Epilog

1.1K 109 12
                                        

Jisung terdiam sepersekian detik, seolah memastikan apa yang baru saja ia dengar.

"I-ini, ini benaran? Kamu mau?"

Chenle mengangguk, kali ini lebih jelas.

Jisung tersenyum lebar. Tangannya gemetar saat ia menyematkan cincin itu ke jari Chenle.

Tepuk tangan dan sorak kecil terdengar di sekitar mereka. Yejun melompat kegirangan, memeluk kaki Jisung sambil tertawa riang.

Chenle menatap cincin di jarinya beberapa detik, lalu mengangkat pandangannya kembali ke arah Jisung. Matanya berkaca-kaca.

Jisung menggendong Yejun ke dalam pelukannya, lalu merangkul Chenle dengan tangan yang lainnya.

Pelukan itu hangat, erat, penuh rasa lega.

"Makasih, makasih. Aku janji, aku akan selalu ada buat kamu. Buat Yejun. Aku bakal belajar, bakal berusaha, dan nggak akan ninggalin kalian lagi" suara Jisung bergetar, nyaris tak terdengar di antara angin dan ombak. Ia menunduk sedikit, keningnya menyentuh pelipis Chenle.

"Hmm, aku pegang janji kamu, jie" Chenle menghembuskan napas pelan, lalu membalas pelukan itu. Tangannya mencengkeram punggung Jisung, seolah memastikan pria itu benar-benar nyata di hadapannya.

Pelukan itu bertahan beberapa detik lebih lama dari yang mereka sadari. Angin pantai membawa aroma laut, seolah menjadi saksi atas janji yang baru saja terucap.

Yejun menyelip di antara mereka, kepalanya bersandar di dada Jisung, tangannya menggenggam baju Chenle.

Jaemin dan Haechan saling pandang dari kejauhan. Tak ada sorak, tak ada kata-kata berlebihan, hanya senyum lega, dan penuh arti. Mereka tahu, ini bukan sekadar lamaran.

Ini adalah akhir dari penantian panjang, dan awal dari sesuatu yang akhirnya menemukan tempatnya.

Di bawah langit cerah, dengan debur ombak yang tak pernah lelah, mereka berdiri sebagai keluarga.

Tidak sempurna.

Tidak tanpa luka.

Namun nyata, dan saling memilih untuk tetap tinggal.

ʕ•ᴥ•ʔ

Setelah acara lamaran itu, mereka akhirnya pulang. Tapi sebelum mereka sampai rumah, mobil itu pergi ke suatu tempat terlebih dahulu.

Tempat yang sangat istimewa sekali bagi mereka.

Tempat itu tidak mewah, tidak juga nyaman.

Tidak menawarkan keindahan, apalagi kemeriahan.

Tempat itu adalah pemakaman.

Ya, sebuah tempat yang selama empat tahun terakhir tak pernah Jisung kunjungi.

Dan kini, akhirnya ia kembali.

Bukan sendirian.

Kali ini berbeda. Ia datang membawa seluruh keluarganya dan belahan jiwanya.

"Haiii glenpaaa" Sapa Yejun bersemangat memasuki makam keluarga itu.

"Hati hati sayang" Ucap Chenle lembut membuat Yejun mengangguk.

Jaemin berjalan pelan ke arah makam suaminya diikuti dengan Jisung dan Chenle. Haechan pun sama, Dia juga melangkah perlahan ke arah makam Mark.

"Hai Jeno" Gumam Jaemin pelan.

"Hari ini, harusnya kamu ada"  gumamnya lirih.

"Putra kita bahagia. Dia melamar orang yang dia cintai." Jaemin tertawa kecil, tapi suaranya patah di tengah.

rise again✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang