Suara sirine meraung di sepanjang jalan, memecah keheningan malam yang menegang. Lampu merah dan biru berganti-ganti menerangi wajah pucat Jisung yang terbaring lemah di atas tandu.
Chenle dan Jaemin didalam ambulans tak henti-hentinya memanjatkan doa, mereka berdua berharap keselamatan Jisung.
“Tekan lagi, jantungnya melemah!” seru salah satu petugas medis panik sambil terus memompa dada Jisung, mencoba mengembalikan detak yang mulai hilang.
Jaemin memeluk chenle yang memangis melihat kondisi jisung seperti itu. ia berusaha untuk tetap tegar, tapi kondisi sang anak yang sedang difase antara hidup dan mati membuatnya lemah. Dia tak sanggup melihat para petugas yang memompa jantung jisung.
"Jie bunda, jie.. " Lirih chenle menangis dipelukan jaemin.
"Jie pasti akan selamat sayang, percaya sama bunda" gumam jaemin menguatkan chenle.
Ambulans berhenti mendadak di depan rumah sakit. Pintu belakang terbuka cepat, beberapa perawat sudah menunggu dengan tandu baru.
“Cepat! Bawa ke ruang operasi, pasien sempat henti jantung!”
Jaemin dan Chenle ikut berlari di belakang, langkah mereka tergesa, napas memburu. Sirine rumah sakit menyala bersahutan, lorong terasa panjang dan dingin.
“Jie. tolong bertahan sedikit lagi,” ucap Jaemin pelan, suaranya nyaris tak terdengar di antara suara roda tandu yang berderak keras di lantai.
Para dokter segera membawa Jisung masuk ke ruang operasi, sementara suara pintu logam yang menutup rapat membuat dada Jaemin terasa ikut tertutup. Semua suara di sekitarnya mendadak hilang, hanya degup jantungnya sendiri yang terdengar keras di telinganya.
Chenle berdiri kaku di sampingnya, wajahnya basah oleh air mata. Ia menggenggam tangan Jaemin erat-erat, seolah takut kehilangan pegangan terakhirnya.
"kamu duduk dulu ya? kasian baby" tangan jaemin gemeter saat menyentuh perut chenle. pertama kalinya menyentuh perut keponakannya yang akan berubah menjadi menantunya, sungguh. jaemin tak menduga itu.
Chenle menurut, tapi dia menunduk. wajahnya tertutup kedua tangannya antara menutupi malu dan kesedihannya.
"maaf bunda, maaf" lirih Chenle malu kepada Jaemin karena perbuatannya dengan Jisung sampai menghasilkan si kecil ini.
Jaemin menarik napas dalam-dalam, lalu berlutut di depannya. Ia menggeleng lembut, mencoba tersenyum meski matanya sendiri sudah nyaris pecah karena air mata yang tertahan.
"Jangan minta maaf ya? Sekarang bukan waktunya nyalahin diri sendiri. Fokus ke Jisung dulu. Dia butuh kita"
Chenle hanya mengangguk, tak sanggup bicara lagi.
Lorong rumah sakit terasa panjang dan sepi.
Lampu putih di langit-langit berpendar dingin, memantulkan wajah mereka yang pucat dan kehilangan arah.
Lampu merah di atas pintu operasi masih menyala. satu-satunya tanda bahwa Jisung masih berjuang di dalam sana.
Jaemin menatap cahaya merah itu lama sekali.
Dalam heningnya ia bertanya kepada tuhan.
Kenapa kehidupannya seperti ini?
Kapan dirinya bahagia?
Tuhan mendengarnya, kan? Tapi kalau iya, kenapa rasanya Tuhan terus mengujinya?
Jujur, Jaemin lelah.
Dia telah kehilangan banyak hal dalam hidupnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
rise again✓
Teen Fictiongo to the past season 2??? Yess. Cerita ini tentang jisung bersama Chenle yang berusaha membangkitkan nama keluarga jung kembali.
