Setelah Jisung dan Chenle menghadapi kemarahan Jaemin dan Haechan, keduanya akhirnya bisa beristirahat.
Kali ini, Jaemin dan Haechan mengampuni mereka, tetapi jika mereka berbuat hal yang membahayakan lagi, keduanya tidak akan segan memberikan hukuman berat.
Malam semakin larut. Udara dingin menusuk hingga ke tulang, sementara langit gelap tanpa bintang, seolah menyembunyikan sesuatu di balik pekatnya.
Seorang pria berjalan menyusuri trotoar dengan langkah santai. Jaket hitam membalut tubuh tegapnya, menyamarkan dirinya di antara bayangan kota yang redup.
Di depannya, sebuah bangunan berdiri dengan papan nama neon merah yang berkilau samar. Dari luar, tempat itu tampak sepi, tetapi suara dentuman bass terdengar samar, membuktikan bahwa kehidupan tengah berpesta di balik pintunya.
Tanpa ragu, pria itu melangkah ke pintu masuk. Dua penjaga bertubuh besar menghentikannya, menatapnya penuh selidik.
Tanpa sepatah kata, ia mengeluarkan kartu identitas dari saku jaketnya dan menyodorkannya.
Salah satu penjaga memeriksa kartu itu di bawah cahaya lampu temaram sebelum akhirnya mengangguk dan memberi jalan.
Pria itu masuk.
Suasana di dalam jauh berbeda dari luar. Lampu warna-warni berputar liar, musik menghentak keras, dan suara tawa bercampur dentingan gelas memenuhi udara.
Orang-orang berpakaian mahal menari tanpa beban, mabuk dalam euforia malam yang seakan tak berujung.
Tetapi pria itu tidak peduli.
Ia melangkah lurus, melewati kerumunan, matanya hanya tertuju pada satu titik di tengah ruangan.
Di sana, duduk seorang wanita paruh baya yang kecantikannya seperti tak termakan usia sedang di atas sofa beludru merah. Ia dikelilingi pria-pria bersetelan mahal yang tampak mengaguminya, sementara segelas anggur merah berputar di tangannya.
Wajahnya cantik, tetapi ada sesuatu di balik sorot matanya. sesuatu yang licik dan berbahaya.
Pria itu tak berhenti.
Saat jaraknya hanya tinggal beberapa langkah, tangannya bergerak cepat.
Klik!
Sebuah pistol muncul dari balik jaketnya, ujungnya terarah lurus ke kepala wanita itu.
Seketika, dunia berhenti.
Musik yang menggelegar langsung terhenti. Semua percakapan mendadak lenyap. Para tamu yang sebelumnya tertawa kini membeku di tempat, beberapa mundur dengan wajah tegang.
Dalam hitungan detik, pria-pria berbadan kekar yang sebelumnya mengelilingi wanita itu bereaksi. Mereka mengangkat senjata masing-masing. ada yang menarik pistol, ada yang menggenggam pisau lipat berkilau di bawah lampu merah.
Tetapi pria itu tak bergeming. Jemarinya tetap kokoh di pelatuk, matanya tajam, penuh amarah yang nyaris tak terbendung.
"Jangan ganggu keluarga gw!!" Suaranya berat, menggema di ruangan yang kini sunyi.
Wanita itu diam sejenak. Alih-alih panik, ia justru mendongak perlahan, bibirnya melengkung dalam senyum yang hampir seperti ejekan.
Lalu, dengan nada rendah namun penuh keangkuhan, ia berbicara,
"Tapi anak lo menarik, Jaemin."
Cengkeraman pistol pada orang yang tidak lain adalah jaemin semakin erat. Rahangnya mengeras. Dadanya naik turun menahan amarah yang membakar.
"Bangsat!"
Wanita yang masih terlihat awet muda itu tertawa kecil.
"Ternyata anak sama ayahnya sama aja. Sama-sama bikin gw tertarik."
KAMU SEDANG MEMBACA
rise again✓
Teen Fictiongo to the past season 2??? Yess. Cerita ini tentang jisung bersama Chenle yang berusaha membangkitkan nama keluarga jung kembali.
