keduapuluhsatu

1.6K 120 6
                                        

Permintaan Jisung akhirnya dituruti oleh Chenle. Sejak hari itu, Chenle mulai bekerja dari rumah. Ia tetap menjalankan tugasnya memeriksa latar belakang para investor, tapi tidak lagi pergi ke kantor.

Ketika Haechan dan Jaemin bertanya kenapa Chenle bekerja di rumah. Keduanya hanya membalas jika ini adalah teknik untuk memanipulasi orang orang karina.

Keduanya awalnya ragu, sangat jelas sekali jika jisung dan chenle berkata seperti itu pasti karina sudah mulai bergerak untuk menyusun rencana agar perusahaan milik keduanya hancur. Tapi jisung dan chenle meyakinkan keduanya jika semua ini baik baik saja.

Mereka tidak ingin jika keduanya khawatir.

Haechan dan Jaemin akhirnya hanya bisa diam tak bertanya lebih jauh lagi.

Dan sekarang, keduanya sedang berada dikamar chenle.

Jisung berdiri di belakang Chenle sembari membaca laporan sementara Chenle duduk di depan laptopnya dengan headset terpasang dan beberapa snack yang tadi diberikan oleh jisung berada di sebelahnya.

“Lo liat ini, Jie?” tanya Chenle, menunjuk satu dokumen hasil sadapan digital.

Jisung menyipitkan mata, membaca cepat.

"Ada yang ngeganjel dari data data ini" Ujar chenle menatap jisung serius.

"Gw nyari tau lebih dalem lagi, tapi sayang ada sistem yang ngeblokir perangkat gw" Lanjut Chenle sambil tangannya mulai mengambil snack yang ada disebelahnya.

"Firewall? " Firewall adalah sistem keamanan jaringan yang bertugas memantau dan mengontrol lalu lintas data yang masuk dan keluar dari jaringan atau perangkat.

"Bukan cuma firewall biasa," jawab Chenle cepat. "Ini jenis sistem proteksi yang biasanya dipakai buat nyembunyiin jejak transaksi. Dan parahnya lagi alamat IP-nya nyambung ke anak perusahaan Karina."

Jisung duduk pinggir ranjang lalu mengacak rambutnya dengan sedikit frustasi.

Ternyata karina benar benar memulai ini dengan sangat berpengalaman.

Chenle sendiri diam, dia menatap jisung polos sembari memakan snacknya.

Keduanya hening sejenak, jisung yang sedang berusaha untuk memecahkan masalah ini  sementara chenle asyik menghabiskan snacknya.

Satu menit.

Dua menit..

Tiga menit..

Empat menit.

Ketika hampir memasuki waktu yang kelima menit, tiba tiba ponsel chenle berbunyi.

Keduanya saling menatap sebelum akhirnya chenle meletakkan snacknya dan mengambil ponselnya lalu membukanya.

DEG

Chenle membeku.

'Berhenti ikut campur, atau anakmu akan jadi tumbal selanjutnya'

Pesan dari nomor yang tak dikenal berhasil membuat tangan chenle bergetar.

"Apa le?? " Tanya jisung penasaran sekaligus khawatir dengan ekspresi yang dibuat chenle.

Chenle masih terpaku, Matanya menatap layar tanpa berkedip, seakan tak percaya dengan pesan yang baru saja muncul.

Jisung yang khawatir langsung berdiri dari tempat duduknya lalu melangkah cepat ke arah Chenle. Ia merebut ponsel itu dengan lembut, matanya kemudian menyapu pesan yang tertulis di sana.

Mimik wajahnya berubah.

Rahangnya mengeras.

'Berhenti ikut campur, atau anakmu akan jadi tumbal selanjutnya.'

rise again✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang