keduapuluhsembilan

1.9K 146 30
                                        

Karina terhuyung mundur, tubuhnya gemetar. "Nggak, itu bukan gw. itu bukan gw!!" teriaknya dengan suara gemeter, matanya menoleh kearah sekitar penuh kepanikan.

Pria itu hanya menggeleng pelan. “sayang, kamu seharusnya bisa bahagia. Lihat, di sini kita punya anak, kita bisa ngebangun keluarga kecil kita sendiri. Tapi kenapa kamu harus milih jalan yang bikin semua orang menderita?”

Karina menutup telinganya rapat, air matanya jatuh deras. Ia seperti anak kecil yang ketakutan. "Diem!! Lo semua mau ngehancurin gw!! Kalian, Kalian bukan kenyataan!!!"

Anak kecil itu merasa sedih melihat mama yang ia sayangi menjadi seperti itu, ia melihat karina lain yang menjadi ibunya dengan tatapan memohon.

"Mama, aku mau tulun" Ujarnya dengan nada berharap dan tatapan yang tak bisa karina dari dunia lain tolak.

Karina dari dunia lain menatap suaminya cemas, seolah menandakan ia takut jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan kepada putranya.

"Nggak papa, turunin aja. Aku selalu ngejaga dia" Ucapnya lembut membuat karina dari dunia lain sedikit tenang.

Karina dari dunia lain akhirnya menurunkan sang anak.

Anaknya yang baru berusia tiga tahun melangkah dengan perlahan, ia melangkah ke arah karina dengan tatapan polos dan penuh percaya diri bahwa mamanya dari dunia lain tidak akan pernah menyakitinya.

Ketika sampai didepan karina, anaknya itu bergegas memeluk karina yang terdiam sempurna.

Ruangan itu benar benar hening, dalam hati mereka. Mereka takut jika karina berbuat hal yang nekat kepada anaknya sendiri dari dunia lain.

"Mama kenapa, kok nangis?? Mama banyak dalahnya. Mama cakit ya?? Mama jangan nangis, aku dicini. Aku peluk mamaa" Ucap anak itu dengan lugu. Dia tak terganggu dengan bau darah yang menusuk hidungnya atau darah yang mengenai tubuh serta pakaiannya.

Yang ia khawatirkan hanyalah mamanya.

Pelukan kecil itu, perkataan yang polos penuh kekhawatiran itu membuat tubuh Karina kaku.

Ia tidak bergerak, tapi tidak juga menolak.

Hanya tatapannya yang kosong, seakan seluruh dinding pertahanannya runtuh dalam sekejap.

"L-lo, lo nggak takut gw? " Gumam lirih karina kepada anak yang memeluknya itu.

"Kenapa aku halus takut? Mama itu olang baik, cangatttt baikkk. Aku cayangg mamaaa, mamaa jangan cakit yaa?? Kalau mama cakit, aku cedihhh" Jawabnya tersenyum dengan sangat manis, tak ada rasa takut disana. Hanya tatapan penuh kasih sayang dan rasa polos yang karina rasakan.

Kedua orang tua anak itu menatap anaknya dengan tatapan tak bisa dijelaskan. Memang ya, darah yang mengalir ditubuhnya itu tak bisa dibohongi.

Mau se berubah apapun penampilan, sifat, karakter, hingga takdir kehidupannya. Yang namanya anak pasti akan mengenali orang tuanya. Ia akan merasa bahwa orang tuanya tidak akan pernah menyakiti nya walaupun semua orang memandang orang tuanya bagaikan monster.

Karina membeku. Kata-kata polos itu menembus jauh ke dalam hatinya, lebih tajam dari pisau manapun.

Tangannya yang semula gemetar perlahan terangkat, seakan ingin menyentuh wajah mungil yang menempel di dadanya. Tapi sebelum sempat, ia menarik kembali tangannya karena merasa kotor.

"Jangan, jangan peluk gw. nanti lo juga kotor kayak gw" suaranya parau, penuh rasa malu.

Namun anak itu hanya menggeleng kuat, pelukannya justru semakin erat. "Nggak mauu!! Nanti kita belcihin cama cama ya yang kotor?? Mama itu cangat cantikkk. Cantikkk cekali, jadi jangan nangis ya??"

rise again✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang