikut menunggu. Tidak lama kemudian, sesuatu yang sejak tadi mereka tunggu tunggu akhirnya terbuka.
Pintu ICU itu terbuka.
Ya, terbuka!!
Seorang dokter keluar, diikuti beberapa perawat. Sebagian perawat segera berlalu, sementara satu perawat berhenti di samping sang dokter, bersiap mendampinginya menemui keluarga pasien.
Jaemin, Chenle, dan Yejun refleks berdiri. Mereka mendekat dengan tergesa, jantung berdegup keras, rasa takut dan cemas bercampur jadi satu.
"B-bagaimana? Bagaimana keadaan suami saya?" Tanya Chenle dengan suara bergetar.
"Kondisi yang baru saja terjadi sangat berbahaya. Jantungnya sempat berhenti, disertai kejang hebat. Namun, berkat penanganan yang cepat, pasien berhasil melewati fase paling kritis. Dan untuk pertama kalinya dalam empat tahun, otaknya memberikan respons. Aktivitas saraf yang sebelumnya tidak ada kini juga mulai muncul kembali" Dokter itu berhenti sejenak, menatap wajah yang tegang itu.
"Kami masih harus memantau kondisinya dengan sangat ketat selama dua puluh empat jam ke depan. tapi kami dapat menyatakan bahwa pasien telah keluar dari kondisi koma" Lanjut dokter itu tersenyum tipis.
Sunyi kembali turun di antara mereka.
Chenle menatap dokter itu tanpa berkedip, seakan menunggu kalimat lanjutan yang mungkin menyatakan semua ini hanya kesalahan. Tangannya gemetar, dadanya naik turun tak beraturan.
"Ini benaran kan dok? Dokter ngga lagi bercanda kan? Dokter, dokter ngga bohongkan?? " suaranya serak, hampir tak terdengar.
Chenle takut berharap. Takut jika harapan ini akan runtuh lagi seperti sebelumnya.
Jaemin pun tak kalah terdiam. Wajahnya pucat, matanya berkaca-kaca. Empat tahun terlalu lama untuk sekadar percaya pada satu kemungkinan kecil.
Dokter itu menggeleng, "tidak, saya tidak berbohong. Pasien berhasil melewati masa kritis nya. Secara medis, itu sudah berada di luar perkiraan kami. Namun, ini ada keajaiban yang luar bisa mengingat angka bertahan hidupnya sangat kecil"
Ia menarik napas sejenak, sorot matanya merendah. "Jadi, saya minta maaf. Maaf karena sebelumnya kami harus mematahkan harapan anda dan terima kasih. Terimakasih karena Anda semua tidak menyerah untuk tetap menunggu, meski berkali-kali harus siap kehilangan"
"Untuk sementara, itu dulu yang bisa saya jelaskan. Jika ada perkembangan, kami akan segera memberi tahu keluarga. Saya pamit terlebih dahulu" Dokter itu kemudian pergi bersama perawat nya meninggalkan Jaemin, Chenle dan Yejun yang mematung.
KAMU SEDANG MEMBACA
rise again✓
Novela Juvenilgo to the past season 2??? Yess. Cerita ini tentang jisung bersama Chenle yang berusaha membangkitkan nama keluarga jung kembali.
