keduapuluh

1.6K 110 5
                                        

Pagi hari, sinar matahari hangat menyelinap masuk lewat celah tirai ruang makan. Chenle duduk santai, mengunyah potongan buah sambil membuka halaman berita di ponselnya.

Langkah kaki terdengar menuruni tangga. Jisung muncul dari arah tangga, wajahnya terlihat tidak baik baik saja. Itu membuat alis chenle terangkat

“Pagi,” ucap Jisung pendek, lalu duduk di seberangnya.

Chenle mengangguk pelan. “Lo kenapa?”

“Nggak apa-apa,” sahut Jisung sambil mengambil gelas air dan meneguknya.

Chenle memicingkan mata, tak percaya. “Gue tanya sekali lagi, Jie. Lo kenapa?”

Jisung menoleh ke arah chenle, mereka saling menatap. Begitu dalam tatapan chenle hingga akhirnya jisung menyerah, dia menghela nafas kasar.

"Karina mulai buat ulah"

"Ulah apa?? "

"Tadi pagi, asisten gw ngabarin. Beberapa investor yang udah hampir deal, tiba-tiba batal. Tanpa alasan jelas. Gak ada angin, gak ada hujan, gw curiga. Ini ulahnya karina" Jelas jisung.

Chenle mengangguk angguk mengerti.

"Berarti dia udah mulai serius ya?? " Tanya chenle lugu di angguki jisung.

"Terus, rencana lo selanjutnya apa? "

Jisung menatap kosong ke arah meja, berpikir sejenak. “kita nggak bisa buru-buru. Selagi karina berusaha hancurin perusahaan ini, gw akan nyoba cari bukti kebusukannya"

Chenle menyipitkan mata. “Lo yakin jie?”

Yang chenle takut kan adalah resiko besar yang menghantui jisung. Dia benar benar takut jisung terjadi apa apa karena yang mereka hadapi adalah karina, perempuan gila yang membunuh keluarga mereka dan menghancurkan segalanya.

Jisung menggenggam tangan Chenle yang tergeletak di atas meja, menggenggamnya dengan lembut namun penuh keyakinan. Ia menatap mata Chenle dengan dalam.

“le, gw ngerti lo khawatir,” kata Jisung pelan, suaranya berat namun tegas. “Tapi kita nggak bisa mundur sekarang. Ini bukan cuma soal perusahaan atau uang. Ini soal keluarga kita, soal masa depan. Gw nggak akan biarkan Karina menang lagi”

Chenle menggigit bibirnya, rasa takut dan khawatir ini ada. Tapi rasa untuk membalas apa yang telah terjadi sangat kuat. Ia dengan terpaksa mengangguk pelan.

“Semoga kita bisa, Jie,” jawab Chenle akhirnya, meski masih dengan raut cemas yang jelas terlihat di wajahnya.

Jisung mengangguk, tersenyum tipis. “Kita harus kuat ya?? Untuk kita, dan untuk anak ini,” tambahnya, menatap perut Chenle dengan lembut.

"Semua yang kita lakuin, demi masa depan yang lebih baik." Jisung lalu mengacak rambut Chenle dengan lembut, senyumnya tulus dan penuh akan kasih sayang.

Chenle terpaku sejenak atas perlakuan jisung.

Perasaan ini, perasaan yang asing.

Kenapa hangat??

Kenapa nyaman??

Tidak mungkin kan jika ia mulai jatuh cinta??

Tidak, tidak. Ini tidak mungkin.

Mungkin itu karena bayinya.

Ya mungkin itu karena bayinya!!

Pipi chenle merona.

"Le, lo kenapa?? " Tanya jisung khawatir kepada chenle.

Chenle menggelengkan kepalanya kuat kuat.

Tidak!! Dia tidak boleh baper hanya karena perlakuan seperti itu!!

rise again✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang