“Chenle? Renjun??” suara Jaemin tak habis pikir dengan keduanya yang datang menyusul mereka.
"Bunda... "
"Na... "
"Kalian kenapa kesini?? " Perasaan khawatir semakin menyelimuti Jaemin. Apalagi Jaemin yang melihat perut Chenle, sangat terlihat jelas sekali.
Jisung yang mendengar nama Chenle disebut oleh bundanya seketika melebarkan matanya terkejut bukan. Meski tubuhnya nyaris lumpuh, ia berusaha bersuara.
"N-ngga, ngga. Kenapa lo kesini?" Suaranya serak penuh kesakitan dan rasa khawatir.
Chenle melangkah maju, air matanya jatuh meski ia paksa tersenyum. "gw nggak bisa diem aja, jie. Gw nggak akan biarin lo hadapin semua ini sendirian."
"Cukup, Le! Pergi!!"
"Jie–"
"Gw bilang pergi sekarang juga!! " teriak Jisung dengan sisa tenaganya. Tubuhnya bergetar, bukan karena racun saja tapi juga rasa takut kehilangan orang yang paling berharga.
Chenle terdiam, bibirnya bergetar mendengar teriakan Jisung. Ia ingin mendekat, tapi langkahnya seakan terkunci. Renjun di sampingnya menggenggam lengannya erat, mencoba menahan Chenle agar tidak gegabah.
Karina yang sedari tadi terdiam, kini tersenyum miring. Ia melirik ke arah Chenle, lalu ke Jisung, sebelum akhirnya menatap Jaemin.
"Bagus, gw akan hancurin semua yang lo punya na. Semua"
Rahang Jaemin mengeras, Tangannya mengepal.
"Ngga!! Lo nggak akan bisa ngehancurin bunda!! " Bantah Chenle.
Chenle dan Renjun yang masih di ambang pintu tiba-tiba menoleh ke arah samping, ke arah orang orang yang tadi bersama mereka.
Mereka berdua menepi dari ambang pintu dan mendekat ke arah jaemin. Sementara orang orang itu masuk kedalam ruangan itu.
Karina yang melihat orang orang itu terpaku. Senyum miringnya menghilang, berganti dengan raut wajah terkejut yang jarang sekali terlihat. Tangannya yang masih memegang pistol bergetar pelan, seolah kehilangan kendali.
"I-ini, ini nggak mungkin…”
Jaemin menoleh ke arah orang itu, matanya membesar ketika sosok terakhir keluar dari balik bayangan. Seluruh tubuhnya gemetar, suaranya tercekat, air matanya jatuh begitu saja.
“Je… Jeno…?” gumamnya lirih, tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Orang orang tidak lain adalah Jaehyun, Taeyong, Mark dan juga Jeno. Mereka tampak lebih muda, dengan tatapan tajam sekaligus benci menatap Karina.
"N-nggak!! Nggakk!! Ini bukan kalian!! INI BUKAN KALIAN!! " teriak Karina dengan perasaan yang tak karuan.
"Karina" Panggil pelan Jeno. Tak ada nada benci dalam panggilan itu, yang ada malahan nada kasihan melihat orang yang ia sayangi dulu menjadi seperti ini.
Menjadi orang yang sangat berbeda sekali dimatanya.
"NGGAK!! LO BUKAN JENO!! LO BUKAN JENO!! kalian, kalian pasti nipu gw!!" Karina mundur beberapa langkah. Pikirannya benar benar kacau. Logikanya seperti berkata bahwa orang yang di depannya ini bukan jeno dan keluarga Jung, mereka hanyalah orang yang mirip yang diperintahkan jaemin untuk mengecohnya saja. Tetapi perasaan berkata lain, ia sangat merindukan orang yang di depannya ini.
"Karina, tenang" Jeno berkata lagi, dia masih menggunakan nada lembut sembari berjalan selangkah demi selangkah.
"BERHENTI!! Kalo lo jalan lagi, gw akan–" Karina berhenti berkata, dia menatap pistolnya yang sudah jauh. Jelas sekali tak mungkin ia raih, karina memikirkan hal lain. Pandangannya yang awalnya menatap sekitar kini tertuju pada Jisung yang tak jauh darinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
rise again✓
Fiksi Remajago to the past season 2??? Yess. Cerita ini tentang jisung bersama Chenle yang berusaha membangkitkan nama keluarga jung kembali.
